Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire

Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire
KEHANCURAN RIO


__ADS_3

"Oh ya, Pa. Dayana lupa bilang sama, Papa," ucap Dayana dengan menatap sosok papanya.


"Ada apa?"


"Mas Rio meminta hak dari restoran. Dia bilang modal restoran adalah uang darinya," kata Dayana mengatakan semuanya.


Pertemuan dengan pengacara. Apa yang mereka bahas semua Dayana katakan pada Jimmy. Dia benar-benar tak bisa menutupi apapun kecuali perlakuan Reynand padanya.


Selain hal itu, Dayana akan terbuka pada Jimmy. Dia akan lari ke pelukan pria itu ketika memiliki kabar bahagia ataupun buruk. Dayana selalu berusaha menceritakan apapun dengan papanya karena menurutnya Jimmy benar-benar tempat sandaran terbaik meski dia sudah sedewasa ini.


"Kamu ambil jalur pengadilan?"


"Tentu. Dayana gak mau hak yang menjadi milik Day sama Papa diakui olehnya. Restoran ini milikku dan Papa Jimmy. Jadi apapun itu, bakalan Day perjuangin!" seru Day dengan menggebu-gebu.


Jimmy tersenyum. Dia benar-benar merasa bahagia dengan jiwa usaha putrinya. Hal itulah yang membuat Jimmy dengan nekat berani mendidik dan membesarkan Dayana.


Perempuan yang saat ini berada di depannya. Perempuan yang dibesarkan dengan tangannya sendiri. Perempuan yang dia didik dan dia temani jalan lika liku sejak masih kecil.


Perempuan luar biasa yang dia sayangi seperti anaknya sendiri.


"Papa juga lupa bilang sama kamu, Day," kata Jimmy dengan mengambil ipad yang sejak tadi ada di pangkuannya itu.


"Ada apa, Pa?"


"Kamu harus membacanya!" ucap Jimmy dengan tersenyum miring.


Jika seperti ini. Dayana tahu ada sesuatu yang sudah dilakukan papanya itu. Pasti ada campur tangan papanya yang terjadi. Dan hal itu tentu membuat jantung Dayana berdegup kencang.


Dayana sangat tahu jika sudah papanya uang bergerak. Maka semuanya akan selesai. Semuanya benar-benar akan hancur jika papanya yang bergerak.


Dengan penasaran. Akhirnya Dayana mulai menghidupkan layar ipad itu. Dia mulai membuka sesuatu yang sudah disiapkan papanya.


Hingga tiba-tiba muncullah beberapa deretan tulisan berita di web. Dayana membaca itu dengan mata melebar tak percaya.


"Karyawan Mahatma Grup mendemo CEO mereka karena gaji ditahan!"


"Mahatma Grup dikabarkan bangkrut!"


"CEO Mahatma Grup korupsi, gaji karyawan ditahan, polisi menutup perusahaan ini."

__ADS_1


Dayana menelan ludahnya paksa. Dia benar-benar mengedipkan matanya berulang kali tak percaya dengan apa yang dia baca. Dia membaca kapan ini diumumkan.


"Sekarang?" ucap Dayana dengan jantung benar-benar berdebar kencang.


"Pa… " panggil Day dengan menoleh ke arah papanya yang tersenyum padanya.


"Papa pernah bilang kan? Jangan pernah menyakiti hati anak papa jika tak mau berurusan dengan Jimmy!" ujar Jimmy dengan memukul dadanya.


Mata Dayana berkaca-kaca. Dia benar-benar selalu dibuat bangga dengan papanya. Dia benar-benar merasa dijaga oleh Jimmy. Dia benar-benar menjadi bukti bahwa Jimmy adalah sosok yang telah berubah.


Berubah dengan pesat. Dari dia yang egois kini sudah lebih memikirkan keluarga. Hubungan keluarga yang sudah membaik. Hubungan keluarga yang benar-benar dulunya menjauh dengan adanya Dayana kini mulai dekat.


"Jangan menangis. Papa tak mau kau menangisi pria brengsek sepertinya!"


Dayana mengangguk. Dia menghapus air mata yang membasahi wajahnya dan memegang tangan Jimmy secara perlahan.


"Makasih, Pa. Makasih banyak udah sayang sama Day. Makasih banyak udah jadi pengganti Mama buat Day. Makasih udah selalu ada buat Day," ucap Dayana dengan tulus.


Jimmy mengangguk. Keduanya kembali berpelukan dengan perasaan bahagia.


"Mama pasti bahagia di atas sana kan, Pa?" tanya Day pada Jimmy dengan menatap ke arah langit.


Dia diam bukan karena tak melakukan apapun. Jimmy benar-benar menunggu saat yang tepat. Dia akan melakukan apapun itu di waktu yang benar-benar akan menghancurkan musuhnya.


"Mulai sekarang, kamu harus benar-benar bahagia, Day. Janji sama Papa yah. Jangan pernah nangis lagi. Kamu harus bahagia dengan versi Day sendiri!"


Dayana mengangguk dalam pelukan Jimmy. Dia benar-benar berjanji pada dirinya. Dia akan bahagia dengan dirinya yang sekarang. Menghargai apa yang datang dan dia punya. Menyembuhkan segala sakit yang pernah menyakiti dan berusaha membiarkan semuanya berjalan seperti biasanya.


"Dayana pasti bahagia, Pa. Dan Papa juga harus bahagia!"


***


Jika dirumah Jimmy hanya ada ketenangan dan kebahagiaan. Berbeda dengan di sebuah bangunan yang terlihat berantakan dengan barang yang dilempar ke lantai.


Pecahan kaca dan beberapa perabot tentu membuat rumah itu bak kapal pecah. Semua saling menyalahkan dan teriakan itu membuat siapapun tak ada yang berani mendekat.


"Apa yang kau lakukan, Mas. Kau!" Teriak Tessa dengan membabi buta.


"Tessa!" Balas Rio tak kalah berteriak.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa bangkrut, Mas! Hah! Bagaimana bisa! Kau benar-benar memakan semua gaji karyawanmu. Iya?"


Rio Mahatma sudah sangat frustasi. Dia benar-benar menghadapi ujian masalah keuangan sejak awal. Dirinya bahkan rela mengurangi gajinya sendiri demi mempertahankan perusahaan. Dia juga benar-benar hidup yang serba kekurangan saat bersama Dayana.


Namun, jujur Rio tak tahu bagaimana istrinya itu membagi uang setiap bulannya. Dayana tak pernah mengeluh, Dayana bahkan tak pernah meminta uang. Bahkan jika dihitung gaji yang sudah dia dapatkan akan kurang jika dipotong dengan biaya keluarga, cicilan dan belum lagi orang tuanya.


Namun, mantan istrinya itu benar-benar bisa membagi semuanya. Bisa melakukan apapun dengan sangat baik. Namun, sekarang!


Kehidupannya benar-benar jungkir balik. Dia yang harusnya memoting gajinya sendiri untuk menutupi kekurangan perusahaan. Akhirnya kalah juga.


Istrinya yang sekarang. Tessa tak bisa membagi uang. Bahkan wanita itu selalu meminta uang lagi jika gajinya tak cukup untuk semuanya.


"Apa kau sadar! Kau itu terlalu boros, Tessa! Uang segitu harusnya cukup selama satu bulan!" pekik Rio dengan menunjuk Tessa yang nafasnya naik turun.


Mata wanita itu memerah. Tangannya mengepal dan wajahnya benar-benar tegang. Tessa benar-benar emosi dan marah. Dia benar-benar diluar kendali.


"Kau itu tak seperti Dayana. Dayana bisa mencukupi semuanya dengan uang itu. Dia tak pernah mengatakan kurang. Dia sangat hemat. Tak sepertimu yang boros?"


Plak.


Sebuah tamparan langsung Tessa berikan. Dia benar-benar merasa panas ketika nama wanita lain disebut. Dia benar-benar semakin kebakaran saat suaminya dengan bangga memuji wanita yang merupakan mantan istrinya.


"Kenapa kau menamparku, Tess? Kau… "


"Kau berhak mendapatkan itu, Mas!" Seru Tessa dengan wajahnya yang benar-benar tegas. "Kau tahu, dia itu bukan istrimu lagi."


"Istrimu itu aku! Aku yang harusnya kau puji. Bukan wanita lain. Bukan wanita gila yang pura-pura tak punya apapun tapi ternyata kaya raya!"


Tessa benar-benar membabi buta. Dia benar-benar benci dengan nama Dayana. Ditambah suaminya yang memujinya secara terang-terangan semakin membuat ketidak sukaannya meningkat.


"Jangan pernah membandingkanku dengan wanita gila itu. Dia kalah jauh dari aku, Mas! Wajahnya saja kalah jauh. Dia benar-benar wanita biasa saja dan kau masih bangga padanya!" Seru Tessa dengan percaya diri.


Rio benar-benar terpancing. Apalagi tamparan itu membekas di pipinya dan membuatnya benar-benar ingin rasanya membalasnya.


"Mas!" Seru Tessa saat rambutnya dijambak dan membuat kepalanya ke belakang.


Rasa sakit itu tentu terasa di kepalanya dan hal itu membuat mata Tessa tanpa diminta terpejam untuk menahan rasa sakit itu.


"Kau sangat jauh jika dibanding dengan Dayana. Jika boleh memilih, aku akan lebih memilih istriku Dayana. Daripada kau, Wanita sampah!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2