
Singkat cerita kini aku sudah tinggal menghitung hari menuju lahiran, aku sudah tidak sabar ingin bertemu putri ku.
Bagitu juga dengan mas Riki, ia sangat antusias menyambut putri ku. Satu bulan kami dekat dan satu bulan itu juga mas Riki melamar ku. Namun, aku meminta nya untuk menunggu hingga aku lahiran untuk melangsungkan pernikahan kami.
"Ya Allah air apa ini?" Tanya ku. Melihat air mengalir dari bawah sana.
"Aduhh sakit sekali perut ku! Mulas sekali, ini kenapa?" Aku berbicara sendiri di dalam kosan ku. Sebetulnya mas Riki sudah menawarkan untuk aku tinggal di rumah nya saja. Tetapi aku menolak karena aku tidak nyaman dengan kata orang nanti nya.
"To ... Tolong ..." Aku berteriak sekuat tenaga berharap masih ada yang belum tidur. Karena biasanya tetangga ku jam segini ada yang belum tidur juga.
"Tolong ... Aduh ... Sakit sekali ..." Aku merintih kesakitan.
"Mbak Andin ...!" Teriak salah satu tetangga ku.
"Mbak tolong aku ... Sakit ..."
"Buka pintu nya mbak! Apa mbak masih kuat?"
"Se ... Sebentar ..." Dengan tertatih aku membuka pintu kamar kos ku.
Ceklekkk
Dengan susah payah ku membuka pintu kamar kos ku, aku masih merintih kesakitan. Saat aku membuka pintu ternyata di luar sana ada mas Riki juga.
Ia langsung berlari menghampiri ku yang tengah kesakitan. Ia menggendong ku menuju mobil yang sudah ia siap kan sebelum nya.
"Kamu yang kuat ya! Aku akan membawa mu ke rumah sakit segera!"
__ADS_1
"Sakit sekali mas!"
"Mbak yang kuat ya, ayok mas Riki biar aku temani." Ucap tetangga ku yang mahasiswi.
"Hati-hati di jalan ya kalian. Kabari terus aku di sini."
Mas Riki membawa mobil dengan kecepatan tinggi, ia tidak peduli dengan apapun yang menghadang nya di depan.
Mereka berdua sangat kaget melihat keadaan ku yang terus meringis kesakitan. Menahan rasa sakit di perut ku ini.
Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya kami sampai di UGD rumah sakit bersalin, mas Riki langsung menggendong ku menuju ruangan.
"Suster ... Dokter ... Tolong ..."
"Ayok pak, bawa ke sini istri nya!" Titah suster yang berjaga di sana.
Setelah melalui proses pertanyaan yang membuat ku semakin meringis kesakitan, akhirnya aku di bawa ke ruang bersalin. Mas Riki di mintai untuk membayar biaya administrasi ruangan perawatan, infus dan yang lainnya.
Aku sudah menyuruh nya untuk menggunakan uang yang ada di tas ku, aku memang sudah menyiap kan sejumlah uang untuk biaya persalinan ku kelak.
"Kamu harus kuat, kamu itu wanita yang luar biasa! Aku bangga pada mu." Ucap nya yang membuat ku terharu.
Di tengah rasa sakit yang ku rasakan, aku pun merasakan kehangatan yang mas Riki berikan pada ku.
Ia masih menunggu ku di luar tempat bersalin, hingga malam tiba. Bahkan ia tidak datang ke kantor hanya untuk menemani ku, dengan telaten ia menyuapi ku sambil menunggu waktu nya melahir kan.
"Kamu tidak perlu berpikir apa-apa, yang penting kamu bisa melahir kan anak mu dengan selamat! Tenang soal biaya sudah aku yang nanggung. Kamu tidak perlu khawatir, nanti setelah melahirkan diam lah di rumah ku jangan sungkan. Aku akan bicara dengan ketua RT di sana, aku yakin ketua RT pasti akan memaklumi nya" jelas nya panjang lebar.
__ADS_1
"Terimakasih mas, karena mas sudah mau menolong ku sejak awal pertemuan kita hingga aku melahirkan seperti ini!"
"Tidak masalah, aku memang sudah lama ingin memiliki momongan. Namun, tuhan belum memberikan ku malah tuhan memisah kan ku dengan Intan mantan istri ku!"
"Kamu yang sabar ya mas, kamu boleh ko menganggap anakku sebagai anak mu."
"Benar kah?"
"Iya!"
"Baik lah kalau begitu aku mau bicara dulu dengan jagoan ku! Eh tapi cewek kan ya?"
"Iya."
"Oke ... Tuan putri nya papah, kamu harus kuat di sana yah! Bantu mamah mu untuk berjuang, papah di sini menunggu mu nak!" Setelah mengatakan itu, mas Riki mencium perut ku dengan lembut.
Perut ku mulai sakit lagi dan mas Riki seperti suami yang siaga, ia memanggil kan dokter dan suster untuk membantu ku. Aku di bawa ke ruangan operasi karena air ketuban ku sudah semakin kering.
"Suami dari ibu Andin yang mana?"
"Saya!" Ucap mas Riki dengan bangga. Aku masih bisa mendengar nya karena aku masih sadar seratus persen.
"Tolong tanda tangani ini, karena pasien harus segera di operasi Caesar agar bisa menyelamatkan ibu dan anak nya."
"Oke dok!"
Setelah itu aku mulai di bius dan di bawa ke rumah operasi yang begitu dingin.
__ADS_1