
Kairo benar-benar merasa menemukan tempat ternyaman di rumah Clein. setiap kali dia ke sana, setiap kali dia bertemu ibunya. Clein selalu membuatnya seperti anak kecil yang membutuhkan dja.
Clein benar-benar selalu memanjakannya. Memanjakan dalam artian. Dia selalu memasak makanan ketika ada dirinya disini. Clein selalu membuatnya seperti berada di rumah yang besar dan nyaman.
Ya, meski kenyataan rumah ini memang kecil. Memang kenyataan rumah ini jauh lebih kecil daripada ruang tamu di rumah Frans. Namun, tempat ini adalah zona nyaman bagi Kairo.
Disini, dirumah ini, dia bisa menjadi Kairo yang apa adanya. Kairo yang memang masih membutuhkan kasih sayang orang tua. Kairo yang benar-benar masih manja ketika bersama orang tua.
Hingga terkadang, banyak hal yang Kairo ceritakan pada ibunya. Ya, apapun itu, dia tak pernah luput untuk memberikan kabar terbaru pada ibunya tentang dirinya. Entah itu tentang pekerjaan atau tentang dirinya sendiri.
"Bu," panggil Kairo sambil melihat ibunya yang tengah bergerak ke kanan dan ke kiri.
Clein yang saat itu memang sedang memasak untuk putranya spontan berjalan ke pantry.
"Kenapa, Kai?" tanya Clein pada anaknya.
"Bagaimana kalau Kairo menikah tahun ini?" tanya Kairo dengan takut sambil menundukkan pandangannya.
Jujur Kairo tak berani menatap ibunya. Dia masih takut jika apa yang dia katakan barusan akan membuat kontra dengan ibunya. Keterdiaman Clein malah semakin membuat nyali Kairo menciut.
Bukan perihal dia tak kuat membiayai Dayana. Bukan perihal dia takut akan dirinya yang tak bisa mendidik Dayana. Melainkan izin ibunya ini tetap nomor satu untuknya.
Kairo ingin ibunya menjadi orang pertama yang tahu akan pernikahannya. Dia ingin Clein menjadi seseorang yang akan datang di hari spesialnya.
"Bu… "
Clein perlahan memegang tangan putranya. Dia memegang tangan itu dengan lembut hingga tatapan Kairo perlahan mendongak. Disana, di tempat dia duduk. Dia mampu melihat bekas air mata yang mengalir di ujung matanya.
Dia bisa melihat tatapan yang sangat sulit untuk dijabarkan.
"Kamu sudah siap?" tanya Clein dengan pelan. "Untuk materi. Ibu yakin kamu siap, Kai."
"Ibu tak meragukan kehidupan materi kamu. Yang ibu tanyakan disini, kamu sudah siap menjadi seorang kepala keluarga?"
"Kamu sudah siap menjadi calon ayah dari seorang anak yang nanti akan menjadi tanggung jawabmu?"
"Kamu siap menjadi sosok kepala keluarga yang membimbing, mendidik dan menjaga istri serta anakmu dari hal apapun itu?"
__ADS_1
Clein mengatakan itu dengan wajah serius. Dia benar-benar melihat putranya dengan pandangan tak bercanda.
Menurut Clein, menikah bukan perkara menyatukan cinta. Menurut Clein, menikah bukan hanya kesiapan materi. Melainkan menikah adalah kesiapan mental dan batin yang harus menjadi satu agar pernikahan itu benar-benar membawa kedua suami istri ke jalan yang benar.
Meskipun Clein dulu bukan dari keluarga yang bahagia. Meskipun Clein bukan dari keluarga yang benar-benar mengenal agama. Namun, perempuan itu benar-benar berusaha menjadi sosok yang lebih baik selama di rumah ini.
Dia benar-benar menjadi sosok yang berbeda. Berkumpul dengan kumpulan para ibu-ibu tetangga rumahnya yang kajian. Semua itu dia lakukan untuk mengusir kebosanan.
"Nak," panggil Clein sambil mengusap punggung tangan Kairo dengan lembut. "Kalau kamu ingin menikah tahun ini, ibu setuju."
"Siapapun nanti yang akan menjadi calon istrimu. Ibu yakin, kamu sudah bisa memilih mana yang baik untuk jadi istri dan mana yang nggak. Tapi, ibu hanya titip satu hal…"
"Jangan menjadi calon suami yang buruk untuk istrimu nanti. Jangan menjadi calon suami yang salah untuk keluargamu, Nak."
"Kamu adalah calon kepala keluarga, calon suami dan calon ayah. Suatu hari nanti, kamu akan memegang tanggung jawab yang besar ketika sudah menikah."
Ahh Kairo merasa tenang. Entah kenapa nasehat ibunya membuatnya Kairo mulai paham. Nasehat ibunya membuat Kairo mengerti jika menikah bukan hanya tentang cinta. Melainkan antara kedua orang yang disatukan dalam ikatan akan halal.
"Jadi kamu paham maksud Ibu, kan?" tanya Clein pada putranya.
Kairo mengangguk. Pria tampan itu mencium punggung tangan Clein dengan sayang.
Clein mengangguk. Dia perlahan melepas genggaman tangan putranya dan kembali fokus pada masakannya. Namun, sebelum itu, Clein sedikit berbalik dan membuat Kairo menatap dengan bingung.
"Bawa calon menantu ibu kesini. Ibu juga ingin mengenalnya," kata Clein tiba-tiba yang membuat Kairo tertawa kecil dengan tingkah ibunya.
Akhirnya pertemuan itu begitu membahagiakan. Kairo yang benar-benar dijamu dengan baik oleh ibunya membuat pria itu hampir lupa waktu. Untung saja, Kaisar mengirimkan pesan untuknya dan membuatnya sadar.
Akhirnya perpisahan itu kini terjadi. Hal yang paling tak Kairo sukai setelah dia bertemu ibunya. Dirinya memeluk ibunya dengan erat dan mencium puncak kepalanya.
"Nanti Kairo bakalan datang kesini lagi ya, Bu. Ibu jaga kesehatan. Ingat kata Kai! Jangan kerja terlalu keras. Kairo bakalan kirim uang buat, Ibu. Paham?" kata Kairo dengan tegas dan itu selalu terjadi setiap kali dia akan pulang.
Dia tahu bagaimana sikap ibunya. Ibunya ini selalu bilang tak mau merepotkan dirinya. Apalagi jika Frans tahu mereka tetap berhubungan. Dia tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana kemarahan Frans nanti.
"Kai… "
"Bu! Aku gak peduli Papa marah atau nggak. Yang pasti, Ibu jangan terlalu keras untuk jualan. Kai bakalan tetep kirim uang bulanan ibu. Oke!"
__ADS_1
Akhirnya mau gak mau. Menolak atau nggak. Dia tahu putranya tetap keras kepala seperti mantan kekasihnya. Dia sangat tahu jika sikap Kairo memang sebelas dua belas dengan Frans.
Keduanya sama-sama selalu egois dengan kemauan mereka.
"Iya. Ibu janji!"
Kairo mengangguk. Dia memeluk ibunya lagi dan mencium pucuk kepalanya.
"Kai pulang ya, Bu. Ibu hati-hati. Assalamu'alaikum!"
***
Jika Kairo pulang dengan bahagia. Berbeda dengan Dayana. Perempuan cantik itu tengah bekerja di restoran dan membantu para karyawan melayani pengunjung yang padat.
Dia benar-benar bukan hanya memasak. Dayana ikut keluar membantu mengeluarkan setiap pesanan dan mengantar ke meja pembeli.
Dia benar-benar melakukan itu dengan bahagia. Dia benar-benar bahagia melakukan banyak hal untuk dirinya. Restoran ini benar-benar nyawanya. Restoran ini benar-benar menjadi tempat dirinya berlindung ataupun melampiaskan kesedihan.
"Kak Day!" panggil seorang pria yang berdiri di balik kasir.
Day muncul. Dia melongokkan kepalanya untuk melihat temannya itu.
"Ada apa?"
"Pesanan ruangan VIP. Jangan lupa!"
Dayana mengangguk. Dia lekas mengambil nampang besar dan meletakkan beberapa pesanan disana. Dia akan mengantar pesanan itu sendiri yang seperti dibuat untuk dua orang.
"Kak Day gak mau pakai meja pendorong aja? Ini lumayan berat," kata seorang stafnya saat Dayana menata di atas nampan.
"Toko ramai. Kita gak ada waktu. Ayo, aku akan mengantarnya"
Akhirnya Dayana mulai membawa pesanan itu keluar. Dia mulai menatap kedepan dan ya banyak lalu lalang pengunjung. Dia benar-benar bahagia melihat kondisi restorannya yang ramai.
Namun, saat dirinya hampir saja berbelok menuju ruang VIP. Dia melihat beberapa orang pria berpakaian rapi datang dan saat dirinya hampir mencapai pintu ruang VIP. Terlalu penuh di depan sana membuatnya mulai oleng dan tanpa sengaja nampaknya menyenggol seorang pria berpakaian jas rapi yang ada di dekatnya.
"Astaghfirullah. Tuan… Maaf," kata Dayana dengan terkejut.
__ADS_1
"Tuan Frans. Anda baik-baik saja?" tanya seorang pria yang muncul ke arah pria dengan pakaian rapi itu untuk mengecek kondisi pria yang dia senggol.
~Bersambung