
Malam hari nya setelah kami melaksanakan sholat, aku duduk di tepi ranjang dengan menghadap ke arah jendela.
Bayangan tadi siang masih terbayang dalam pikiran ku, bahkan wajah Devan terus saja berputar di kepala ini sekarang.
Kata-kata nya yang mencari ku selama ini terus saja terngiang di telinga.
"Apa benar selama ini ia mencari ku?" Gunam ku pelan. Tapi ternyata masih bisa di dengar oleh suami ku.
"Siapa yang mencari mu sayang?"
"Hah? Enggak bukan siapa-siapa ko!"
"Kamu jangan berbohong sayang! Cepat kata kan siapa yang mencari mu?"
"Devan!"
"Devan?"
"Ya, dia mencari ku selama ini. Tadi kami tidak sengaja berpapasan saat aku ingin pulang!"
"Lalu? Apa dia menanyakan anak kita?"
"Tidak, dia tidak menanyakan nya! Dia hanya menanyakan selama ini aku berada di mana."
"Kamu jawab apa?"
"Aku suruh dia jaga ucapan nya, dan aku langsung pergi meninggalkan nya di sana."
"Terimakasih sayang karena sudah mau menghindar dari nya!"
__ADS_1
"Untuk apa aku meladeni laki-laki itu mas? Apa mas lupa bagaimana ia dulu?"
"Maaf sayang, ayok kita tidur saja! Besok kita ada meeting bukan?"
"Ya."
Aku langsung merebah kan tubuh ku di atas kasur dengan membelakangi mas Riki, aku tahu ini salah tetapi aku merasa sangat kesal pada suami ku itu.
Keesokan harinya ...
Aku berangkat pergi ke kantor dengan berbeda mobil, seperti biasa aku di antar oleh mang Jajang karena suami ku tidak mengizinkan aku membawa mobil sendiri.
Ia takut jika terjadi apa-apa pada ku saat membawa mobil. Itu lah sebab nya ia tidak memperbolehkan ku membawa sendiri.
Sesampainya di kantor aku langsung di sambut dengan beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani, namun sebelum itu aku membaca nya terlebih dahulu.
Ya memang selama aku memimpin perusahaan cabang ini, aku selalu meminta waktu pada sekretaris ku untuk membaca semua nya lebih dulu. Karena aku tidak ingin tertipu dengan semua kecurangan yang pasti akan terjadi nanti nya cepat atau lambat.
Beberapa saat perjalanan akhirnya aku sampai di kantor suami ku.
Lagi-lagi aku bertemu dengan Devan, namun kali ini adalah hari yang apes bagi ku. Bagaimana tidak, aku satu lift dengan nya. Meskipun di dalam sini ada mang Ujang tetapi tetap saja hati ini merasa takut.
"Andin ..."
Aku diam.
"Andin! Aku tahu kamu pasti sangat marah pada ku, tetapi asal kamu tahu sayang jika aku melakukan itu semua karena aku terpaksa."
Aku masih diam menyimak apa yang akan ia sampai kan, namun sebelum itu aku merekam nya.
__ADS_1
Saat ku dongak kan kepala ku, terlihat Devan menangis. Sorot mata nya begitu tajam memandangi ku.
"Dengar sini ya! Aku dan kamu sudah usai sejak lama. Bahkan aku tidak peduli dengan apa yang terjadi sebenarnya, dan tolong jangan ganggu kehidupan ku lagi."
"Astaga Andin ...! Tolong beri aku kesempatan sekali lagi, aku mohon dan dimana ..."
"Tidak ada, dia tidak ada! Bukan kah kamu sendiri yang meminta ku untuk membuang nya?"
"Percayalah aku menyesal!"
"Sudah lah, suami ku sudah menunggu."
"Siapa suami mu?"
Aku pergi tanpa menghiraukan nya, aku langsung keluar lift dengan mang Jajang. Dan masuk ke dalam ruangan suami ku!
Aku menceritakan semua nya pada mas Riki tanpa terkecuali, ia pun sampai terkejut mendengar hal itu.
Ia merasa cemas karena takut jika Devan nekad mencari tahu keberadaan anak kami berdua!
"Aku tidak ingin ia menemui anakku, mas!" Ucap ku.
"Anak kita ..."
"Iya."
"Kamu tenang saja! Aku akan menyuruh para pengawal untuk menjaga dua puluh empat jam. Agar ia tidak memiliki celah bertemu dengan anak kita oke!"
"Terimakasih mas."
__ADS_1
"Aku sudah berjanji pada mu, dan aku harus menepati nya."
Aku merasa senang mas Riki selalu menanggapi semua cerita ku dengan positif, meskipun aku selalu berpikir negatif dengan semua keadaan sekarang.