
Kairo mengalihkan tatapannya. Dia tak berani menjawab pertanyaan mamanya karena terlalu malu. Ahhh Kairo, pria yang dingin, cuek dan tak banyak berekspresi itu memiliki sesuatu yang dia sembunyikan.
Sesuatu yang hanya dirinya dan hatinya yang tahu. Sesuatu yang membuatnya bisa ada di titik sekarang.
"Kairo?" Panggil Zelia dengan menggoda.
"Udah, Ma. Gak ada suka sukaan. Gak ada cinta-cinta, Ma. Kairo cuma cinta Mama," Ujarnya dengan memeluk Mamanya dari samping lalu memberikan ciuman singkat di kepalanya.
Zelia hanya tersenyum kecil. Dia sangat tahu bagaimana putranya yang satu ini. Kairo selalu memendam apa yang dia rasakan.
Terlalu memiliki problem dalam hidupnya. Memiliki masalah dan membuatnya menjadi sosok seperti ini. Zelia sering mengatakan bahwa Kairo masih punya dirinya.
Kairo tak sendiri. Dia bisa bercerita pada dirinya. Namun, tetap saja, Kairo selalu memendam semuanya.
"Ingat pesan Mama yah! Jangan memendam terlalu lama dan jangan menggantungkan sebuah hubungan," Kata Zelia menasehati dengan pelan.
Kairo hanya mengangguk. Dia tersenyum sampai akhirnya matanya tanpa sengaja menatap kedatangan papa dan adiknya itu ke arah keduanya. Tentu hal itu membuat Kairo melepaskan pelukan mereka.
"Bunda," Panggil seorang pria dengan wajah yang memiliki kemiripan dengan Frans mendekat lalu memeluk Zelia.
"Hai, Sayang. Kapan kamu pulang?" Tanya Zelia pelan pada putranya itu.
"Sudah hampir seminggu Kaisar disini. Tapi… "
"Kamu tidur di kondomu kan?" Tebak Zelia yang membuat Kaisar hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Zelia memukul lengan anaknya pelan. Dia paling kesal dengan anak keduanya ini. Kaisar selalu melakukan hal itu ketika dia pulang. Dia tak akan langsung pulang ke rumah mereka melainkan bermain terlebih dahulu.
"Iya, Bunda," Sahut Kaisar dengan wajah bersalahnya. "Maafin Kaisar yah, Bun. Kaisar bakalan pamit lagi kalau keluar!"
Zelia mengangguk. Dia tahu anaknya itu juga sudah berusaha keras saat ini. Sampai di titik ini adalah bukan hal yang mudah. Zelia adalah saksi kunci bagaimana suaminya itu mendidik Kaisar.
"Sayang, ayo pulang!" Ajak Frans dengan entengnya dan membuat Zeli terkejut bukan main.
Wanita dengan dua orang itu berjalan ke arah suaminya dan memegang tangannya.
"Ini masih jam berapa, Sayang? Aku masih ingin disini," Kata Zelia menolak ajakan suaminya.
Dia tahu Frans tak nyaman. Dia tahu Frans ragu berada disini. Dari ekspresi wajahnya saja Zelia tahu jika masalah di antara mereka dalah masalah yang sama.
"Ini sudah malam," Kata Frans tak mau mengalah.
"Mas!"
"Kumohon, Mas. Hanya kali ini saja sampai larut malam yah?" Rengek Zelia tak mau mengalah.
__ADS_1
"Ze!" Kata Frans dengan nada suara tegasnya. "Ayo pulang!"
Zelia memejamkan matanya. Dia benar-benar tak bisa melembutkan hati suaminya demi anaknya itu. Zelia selalu berada di antara mereka. Menjadi perantara dan berusaha untuk membuat suaminya menerima Kairo di dekatnya.
"Iya!" Jawab Zelia dengan lemah.
Perempuan itu mengalihkan tatapannya pada sang putra, Kairo. Putra pertamanya yang mengadakan acara besar ini.
Acara yang dia lakukan karena suksesnya dan lancarnya kerjaan mereka dalam event besar kemarin. Lalu, sekaligus ulang tahu perusahaan yang membuat acara ini dibuat seramai dan semegah ini.
"Mama pulang dulu ya, Nak," Kata Zelia dengan menatap Kairo berkaca-kaca.
Kairo mengangguk. Dia menghapus ujung mata ibunya dengan pelan.
"Jangan menangis, Ma. Kairo disini kuat," Jawabnya yang membuat Zelia mengangguk percaya.
Akhirnya keluarganya itu pulang. Ya, Zelia, Frans dan Kaisar. Tiga orang itu meninggalkan dirinya seorang diri di acara perusahaannya.
Dia benar-benar tak bisa mencegah orang tuanya itu. Mencegah orang tuanya untuk bertahan di tempat ini. Tempat dimana mereka harus terlihat sebagai satu keluarga bahagia.
"Maafkan Kairo, Ma. Dan terima kasih karena sudah peduli denganku selama ini," Lirihnya sambil menghapus air matanya dengan pelan agar tak ada seorangpun yang melihatnya.
***
Disana terdapat beberapa stafnya yang menjaga stand, menjaga makanan agar tetap aman dan bersih. Semuanya benar-benar dijaga dengan benar oleh restoran Dayana.
"Sudah, Nona. Semuanya sudah kami isi kembali," Kata salah satu staf dengan sopan.
Akhirnya Dayana meletakkan tempat salad itu di tempatnya. Dia juga ikut merapikan meja prasmanan yang kotor dari sampah seperti tisu.
"Baiklah. Ya sudah. Ayo yang tak ada kebutuhan, lihat dari dalam yah!" Kata Dayana meminta beberapa staf yang tak ada jadwal berjaga harus lebih banyak istirahat.
Saat perempuan yang sejak tadi diam kini mendapatkan zona nyamannya. Dia benar-benar suka seorang diri. Suka dirinya sendiri dan juga suka jika seseorang mengerti dirinya dan begitupun sebaliknya gak sih?
"Ternyata kamu disini?" Ledek suara seorang perempuan yang sangat familiar di telinganya.
Seorang perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah Tessa. Perempuan yang menghancurkan pernikahannya yang masih seumur jagung.
"Bagaimana kabarmu, Day? Apa kau masih menangis darah karena ditinggalkan?"
"Ditinggalkan?" Ulang Dayana dengan tenang.
Apa telinganya tak salah dengar. Pihak mana yang harusnya minta maaf dan pihak mana yang menyebarkan.
Jujur Dayana rasanya ingin tertawa sendiri. Tingkah siapa disini yang memancing tapi siapa yang harus minta maaf.
__ADS_1
"Aku takut ditinggalkan? Ditinggalkan oleh suami seperti dia?" Ulang Dayana dengan melirik ke arah suaminya.
Ahh bukan suami lagi. Melainkan mantan suami yang berkelana kesini.
"Apa kau berbicara sambil bermimpi heh?" Tanya Dayana dengan heran.
Dayana maju beberapa langkah. Dia berdiri di depan Tessa dengan tepat. Menatap pasangan suami istri itu depannya dengan tenang dan tanpa ocehan apapun.
"Ambil semua milik suamiku itu. Aku tau kau menampung banyak pria bukan?"
"Apa maksudmu?" Seru Tessa dengan kembang kempis.
"Aku hanya mengatakan hal yang jujur bukan?" Seru Dayana dengan menatap Tessa tajam. "Kau adalah tempat pembuangan sampah jika tak ada lagi. Semua yang membusuk akan kau ambil disini."
"Brengsek. Kau!"
"Tahan, Tessa! tahan!" Pekik Dayana dengan pelan.
Tangan itu perlahan mencengkram tangan Tessa. Wanita itu benar-benar bar bar sekali yah. Tak ada anggunnya sedikit pun.
"Jangan pernah memegang tubuh atau bajuku menggunakan tangan kotormu itu!" Seru Dayana dengan cepat.
Kecewa? Tentu saja.
Menangis? Apalagi!
"Dasar ******!"
"Jika aku ******, lalu kau apa?" Tanyanya dengan cepat.
"Kau sampah!" Lanjut Dayana dengan entengnya
"Brengsek. Kau!"
"Jangan berbuat ulah disini!" Seru Kairo dengan cekatan.
Dia menatap Tessa dengan amarah yang besar. Pria itu juga menarik lengan Dayana sampai bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Jika kau datang hanya untuk merusak, silahkan kalian pergi dari sini!"
~Bersambung
Hiyaa Mas Kairo kok manis banget.
Usir aja, Mas. Usir!
__ADS_1