Dia Anakku, Bukan Anakmu

Dia Anakku, Bukan Anakmu
Bab 15


__ADS_3

Aku kaget bukan main saat mendengar mbak Dini berteriak dengan sangat kuat, ia meminta ku tolong untuk membawa Andin ke rumah sakit.


Beruntung saat itu aku masih terjaga dan belum masuk ke dalam kamar, jadi aku bisa langsung berangkat menuju rumah sakit membawa Andin.


Aku menyiap kan mobil ku dan pergi menuju kamar milik Andin, sebenarnya mang Ujang sudah menawarkan dia saja yang membawa Andin namun aku menolak nya.


Dalam kepanikan aku membawa Andin ke rumah sakit, sudah sejak lama aku menginginkan suasana haru dan tegang seperti ini. Setelah beberapa saat kemudian kami sampai di rumah sakit bersalin.


Singkat cerita ...


Andin mengizinkan aku untuk menganggap putri nya sebagai putri ku, aku semakin terharu di buat kan nya!


Aku dulu bermimpi bisa memiliki momongan dari Intan mantan istri ku, tetapi sayangnya Intan memilih berkhianat dari pernikahan kami.


Aku bingung harus bagaimana saat menunggu Andin di dalam sana. Aku di temani oleh penghuni kosan lain ia seorang mahasiswi yang cantik.


Tetapi entah kenapa aku lebih menyukai Andin di banding kan dia, sejak awal pertama kali ketemu hingga saat ini pun rasa suka ku semakin bertambah pada nya.


Howekk ... Howekkk ... Howekkkk ...


Tangis bayi di dalam ruangan operasi itu, aku menangis terharu di saksikan oleh penghuni kosan itu.


Aku tidak mengetahui siapa nama gadis itu, aku hanya mengenal mbak Dini dan suami nya karena mereka sudah lama tinggal di sana dan sang suami bekerja tidak jauh dari tempat tinggal mereka saat itu.

__ADS_1


"Suami dari ibu Andin ..." Teriak suster.


"Saya sus!" Ucap ku maju ke depan.


"Mari ikut saya untuk mengadzani bayi nya!"


Aku mengikuti nya dari belakang hingga menuju box bayi, sungguh bayi yang sangat lucu dan membuat ku gemas.


Setelah selesai aku menunggu Andin siuman dari obat bius bekas operasi nya itu, sedang kan tetangga Andin sudah pulang duluan karena ia besok akan ada ujian.


Aku sudah menyuruh mang Ujang menjemput nya tetapi ia menolak dan memilih untuk naik taxi.


Aku terus memandangi wajah bayi mungil itu, ia sangat cantik sekali persis ibu nya.


"Terimakasih sayang, karena kamu sudah lahir dari rahim mamah mu! Terimakasih juga karena kamu sudah mau berjuang bersama mamah mu di dalam sana."


Howekkk ... Howekkk ... Howeekk ...


Ia menangis mungkin ia lapar, aku di beri saran dari suster untuk memberikan nya susu formula terlebih dahulu, sembari menunggu Andin sadar.


Keesokan harinya ...


Aku meminta memindahkan Andin ke ruangan paviliun agar dia lebih nyaman dan tenang setelah melahirkan, bahkan bukan hanya itu saja!

__ADS_1


Aku sudah meminta izin pada ketua RT untuk membiarkan Andin tinggal bersama ku lebih dulu agar bayi nya tetap terjaga.


Aku melakukan ini semua karena aku mencintai ibu nya saat pandangan pertama, dan aku juga sangat menyukai anak kecil karena hal itu lah aku menginginkan Andin menjadi istri ku.


"Haus ..." Ucap Andin samar.


"Ini minum lah, kata dokter kamu harus banyak minum agar tenaga mu cepat pulih."


"Mas Riki!"


"Kenapa kaya liat setan aja ah."


"Makasih banyak yah mas sudah mau nolongin aku bahkan menjaga aku seperti ini!"


"Tidak masalah, bukan kah aku sudah bilang bahwa ini adalah putri ku juga?"


"Jadi kamu serius? Aku kira hanya main-main saja!"


"Aku serius ko."


Kami tersenyum bersama, aku membantu Andin untuk belajar memiringkan tubuhnya dan belajar segala nya. Hingga tiba saat nya kami pulang.


Aku membawa nya masuk ke dalam rumah, dan di sana sudah ada mbak Dini yang menunggu.

__ADS_1


__ADS_2