
Aku memutuskan untuk mengajak Andin pulang karena jika di kantor pun aku tidak fokus bekerja, beruntung nya saat sedang seperti ini semua pekerjaan ku sudah ku selesai kan semua.
Aku mengajak nya pulang ke rumah, namun Andin tetap tidak berkata apapun bahkan saat kami jalan bersama pun ia tetap diam beribu bahasa.
Semua karyawan menatap ku heran dengan semua ini. Pasti mereka sudah tahu jika ini semua karena ulah siapa.
Saat sedang di dalam lift tiba-tiba Devan masuk ke dalam lift yang ada kami di sana. Andin hanya cuek tanpa menatap ke arah Devan maupun aku.
Sedangkan Devan menatap Andin seolah ... Arghhhhh aku tidak suka ia menatap Andin seperti itu, rasanya ingin ku pecah kan kepala nya itu.
Aku benar-benar tidak menyukai semua nya, aku cemburu meskipun Devan hanya menatap Andin saja! Tetapi hati ini tidak terima.
Aku merangkul bahu Andin di depan Devan, agar ia tahu sedang berurusan dengan siapa dia sekarang.
"Tidak baik jika menatap istri orang seperti itu!" Ucap ku pelan.
Devan langsung menoleh ke arah lain, ia tidak lagi menatap Andin seperti tadi dan aku berharap ia cepat di pulangkan ke kantor yang di sana atau dia di pindah kan saja ke lapangan biar dia berurusan dengan oli dan yang lain nya.
Kini kami sudah berada di dalam mobil, aku melaju dengan kecepatan tinggi agar kami cepat sampai di rumah.
Sesampainya di rumah Andin langsung masuk dan mandi setelah itu ia menghampiri kanza di kamar nya bersama bi Siti, tanpa menegur ku.
Setelah mandi aku mengikuti nya ke kamar kanza, namun ia mengelak dan enggak bicara pada ku.
"Aku mau siap kan makan dulu, bibi tolong ini pegang dulu saya mau siapkan makan malam."
__ADS_1
"Baik bu" ucap bi Siti.
Aku tetap mengekor di belakang nya meskipun ia tetap tidak bicara dengan ku, aku tidak peduli aku akan terus berusaha untuk membuat nya kembali pada ku.
Di dapur ia hanya mengobrol dengan bi Juminten tanpa mengajak ku, sungguh aku seperti patung di sini.
Kami makan dengan senyap tanpa ada obrolan apapun, hanya ada dentingan sendok, garpu dan piring yang terdengar.
Saat di kamar aku mengajak nya bicara terlebih dulu, karena aku tidak tahan jika ia terus mendiami ku seperti ini. Namun, sebelum itu aku mengunci pintu terlebih dahulu agar terdengar hingga keluar kamar.
"Sayang, bicaralah padaku!" Ucap ku.
"Aku harus bagaimana untuk membuat mu percaya jika aku dan Aurel tidak selingkuh."
"Ndin, bicara lah sayang!"
"Apapun asal jangan diami aku seperti ini."
"Ya sudah aku mau tidur saja!"
"Andin ..." Teriak ku.
Seketika ia langsung menoleh ke arah ku karena teriakan ku barusan.
"Kenapa mas? Jangan teriak-teriak nanti orang dengar."
__ADS_1
"Aku tidak peduli, aku hanya tidak suka jika kamu mendiami ku seperti ini. Aku sudah berulang kali menjelaskan jika aku tidak ada hubungan apapun dengan Aurel aku harus ngomong berapa kali sih?"
"Ya sudah jika memang begitu, lalu apa lagi?"
"Jangan diami aku!"
"Mas, sekarang aku tanya kamu ya! Kalau posisi kamu dengan Andin di balik, jadi aku dan Devan apa kamu akan terima begitu saja? Jelas tidak bukan? Begitu juga aku mas, aku melihat dengan mata kepala ku sendiri jika kamu dengan Andin melakukan nya. Bahkan kamu terlihat menikmati semua itu!"
"Itu semua tidak benar sayang!"
"Sudah lah mas, aku mengantuk aku mau tidur dulu."
"Jangan seperti ini Andin."
"Mas, tolong ngerti kan aku sekali saja. Aku butuh mencerna semua penjelasan mu dan tolong jangan desak aku seperti ini."
"Sampai kapan aku harus menunggu? Aku tidak ingin kamu kembali dengan Devan, apa lagi tadi Devan menatap mu seolah ... Arghhhhh pokok nya aku tidak suka itu."
"Nah mas juga tidak suka kan jika mantan ku menatap ku seperti itu! Bagaimana dengan aku?"
"Iya-iya aku akui aku salah."
"Sudah tidur lah hari sudah malam."
Andin berbaring membelakangi ku, aku masih berdiri menatap nya dengan tatapan tidak mengerti apa yang ia maksud kan.
__ADS_1
Aku selama ini selalu menuruti semua kemauan nya, bahkan aku mengizinkan nya untuk bekerja lalu sekarang apa? Ia meminta ku untuk mengerti dengan nya?