Dia Anakku, Bukan Anakmu

Dia Anakku, Bukan Anakmu
Bab 31


__ADS_3

Hari itu aku melihat Andin di kantor tempat ku bekerja yang baru, kebetulan tempat ku yang lama mengadakan pertukaran karyawan dan aku mendapat kan kesempatan itu.


Aku terbang menuju Pekanbaru untuk bekerja di salah satu perusahaan ternama di sana, namun ternyata di sana aku bertemu dengan Andin.


Gadis yang selama ini aku cari aku ingin menebus semua kesalahan ku pada nya, sungguh aku menyesal telah menyia-nyiakan nya dengan anakku.


Mungkin sekarang ia sudah besar di tangan Andin, tetapi meskipun begitu aku tetap lah ayah dari anak itu.


Saat kami dalam satu lift aku mengajak nya berbicara aku ingin tahu sedang apa ia di sini, namun ia tidak menyambut ku dengan sangat baik.


Aku tahu ia pasti masih sangat marah di tambah lagi selama di Jakarta ia selalu dengan Anton, laki-laki yang selama ini membantu nya menghadapi semua masalah yang menimpa nya.


"Andin ..." Sapa ku.


"Hmm ..."


"Aku minta maaf!"


"Ya."


Andin masih bersikap cuek pada ku, bahkan ia juga tidak mau menoleh dan menatap ke arah mata ku.


"Aku menyesal! Aku benar-benar menyesal."


"Ya."


"Dimana anak kita?" Tanya ku pada nya memberanikan diri.


"Anak kita? Apa aku tidak salah mendengar nya?"


"Ya, anak yang kamu kandung waktu itu. Apa dia sudah lahir? Pasti ia sangat cantik atau tampan, dan pasti ia sudah besar sekarang. Aku ingin bertemu dengan anakku."


"Berani sekali kamu bicara seperti itu, Devan! Apa kamu tidak ingat bagaimana kamu mencampakkan kami begitu saja! Apa kamu lupa kamu lah yang menyuruh ku untuk membunuh anak ku sendiri, dimana hati nurani mu itu hah? Lalu sekarang? Kamu dengan wajah yang tidak berdosa bertanya pada ku di mana anak yang ku kandung. Gila kamu Devan." Jawab Andin dengan emosi.


Aku hanya bisa diam melihat ekspresi nya yang di luar ekspektasi ku, aku kira ia tidak akan menggebu-gebu dalam menjawab pertanyaan ku mengenai anak kami. Tapi nyatanya.


"Aku akui aku salah tapi ..."


"Sudah Devan, sebenarnya apa yang kamu mau hah?"


"Aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu, izin kan aku bertemu anak ku."


"Dia sudah mati ..." Jawab nya sedikit berteriak, beruntung di dalam lift ini hanya ada aku dan dia.


Aku merasa ia sedang berbohong pada ku, saat lift terbuka ia langsung keluar dan aku pun mengejar nya. Aku ingin tahu dimana anak ku berada.


Namun, saat bersamaan muncul seorang laki-laki yang merangkul pinggang Andin begitu saja. Aku cemburu melihat hal itu Andin hanya milik ku dan tidak boleh di miliki orang lain.


"Kenapa sayang?" Tanya laki-laki itu.


"Tidak apa mas, ayok kita pergi saja!"


Saat mereka akan pergi aku menghentikan nya, aku tidak ingin kehilangan Andin untuk kedua kali nya.


Mungkin saja laki-laki ini hanya pacar Andin dan aku masih bisa merebut nya kembali.


"Andin tunggu ... Andin aku butuh penjelasan mu dulu, Andin di mana anak ku?" Teriak ku. Yang membuat mereka menghentikan langkah nya.


Andin menoleh ke arah ku dengan tatapan marah.


"Anak ku dimana? Kamu jangan jadi wanita serakah! Dia juga anak ku Andin."


Plakkkk


Andin menampar ku tiba-tiba, aku terkejut saat itu.


"Jaga ucapan mu itu Devan! Anak mu sudah mati, puas?" Ucap nya meninggal kan aku dengan laki-laki tadi.

__ADS_1


Laki-laki yang tadi pun menoleh ke arah ku dan mendekat.


"Kamu anak pertukaran kan? Dari kantor cabang di Jakarta!" Ucap nya.


"Iya kenapa?" Tanya ku emosi.


"Aku peringatkan jangan ganggu Andin lagi."


"Lah memang nya kamu siapa melarang ku? Paling kalian masih pacaran, dengar sini ya! Andin dengan ku itu sudah memiliki anak dan kamu hanya mendapatkan bekas ku saja! Ha ha ha." Ucap ku lagi. Aku sengaja berkata seperti itu karena aku ingin laki-laki ini meninggal kan Andin dan membuat Andin kembali padaku.


"Aku peringatkan lagi, jangan ganggu Andin atau ..."


"Atau apa?"


"Atau kamu, saya pecat!"


"Mana bisa kamu berani memecat saya, yang berhak memecat saya hanya bu Fero atau pak Andre."


"Oh begitu ya?"


"Iya lah, jangan berlaga sok berkuasa di sini. Aku tahu kamu itu pasti sakit hati kan mendengar perkataan ku tadi, jadi sudah lah jangan dekat dengan Andin lagi. Dan buat dia kembali pada ku."


Namun, bukan nya menjawab perkataan ku. Ia malah pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih mematung di tempat.


Aku berjalan menuju kursi kerja ku dan langsung mengerjakan pekerjaan kantor, aku memang di bidang mekanik tetapi aku juga bisa di bidang elektronik seperti sekarang ini.


"Devan, kamu di panggil ke ruangan CEO sekarang!" Ucap Intan.


"Tumben, ada apa?"


"Ya mana ku tahu."


"Ya sudah makasih ya."


Aku langsung berjalan menuju ruangan CEO di perusahaan ini, dan selama aku bekerja satu bulan di sini.


Ini pertama kali nya aku masuk ke ruangan CEO terbesar sekaligus pemilik perusahaan ini dan perusahaan cabang lainnya.


"Masuk ..." Ucap seseorang di dalam sana.


Ceklekkk


Aku melangkah masuk ke dalam dan melihat ...


Deg


Laki-laki tadi kenapa bisa duduk di meja utama? Atau jangan-jangan ...


"Silahkan duduk tuan Devan!" Ucap Kristin yang ku tahu manajer HRD di perusahaan ini.


Atau kepala HRD.


"Terimakasih bu." Aku duduk di kursi yang telah di sediakan.


"Kamu tahu kenapa kamu di panggil ke ruangan ini?"


"Tidak bu, ada apa ya?" Jawab ku.


"Saya mendapatkan laporan yang kurang mengenakkan atas sikap mu yang tidak memiliki attitude yang bagus."


"Maksud nya?"


"Apa kamu mengenal nyonya Andini?"


"Ya saya mengenal nya, ia mantan kekasih saya. Tapi tunggu kenapa Andin di panggil nyonya? Apa dia ..."


"Kenalkan beliau adalah suami dari nyonya Andini, wanita yang kamu permalukan dengan sikap mu tadi di depan lift" Ucap nya menunjukkan laki-laki tadi.

__ADS_1


"Apa?"


"Tadi kata mu, aku tidak Isa memecat mu karena aku bukan siapa-siapa, bukan?" Ucap laki-laki itu.


"Ma ... Maaf kan saya pak, saya tidak tahu."


"Sudah lah, mulai besok kamu pindah ke bagian lapangan."


"Apa?"


"Ya."


"Tapi kenapa?"


"Tanya kan pada diri mu, masih untung aku memindah kan mu saja dan bukan memulangkan mu ke kantor cabang milik ku."


"Apa? Jadi ..." Aku benar-benar terkejut saat ia berbicara seperti itu.


Aku tidak menyangka jika Andin bisa mendapatkan laki-laki yang jauh di atas ku, bahan kami sangat berbeda bagai kan langit dan bumi sungguh jelas perbedaan.


"Maaf kan saya pak, tolong jangan pindah kan saya ke lapangan lagi. Saya janji tidak akan menganggu bu Andin lagi!" Ucap ku memohon.


"Keluar lah!" Titah nya.


"Tapi pak ..."


Ceklekkk


Ucapan ku terhenti saat mendengar suara pintu di buka, dan keluar lah sosok Andin di sana! Andin sungguh beruntung sekali ia.


"Kenapa sayang?" Tanya laki-laki itu.


"Papah, mamah mau makan sesuatu yok kita makan!" Ajak Andin manja. Mata ku seketika menjadi panas.


Aku emosi melihat Andin bertingkah seperti j*l*n* murahan.


"Sebentar ya sayang!"


"Saya mohon pak!" Ucap ku sekali lagi sambil mengatup kan kedua tangan ku.


"Bagaimana sayang?"


"Apanya?" Tanya Andin.


"Apa kamu setuju jika ia masih bekerja di perusahaan ini? Dia berjanji tidak akan membuat mu tidak nyaman lagi seperti tadi!"


"Ya terserah kamu lah."


"Saya mohon nyonya jangan pindah kan saya ke lapangan, saya sudah nyaman berada di dalam ruangan seperti ini" Ucap ku sambil berlutut di kaki Andin.


Kaki yang jenjang dan mulus ini dulu nya adalah milik ku. Namun, Sekarang?


"Bangun lah dan jangan berlutut di kaki istri saya," titah nya.


"Saya mohon."


"Sudah jangan pindah kan saja sayang, kasihan dia mungkin dia lagi butuh pekerjaan ini untuk biaya rumah tangga nya!" Ucap Andin.


Aku tahu Andin masih mencintai ku, bukti nya ia mau membantu ku agar aku tidak jadi di pindah kan.


"Baik lah, cepat keluar! Dan ingat jika saya melihat mu masih menganggu istri atau anak saya, saya tidak akan segan untuk memecat mu dan memblokir semua pekerjaan agar kamu jadi gelandangan sekaligus" Ancam nya.


"Terimakasih pak. Kalau begitu saya permisi dulu!"


"Ya."


Aku keluar dengan langsung berat, aku masih tidak rela jika Andin dengan laki-laki itu. Bahkan sampai sekarang aku belum mengetahui siapa namanya secara langsung.

__ADS_1


Namun, aku melihat papan nama di meja nya yang bertulis kan Riki. Biarlah aku mengalah dulu agar tidak mendapatkan kecurigaan dari mereka semua nanti akan aku dekati lagi Andin.


Apa yang dia maksud anak nya itu adalah anakku?


__ADS_2