
Sudah dua hari mas Riki tidak masuk kerja, bahkan papah mertua dan ibu mertua pun menginap di rumah ku.
Meskipun aku sudah mengandung cucu kandung mereka, tetapi mereka tetap menyayangi kanza sepenuh hati terbukti dengan cara mereka memerlukan nya yang masih dengan sangat baik.
Bahkan papah mertua mengajak kanza berjalan-jalan sekitaran rumah, karena memang halaman rumah baru ku sangat lah luas mungkin mas Riki berniat untuk membuat toko kelontong di sebelah nya.
Aku memperhatikan nya dengan sangat bahagia aku berharap kanza akan terus berbahagia seperti ini, karena kebahagiaan kanza adalah kebahagiaan ku.
"Sayang kamu mau rujak mangga enggak?" Ucap mas Riki tiba-tiba di samping ku.
"Astaga mas ... Ngagetin aja sih!" Ucap ku sambil memukul pelan tangan nya.
"He he he gitu aja kaget kamu, mas serius ini. Kamu mau rujak mangga enggak?"
"Enggak!"
"Lah biasanya orang hamil ngidam nya buah mangga muda."
"Tergantung."
"Apa nya yang tergantung?"
"Tergantung kemauan dedek bayi nya, dulu juga aku waktu hamil kanza tidak mau mangga muda."
"Lalu mau apa?"
"Mau naik kreta. Tapi tidak kesampaian waktu."
"Lah kenapa?"
"Aku males."
"Dih pemalas."
"Lah mas sendiri apa? Sudah dua hari tidak masuk kantor, kalau bukan malas apa namanya?"
"Itu beda sayang."
"Apa nya yang beda?"
"Karena aku mau menemani hari-hari perkembangan jagoan ku nanti, sekaligus pewaris semua harta ku. Bukan hanya kanza yang mengelola semua perusahaan ku, tetapi calon anak yang kamu kandung juga sayang!"
"Terlalu jauh kamu berangan sayang ... Sudah ah ..." Aku bangkit dari duduk ku dan berjalan menuju arah gerbang.
"Sayang mau kemana?" Tanya mas Riki.
"Mau duduk di depan gerbang."
"Lah ngapain? Emang nya di sini enggak duduk?"
"Ih kamu ini mas ya benar-benar! Ku mau beli ca kue biasanya jam segini suka lewat."
"Beli di restoran aja deh, terjamin higenis."
"Restoran mana yang sediakan kue ini?"
"Hmm ... Nanti aku buat dan sediakan semua nya untuk mu."
"Alah mas ... Mas keburu brojol ni anak."
"Oke besok mas akan cari ruko kosong untuk di jadikan caffe."
"Jangan bercanda kamu mas."
"Aku tidak bercanda ko sayang!"
"Sudah ah tuh tukang ca kue nya udah datang."
__ADS_1
Aku terus berjalan sampai akhir nya nampak lah tukang jualan itu.
"Mang mau ca kue nya lima ribu ya!"
"Sip neng."
"Di goreng dengan sangat garing? Apa biasa aja?"
"Biasa aja mang, nanti takut anak saya minta."
"Oke di tunggu ya neng!"
"Oke."
Setelah beberapa menit kemudian ...
Akhirnya pesanan ku pun siap, aku duduk dan makan di teras bersama mas Riki.
Ia terus memandangi ku dengan tatapan ...
"Kenapa lihat-lihat? Mau?" Tanya ku, kemudian ia mengangguk.
"Dih mau aja, nih!" Aku memberikan satu kue pada nya.
"Wih enak sayang ... Beli lagi ..."
"Dih tadi kata nya tidak higienis tapi ko minta lagi ha ha ha."
"Enak sayang, mana mamang nya?"
"Sudah pergi tuh."
"Oke sebentar."
Lalu ia bangkit dan memanggil Ujang, untuk mengejar tukang jualan tadi menggunakan motor.
Sedangkan aku masih duduk menikmati kue nya bersama anakku dan juga kedua mertua ku.
"Astaga sayang ... Banyak sekali loh."
"Enggak apa, Jang! Bawa sebagian buat kamu di post dan bawa masuk untuk Siti dan bi Juminten."
"Baik pak!"
Aku dan mas Riki serta yang lain kembali memakan kue itu hingga mas Riki kekenyangan, aku sungguh bahagia melihat hal itu bahkan ia juga ingin merasakan apa yang aku rasakan selama ini.
"Kamu sungguh beruntung nak, semoga kamu dan Kaka mu akan terus bahagia sampai sukses nanti. Hingga kami masih bisa melihat kalian menjadi anak yang berguna!" Gunam ku sambil mengelus perut ku yang belum buncit ini.
Setelah kanza di mandikan aku membawa nya masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk tidur. Kali ini aku mengajak kanza tidur di kamar ku dengan mas Riki, rasanya aku sangat rindu tidur dengan anak pertama ku ini.
Semoga saja aku dan yang lainnya masih tetap adil untuk kedua anakku kelak, meskipun kami tahu jika kanza dan calon adik nya ini tidak seayah tetapi bagi ku mereka tetap lah anak ku, anak yang aku kandung dan aku lahir kan dengan susah payah.
"Mamah ..." Ucap kanza.
"Iya sayang?"
"Papah nana?"
"Papah lagi kencing dulu sayang, kan mau tidur. Kamu sudah kencing belum?"
"Beyum."
"Ya sudah, nanti kalau papah sudah keluar dari kamar mandi. Mama temenin ya! Mau?"
"Mau ..."
Beberapa detik kemudian mas Riki keluar dengan menggunakan baju tidur nya, lalu aku dan kanza masuk ke dalam.
__ADS_1
Meskipun kanza masih terbilang kecil tetapi ia sudah memiliki rasa malu, ia selalu tidak mau jika di antar mandi atau hanya buang air kecil oleh papah nya.
Memang walaupun aku dan mas Riki sibuk bekerja tetapi setiap kali kami pulang, kami selalu mengajak kanza bermain dan belajar agar ia tahu mana yang boleh dan mana yang tidak sejak dini.
"Sayang ayok kita tidur!" Ajak ku pada kanza.
Anak kecil itu menurut dan naik ke atas ranjang, ia tidur di antar aku dan mas Riki.
"Harus ya anak papah tidur di tengah?" Tanya nya pada ku.
"Lah emang nya kenapa mas?"
"Papah juga kan mau lah tidur sama mamah!"
"Ya ampun pah, anak kita baru kali ini loh tidur lagi dengan kita. Biasa nya tidur dengan Siti."
"Iya-iya bercanda doang ko."
"Ya sudah ayok kita tidur saja, kamu besok masuk lagi kerja pah."
"Mamah ngusir aku?"
"Bukan begitu!"
"Lalu?"
"Kamu sudah dua hari tidak masuk kerja, nanti apa kata karyawan mu mas!"
"Tapi aku masih mau di rumah sama kedua anakku!"
"Mas ..."
"Iya ihh besok papah kerja! Udah mau tidur saja."
Mas Riki membalik kan badan nya membelakangi ku, ia berpura-pura marah pada ku agar aku tidak menyuruh nya untuk bekerja lagi!
Kami tertidur dengan sangat nyenyak, hingga saat pagi tiba aku di buat terkejut karena kanza tiba-tiba sudah berpindah di sisi ku sedang kan mas Riki sudah berada di belakang ku.
Ia memeluk ku dengan sangat erat dan membuat ku susah bergerak, aku membangun kan mas Riki takut ia telat masuk ke kantor.
"Mas bangun sudah pagi ..." Ucap ku mengelus tangan nya.
"Hmmm ... Nanti lah dulu sayang! Aku masih mengantuk ini."
"Mas ..."
"Iya-iya aku bangun."
Akhirnya ia bangkit dan menuju kamar mandi.
"Mas."
"Apa lagi mamah? Aku kan mau mandi! Nanti telat masuk kerja terus di marahin mamah" ucap nya berpura-pura sedih.
"Udah deh pah, jangan kaya gitu malu sama anak kecil."
"Anak papah masih tidur, jadi tidak perlu malu welek ..."
"Ko kamu jadi di belakang aku sih pah? Perasaan kanza ada di tengah deh tadi."
"Mana ku tahu?"
"Papah ..."
"Iya aku yang mindahin, abis nya aku juga kan mau meluk kamu ..."
"Oh ya sudah sana mandi bau ..."
__ADS_1
"Bau juga kamu suka ha ha ha."
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan nya itu, sungguh ia membuat ku setiap hari terus saja tersenyum sendiri.