Dia Anakku, Bukan Anakmu

Dia Anakku, Bukan Anakmu
Bab 24


__ADS_3

Aku terkejut saat tahu jika ayah kandung anakku bekerja di perusahaan milik ku, aku tidak ingin jika kanza berada di tangan Devan karena jika hal itu terjadi itu sama artinya Andin kembali pada laki-laki itu.


Setelah mendengar semua keluh kesah Andin dan kekhawatiran nya, aku menjadi sedikit lega karena Andin pun tidak ingin jika kanza bertemu dengan sang ayah.


Memang ini terkesan memaksa atau lain hal nya, tetapi aku hanya tidak ingin kanza yang sudah seperti anak kandung ku sendiri di rebut oleh orang yang sudah berusaha untuk membuang nya dengan tanpa rasa bersalah.


Setelah Andin pergi membawa kanza ke dokter untuk imunisasi, aku langsung memanggil asisten ku dan HRD di perusahaan milik ku bekerja.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Masuk!" Ucap ku.


"Permisi pak, apa bapak memanggil kamu?" Ucap Andre asisten ku.


"Ya benar! Ada yang saya ingin tanya kan dengan kalian. Ayok duduk lah dulu!"


"Baik pak."


"Apa kalian kenal dengan Devan? Karyawan baru di kantor ini?"


"Saya mengenal nya pak! Apa kah dia membuat kesalahan?" Tanya Arman sang HRD.


"Tidak, hanya saja ia mantan kekasih istri saya! Dia di bagian apa?"


"Sebenarnya dia di sini hanya pertukaran karyawan saja pak, dia di bagian mekanik tapi karena kita sedang tidak membutuhkan tenaga tambahan jadi saya memasukkan nya di bagian karyawan teknik digital! Jadi pak Devan itu adalah mantan pacar dari ..."


"Ya, saya ingin kalian pastikan jika dia tidak membuat istri ku tidak nyaman di sini."


"Baik pak!"


"Kalau begitu silahkan kembali ke tempat kerja masing-masing."


Aku baru tahu jika Devan itu lihai dalam bidang mekanik, memang sekarang kami sedang mengadakan pertukaran karyawan dan bengkel tempat Devan bekerja dulu adalah milikku juga.


Andai aku tahu sejak awal jika Devan bekerja di bengkel milik ku, maka aku tidak akan pernah membiar kan ia tetap bekerja di sana. Aku akan memecat nya karena ia sudah berani membuang anak nya dan Andin.

__ADS_1


Aku bangkit dan buru-buru pergi menghampiri Andin di rumah sakit, aku takut jika ia akan marah karena sejak tadi hp ku tidak kunjung berhenti panggilan dari Andin.


Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai, namun apa boleh buat aku tetap saja telat. Beruntung Andin percaya jika di jalanan sedang macet dan kanza belum di periksa.


Andin kesal karena aku telat tetapi ia tetap maafkan aku, aku sangat beruntung menikahi Andin. Saat kasus dengan Aurel, aku memutar otak agar ia terhindar dari gangguan Aurel.


Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari rumah baru di daerah yang aman dan lengkap dengan penjagaan nya, saat Andin meminta untuk bekerja aku sempat berpikir ulang karena aku tidak ingin ia kecapean dan membuat nya sakit.


Tetapi ia terus meyakin kan ku, dan akhirnya aku mengizinkan nya bekerja di kantor cabang milik ku. Kanza di urus oleh bi Siti di rumah karena bi Juminten sudah semakin tua. Aku dan Andin tidak mungkin untuk membuat nya bekerja terlalu cape.


"Sayang, maaf kan mas ya!"


"Iya, lebih baik kita cepat kembali ke rumah kasihan kanza nanti demam kata dokter tadi kan?"


"Iya sayang. Mang Ujang sudah pulang?"


"Sudah tadi aku suruh pulang saja karena aku akan pulang bersama mu!"


"Baik lah, apa kamu lapar?"


"Oke sayang."


Saat kami akan ke parkiran aku seperti melihat Aurel di sana, namun ia pergi ke dokter kandungan. Aku sangat menyesali perbuatan nya itu kenapa dulu saat bersama ku ia memilih tidak mau memiliki anak? Kenapa sekarang ia malah hamil?


Sungguh aku tidak habis pikir dengan jalan cerita pikiran Aurel sekarang! Dulu aku menikahi nya karena ia sangat pintar dan cantik, bahkan ia menjadi mahasiswa populer di kampus nya.


Aku bertemu dengan Aurel di salah satu caffe, ia saat itu sedang mengerjakan tugas dsn tanpa sengaja ku lihat bahwa ia jurusan manajemen.


"Sayang, kamu mikirin apa?" Tanya Andin tiba-tiba.


"Hah? Tidak ko sayang." Jawab ku.


"Sayang, jangan ada yang di tutupi ya apapun itu sesakit apapun itu bicara lah pada ku!"


"Baik lah, tadi aku melihat Aurel di rumah sakit!"

__ADS_1


"Kenapa dia?"


"Tadi aku melihat nya masuk ke dalam ruangan dokter kandungan! Aku heran dengan dia."


"Heran kenapa?"


"Dulu saat kami bersama dia tidak mau mengandung anakku, bahkan dia bilang jika aku ini laki-laki loyo yang mandul."


"Separah itu mbak Aurel bilang dengan mu mas?"


"Ya sayang, itu lah sebab nya aku membencinya bahkan ia sampai rela menjadi simpanan anggota DPR. Dan hamil anak orang itu lalu saat persidangan ia bicara jika itu adalah anakku! Aku tidak mau mengakui nya karena memang bukan anakku, kami sudah lebih dari enam bulan tidak melakukan hal itu! Semenjak aku tahu Aurel selingkuh aku pindah ke rumah mamah dan tinggal di sana, lalu bagaimana kami bisa melakukan hal itu jika kami saja berjauhan?"


"Jadi sekarang mbak Aurel sudah memiliki anak?"


"Mungkin, karena bagi ku jika kami sudah memutuskan untuk berpisah maka semua nya selesai tidak perlu ada yang ikut campur urusan masing-masing. Itulah sebab nya saat aku melihat mu di bandara waktu itu, aku sedih andai kan yang hamil itu istri ku pasti aku akan sangat bahagia. Tetapi ternyata tuhan mendengar semua perkataan ku hingga akhirnya aku tahu kalau kamu tidak memiliki pasangan, aku tidak masalah jika anak itu bukan anakku karena bagi ku kebahagiaan mamah lah yang terpenting! Aku sering menceritakan mu pada mamah dan papah, itu lah sebab nya saat aku bilang pada mereka jika aku ingin menikahi mu. Mereka langsung setuju" jelas ku panjang lebar.


"Kata mas tadi kan jika anak yang di kandung mbak Aurel itu bukan anak mas, dan mas tidak peduli."


"Ya."


"Kanza bukan darah daging mas, dan mas tahu itu. Tapi kenapa mas masih menyayangi kanza?"


"Karena aku tidak melihat mu selingkuh, karena aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mu sebelum nya. Beda lagi dengan Aurel ia terang-terangan selingkuh di belakang ku! Padahal uang belanja selalu aku penuhi bahkan melebihi dari apa yang aku berikan!"


"Begitu kah?"


"Ya begitu lah adanya. Aku berharap kamu tetap bersama ku selamanya. Aku tidak ingin kau dan kanza pergi dari kehidupan ku!"


"Insyaallah kita akan selalu bersama mas!"


"Harus."


"Iya."


Ini lah yang tidak aku dapatkan dari Aurel, teman bicara yang sepemikiran dan mau mendengar kan semua keluh kesah pasangan nya. Jika saat dengan Aurel kami hanya saling diam dan akan bicara jika Aurel sedang ada mau nya. Hingga akhirnya aku tahu penyebab nya diam terus menerus dan tidak mau memiliki anak dari ku. Dan itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan bagi ku.

__ADS_1


__ADS_2