Dia Anakku, Bukan Anakmu

Dia Anakku, Bukan Anakmu
Bab 13


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Andin berjalan-jalan di depan kosan yang memang jalan nya sudah di aspal, ia berjalan-jalan di sekitaran kosan sambil menunggu tukang sayur datang.


"Aduh bumil lagi jalan-jalan pagi nih!" Ucap mbak Dini.


"He he iya bu biar nanti lahiran nya normal, maklum saya sendiri jadi harus bisa hemat he he he."


"Iya mbak, sudah sarapan belum? Kalau belum ayok kita beli ke depan sekalian jalan-jalan biar tahu suasana di sini."


"Boleh juga mbak, sebentar saya ambil dompet dulu."


"Dari saya aja mbak!" Cegah mbak Dini.


"Wah terimakasih banyak kalau begitu saya tutup pintu dulu ya!"


"Iya silahkan."


Andin dan mbak Dini pergi menuju warung nasi di depan komplek tempat ny a tinggal, saat sedang di perjalanan mereka berpapasan dengan mobil milik Riki.


"Selamat pagi pak Riki!" Ucap mbak Dini ramah.


"Pagi ... Mau pada kemana ini?"


"Mau ke depan beli sarapan, sekalian ajak bumil jalan-jalan biar tahu daerah sini pak!"

__ADS_1


"Oh ya? Kalau begitu, boleh saya gabung?"


"Tapi bapak kan bawa mobil, dan lagi bapak mau pergi."


"Ah tidak, ini saya mau ke supermarket saja!" Lalu mas Riki keluar dari mobil nya, dan ternyata ia di supir kan oleh mang Ujang.


Kini mereka berjalan beriringan bertiga, hingga sampai di warung nasi depan.


Setelah selesai makan, mereka bertiga kembali pulang. Saat di perjalanan mas Riki bertanya pada Andin, ia ingin berbelanja sesuatu atau tidak?


Andin diam sejenak karena memang ia berniat ingin pergi berbelanja kebutuhan anak nya nanti, dan kebutuhan nya selama sebulan.


"Oh kebetulan sekali nanti saya akan pergi ke pusat berbelanja, kalau mau ayok kita pergi bersama." Tawar mas Riki.


"Wah ide bagus tuh mbak Andin, pergi bareng mas Riki saja. Di jamin aman!"


"Tidak masalah, kalau begitu saya permisi masuk rumah dulu untuk mandi! Nanti saya jemput lagi ya mbak Andin."


"Iya mas."


Andin kembali masuk ke dalam kamar nya, ia langsung bersiap dan menunggu mas Riki di dalam kamar.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya mas Riki muncul di depan pintu kamar nya, Andin terkejut bukan main pasal nya ia tidak berniat membiar kan mas Riki seperti itu.


Ia merasa tidak enak karena membiar kan mas Riki kerepotan, tetapi jika ia menolak ia lebih tidak enak lagi.

__ADS_1


Para tetangga di sini menyuruh ku untuk menerima saja pemberian dari nya. Saat di perjalanan hening tidak ada percakapan apapun di antara mereka berdua. Hingga ...


"Mbak Andin, kenapa dari tadi hanya diam saja?" Tanya mas Riki.


"Hah?"


"Tidak perlu takut atau canggung mbak, aku ihklas membantu mbak!"


"Makasih banyak ya mas, mas sangat baik. Sudah memberikan aku tempat tinggal yang layak dan repot-repot juga mengirimkan makanan serta susu hamil segala."


"He he he tidak masalah mbak, saya ihklas ko. Dulu waktu saya sama istri saya sebelum bercerai, kami sempat bermimpi memiliki anak tetapi ... Aduh maaf jadi curhat gini."


"Tidak masalah mas, lagian aku tidak keberatan ko jika mas Riki ingin cerita pada ku."


"Izin kan aku menganggap anak mu sebagai anak ku mbak." Ucap mas Riki langsung.


"Hah?"


"Aku tahu ini terlalu cepat dan kita baru saja bertemu, tetapi aku ingin sekali memiliki anak."


"Kenapa mas tidak menikah lagi? Ee ... Maksud saya ..."


"Belum ada yang cocok mbak!"


"Oh begitu."

__ADS_1


Seketika suasana menjadi hening kembali, tidak ada percakapan apapun lagi di antata mereka berdua. Hingga akhirnya mereka sampai di pusat berbelanja.


__ADS_2