
Tidak terasa kini aku dan mas Riki sudah menikah selama setahun, dan anakku semakin akrab dengan nya apapun ia selalu dengan papah.
Aku pun sudah mulai di boleh kan untuk bekerja sekarang. Aku bekerja di salah satu cabang milik suami ku, karena di kantor nya tidak boleh sepasang kekasih dalam satu tempat kerja.
Semua berjalan dengan sangat lancar, aku bahagia dengan kehidupan keluarga kecil ku sekarang! Namun, semua itu tidak bertahan lama.
Tiba-tiba saja aku melihat Devan di kantor pusat dimana suami ku yang memimpin, aku tidak tahu bagaimana bisa suami ku mempekerjakan orang yang sudah menyia-nyiakan kan anak nya sendiri.
Saat aku ke kantor mas Riki, aku melihat Devan yang sedang duduk di meja kerja nya! Tanpa menegur dan menoleh ke arah nya aku terus berjalan menuju ruangan suami ku di sana.
Ceklekkk
"Lain kali kalau mau masuk itu ketuk du ..." Mas Riki menoleh ke arah ku.
"Apa istri mu juga harus mengetuk pintu sebelum masuk?"
"Astaga sayang, ku kira karyawan di sini!"
"Aku pun karyawan mu mas."
"Tidak, kamu itu bos ku! Karena uang ku adalah uang mu, gaji ku juga uang mu. Jadi aku ini tidak memiliki apapun karena semua sudah ada pada dirimu!"
"Gombal. Oh ya, mas! Aku mau tanya boleh?"
"Boleh dong sayang. Kenapa?"
"Tadi di depan aku melihat Devan, kenapa ia bisa bekerja di sini?"
"Benar kah? Aku tidak tahu itu sayang, mungkin bagian SDM yang menerima nya!"
"Apa semua akan baik-baik saja mas?"
"Percayalah semua akan baik-baik saja, dia tidak akan berani untuk mengambil anak kita!"
"Tapi ..."
__ADS_1
"Sudah lah sayang jangan di pikirkan, ngomong-ngomong kamu ada perlu apa sayang?"
"Ah aku sampe lupa mas, aku ke sini hanya ingin memastikan jika kamu tidak lupa kalau hari ini adalah jadwal nya anak kita untuk imunisasi!"
"Astaga sayang aku lupa, maaf kan aku ya! Untung kamu ingat kan, ya sudah kamu pergi lah duluan dengan Jajang nanti aku menyusul setelah pekerjaan ku selesai!"
"Baik lah, kamu jangan terlalu cape! Perbanyak lah istirahat mas."
"Siap komandan!"
"Ha ha ha" Kami berdua terkekeh bersama.
Aku keluar dari ruangan suami ku dan saat aku melewati meja kerja para karyawan, aku tidak sengaja berpapasan dengan Devan.
Ia melihat ku dan bahkan ia mengajak ku untuk berbicara bersamanya!
"Andin ..." Ucap nya kaget.
"Ya?" Jawab ku tenang.
"Tolong jaga ucapanmu ya! Ini kantor tidak erhak berbicara seperti itu," ucap ku sambil berlalu pergi.
"Kamu sekarang sangat berubah!"
Aku tetap berjalan tanpa menghiraukan nya, aku tidak ingin pada staf yang lain salah faham dengan apa yang mereka lihat.
Aku langsung pergi menjemput anak ku dan membawa nya ke rumah sakit untuk imunisasi, sebelum nya kami sudah membuat janji dengan sang dokter.
Itu lah sebab nya kami datang paling akhir karena aku dan mas Riki harus menyelesaikan pekerjaan kami terlebih dahulu.
Aurel sudah lama ia tidak menganggu rumah tangga ku, bahkan terdengar kabar bahwa ia pergi keluar negri untuk menjalani bisnis.
Aku tidak peduli apa yang ia jalani di sana, yang aku patut syukuri adalah ia sudah tidak lagi menganggu rumah tangga ku.
Jika dulu aku hanya diam saja saat ia mencoba menghancurkan rumah tangga ku, tapi kini semua itu tidak akan terjadi lagi.
__ADS_1
Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga ku dengan mas Riki, rasa cinta ini semakin tumbuh selama satu tahun hidup bersama.
Begitu juga dengan nya! Ia terus terang dengan ku bahwa ia sangat bahagia bisa bersama dengan ku.
"Ko mas Riki belum sampai ya?" Gunam ku.
Aku terus mengecek ke hp berharap jika mas Riki mengirim kan pesan pada ku. Tetapi ternyata tidak ada satu pun pesan mau pun telfon masuk dari nya hingga saat ini.
Sampai akhirnya muncul lah sosok laki-laki yang selama ini ku tunggu, ia berjalan dengan tergesa menghampiri ku yang sedang duduk menggendong bayi ku ini.
"Maafkan mas, sayang! Tadi di jalan sangat macet" jelas nya.
"Tidak masalah!"
"Apakah sudah selesai?"
"Belum."
"Syukur lah."
Tak lama kemudian nama bayi kami di panggil untuk di priksa, setelah selesai kami kembali pulang.
Kini aku pulang dengan mas Riki, karena mas Riki pun tidak akan pergi lagi ke kantor. Ia merasa bersalah karena sudah telat menghampiri kami di rumah sakit.
"Mas tidak ke kantor lagi?"
"Tidak, aku akan di rumah membantu mu mengurus anak kita. Aku tahu ia pasti akan sangat rewel. Sebab itu lah aku ingin di rumah saja!"
"Ya sudah."
Kami masuk ke dalam rumah, aku langsung ke kamar untuk mandi dan ganti baju. Sedang kan anak ku di mandikan oleh suster yang merawat nya.
Kini bayi ku di urus oleh suster karena bi Juminten sudah semakin rapuh, jadi kami tidak terlalu mempekerjakan nya dengan yang berat-berat.
Pembantu di rumah ini sudah ada dua, Siti dan bi Juminten. Sedang kan mang Jajang adalah saudara bi Juminten di kampung.
__ADS_1