
Beberapa bulan berlalu aku tidak menganggu Andin namun aku tetap mencari tahu tentang nya, aku tidak akan senang berhenti sebelum aku menemukan kebenaran bahwa anak prempuan yang bersama Andin waktu itu adalah anakku.
Saat aku lembur aku tanpa sengaja melihat Andin bersama seorang anak perempuan dan wanita memakai seragam baby sitter, aku merasakan jika anak prempuan itu adalah anakku.
Entah prasaan dari mana yang jelas aku merasa sangat dekat sekali dengan anak itu, aku terus memperhatikan nya dari jauh karena aku takut jika terlihat pak Riki akan memindahkan ku kembali ke Jakarta atau bahkan lebih parah nya aku di pecat.
Aku masih butuh pekerjaan ini karena perusahaan papah ku di sana sedang bangkrut, memang sejak dulu tidak ada yang tahu jika aku seorang anak pengusaha itu sebab nya karena aku tidak ingin mereka mendekati ku karena harta.
Tetapi Andin! Ia gadis yang sangat baik dan gampang sekali berteman mungkin karena ia sangat cantik dan baik itulah sebab nya ia sangat gampang memiliki teman baru.
"Bro ...!" Ucap Nino.
"Eh ngagetin aja."
"Lo ngeliatin bini nya pak Riki lu ya?"
"Kata siapa?"
"Lah lo dari tadi diam di sini ngapain? Kalau bukan ngeliatin tuh bini pak Riki! Emang ya bini pak Riki tuh cantik, baik, pengertian, sama ... Ah pokoknya mantap lah, pernah ni ya dulu gue tidak masuk kerja karena ngurusin tuh bini gue ngelahirin eh dia bantu biaya bro. Ajib bener beruntung pak Riki dapat bu Andin ..." Jelas Nino.
"Iya bener ... Bahkan ni ya kemarin pas gue lagi butuh uang bener dan pak Riki tidak ACC eh bu Andin yang ACC nya ..." Ucap Udin.
"Masa?" Tanya ku.
"Iya bener! Emang lo ngapain ngeliatin dia trus? Jangan bilang lo suka sama bu Andin! Aduh mendingan buang aja lah itu prasaan suka lo sama dia." Ucap Nino.
"Lah kenapa?" Tanya ku heran.
"Bu Andin itu udah punya anak dua, lagian kehidupan dia jauh berbeda dengan kita-kita ini. Dia itu sudah terbiasa hidup mewah jadi kalau mau suka sama bu Andin mendingan pikir-pikir aja lagi, bu Andin itu setia orang nya. Menurut cerita yang beredar ni ya kata nya dulu dia pernah memiliki anak trus laki nya tuh enggak mau tanggung jawab, kalau gue jadi bu Andin dah gue ajak masuk ring tinju tuh meskipun gue cowok ni ya, tapi gue juga ngerasain gimana sakit nya melahir kan sama ngandung anak tuh apa lagi ngidam nya. Karena kemarin pas anak gue yang pertama itu asli semua yang biasanya hanya ibu-ibu hamil doang yang ngerasain eh ini gue juga ngerasain bro!" Jelas Nino.
"Masa segitu nya sih?" Tanya Udin penasaran.
"Iya beneran, eh udah ah gue mau ke tempat kerja dulu dari tadi ngobrol sampe enggak kerasa udah sampe di dalam ruangan aja!" Ucap Nino.
Lalu pergi meninggalkan aku dan Udin, aku dan dia melanjutkan langkah menuju meja masing-masing.
Pekerjaan ku sangat tidak fokus aku terus berpikiran tentang ucapan mereka tadi, aku takut jika nanti semua terungkap akan menjadi bumerang bagi Andin.
Karena memang sejak dulu Andin itu sangat setia, meskipun aku menyelingkuhi nya beberpa kali bahkan aku berbuat kasar pada Andin.
__ADS_1
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang itu tanda nya jam istirahat tiba.
Aku pergi ke kantin untuk makan siang, namun ternyata di sana ada Andin dan wanita berseragam baby sitter itu dan juga anak kecil yang terlihat baru saja selesai makan.
Ku percepat langkah ku agar segera sampai di meja mereka, namun saat aku sampai Andin malah bangkit dan pergi meninggalkan ku.
"Andin tunggu ...!" Lirih ku.
"Tolong jaga sikap di sini, ini adalah kantin kantor aku tidak mau terjadi masalah yang justru akan merugikan mu!" Ucap nya terdengar tegas.
"Apa anak ini adalah anakku?" Tanya ku penasaran. Wajah nya sangat mirip dengan Andin.
"Bukan, anak mu sudah mati! Siti ayok kita pergi dari sini. Sayang! Kamu sudah makannya?" Tanya Andin pada anak itu, lalu di balas dengan anggukan pelan.
Mereka pergi begitu saja sedangkan aku masih melongo mencerna semua yang terjadi, mencerna semua perkataan Andin pada ku.
Singkat cerita ...
Saat jam pulang kerja aku menunggu Andin di depan loby, aku tahu Andin belum keluar bersama mereka karena aku tidak melihat nya lewat depan ruangan pada karyawan.
Dan benar saja aku melihat nya melewati ku, terlihat juga pak Riki menggandeng tangan Andin. Lagi-lagi aku merasa cemburu dengan hal itu.
"Ada apa?" Tanya nya.
"Aku ingin mengobrol dengan ibu sebentar, boleh pak?" Ucap ku memalingkan wajah ke arah pak Riki.
Terlihat pak Riki sedikit keberatan untuk mengizinkan Andin pergi bersama ku, namun pada akhirnya ia mengizinkan nya juga.
"Baiklah tapi harus ada aku, karena aku tidak ingin membuat citra ku hancur karena ada berita miring tentang istri ku jalan berdua dengan mantan nya!" Jelas pak Riki.
Aku pun menyetujui nya karen memang ini semua ada sangkut paut nya dengan pak Riki.
Saat tiba di caffe tak jauh dari kantor, aku memulai pembicaraan nya.
"Langsung saja ya! Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang ku lakukan dulu pada mu dan juga anakku."
"Oke."
"Terus aku mau minta penjelasan nya."
__ADS_1
"Tentang?" Tanya Andin.
"Anak kita, aku merasa sangat yakin jika anak perempuan yang bernama mu itu adalah anakku juga!"
"Anak mu sudah mati ..." Tegas Andin sekali lagi.
"Jika memang bukan maka aku meminta bukti, jika tes DNA. Karena mau bagaimana pun aku tetap ayah biologis anak itu!" Jelas ku.
Terlihat mereka diam sejenak, aku tahu mereka pasti sangat syok dengan semua permintaan ku ini.
"Tidak bisa dan tidak akan pernah bisa," ucap Andin mulai emosi.
"Jika memang begitu maka jangan salah kan aku jika aku membuat citra suami mu hancur dalam sekejap."
"Loh!" Ucap Andin.
"Ya karena di balik ini semua ada campur tangan pak Riki pastinya, jika memang buka anakku kenapa kamu begitu takut?"
"Baik lah kita melakukan tes DNA di rumah sakit sayang bunda," ucap pak Riki.
"Tidak, aku tidak percaya. Bisa saja pak Riki membayar orang agar tidak mencocokan darah ku dan darah anakku!"
"Lalu kamu mau Dimana?"
"Kita tes di Jakarta, dan salam proses tes DNA bapak tidak boleh ikut campur apapun! Jika memang hal itu terjadi maka aku akan menganjurkan karier bapak dalam sekejap."
"Lakukan saja jika kamu berani!" Tantang nya.
"Jelas aku berani, aku memiliki beberapa data milik perusahaan aku bisa saja menjual nya!"
"Baik lah, besok kita pergi ke Jakarta dan aku akan tinggal di rumah mu agar kamu percaya jika aku tidak melakukan curang!" Ucap nya.
"Oke!"
Akhirnya kami sepakat untuk pergi ke Jakarta, untuk melakukan tes DNA antara aku dan anak perempuan itu.
Aku sangat berharap jika hal ini benar adanya, jika anak prempuan itu adalah darah daging ku.
Kami berpisah setelah selesai bicara, aku kembali ke rumah ku yang di Pekanbaru.
__ADS_1