
Dayana benar-benar merasa bahagia dengan pertemuan pertama ini. Dia merasa dihargai, diperhatikan dan juga Zelia tak sedikitpun merendahkannya. Perempuan itu benar-benar memberikan kenyamanan dalam diri Dayana.
Dayana yang mukanya minder, takut dan juga ragu. Kini mulai percaya diri. Dayana memiliki kekuatan dan support dari Zelia yang membuatnya mulai yakin dengan apa yang dia miliki.
Dayana selalu ingat. Satu nasehat dari Zelia yang membuatnya tak malu dengan apa yang dia miliki hari ini.
"Jangan pernah merasa tak cukup dengan apa yang kamu miliki sekarang. Lihatlah ke bawah! Disana, masih banyak yang jauh dan kurang dari kamu yang sekarang."
Satu hal yang membuatnya seperti mendapatkan booster. Kata-kata yang menjadikan Dayana memiliki support system dari wanita yang sangat dia sukai.
Wanita yang membuatnya bahagia. Wanita yang membuatnya sangat amat bangga pada Zelia.
Sejak pertemuan pertama mereka. Dayana sangat menyanyangi Zelia, suka pada sikapnya dan bangga dengan apa yang dia lakukan padanya.
"Day," panggil Kairo saat Dayana selesai makan.
Panggilan itu bukan hanya membuat Dayana beralih. Namun, Zelia yang juga selesai makan ikut menoleh.
"Iya?" Sahut Dayana dengan lembut.
Kairo beranjak berdiri. Dia menggeser kursi yang ada di sampingnya lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Dayana awalnya masih biasa saja. Namun, saat Kairo mulai membuka sesuatu dari tangannya lalu berlutut di hadapannya hal itu spontan membuatnya terkejut.
Dayana membelalakkan matanya lebar. Menatap Kairo dengan pandangan yang benar-benar tak percaya. Dia seperti ragu dan takut. Dia merasa semua ini seperti mimpi untuknya.
Hal yang selalu dia impikan. Hal yang selalu menjadi bunga tidurnya dulu. Bertemu pria yang mencintainya, menghargai dirinya. Memiliki mertua yang baik padanya juga.
Semua hal yang dia kira hanya akan menjadu bunga tidurnya. Hal yang dia kira tak akan terwujud kini ada di hadapannya. Ya, semua itu benar-benar terjadi. Semua itu benar-benar nyata dihadapannya dan itu dilakukan oleh seorang Kairo.
Ya, pria yang menyukainya lebih dulu. Pria yang mengejarnya tanpa lelah. Membuktikan cintanya jika nyata. Membongkar tembok besar trauma dalam diri Dayana hingga dia mau menerima sosok Kairo dalam hidupnya.
"Dayana," Kata Kairo mencoba menyusun kata-kata. "Aku mungkin tak bisa mengatakan banyak hal padamu. Aku tak bisa menjanjikan kamu akan selalu bahagia bersamaku."
__ADS_1
Kairo menjedanya. Dia benar-benar tak bisa menjanjikan apa-apa pada Dayana. Dirinya sangat menyadari jika yang dia rasakan hari ini, dia jalani hari ini bukanlah hal mudah.
"Aku hanya bisa mengatakan, jika kau memiliki, menerimaku dalam hidupmu dan memulai semuanya dari awal. Aku akan berusaha untuk mengutamakan kebahagiaanmu di atas kebahagiaanku. Aku akan mengajakmu mencari kata bahagia itu bersama. Dengan bergandengan tangan dan melewati semua banyaknya masalah secara bersama."
Kairo mulai mengangkat kotak beludru yang menunjukkan sebuah cincin berlian dengan akan permata di atasnya yang sangat amat sederhana tapi begitu cantik. Satu pertama yang sangat amat manis itu membuat siapapun yang melihatnya langsung jatuh cinta.
"Maukah kamu menikah denganku? Melewati sisa umur yang kita punya bersama-sama dan membangun sebuah rumah tangga yang bahagia?"
Dayana meneteskan air mata. Dia tak menyangka jika Kairo seberani ini. Bahkan secepat ini menurutnya. Dia yang berpikir jika pria itu akan menikahinya dalam tempo waktu yang lama. Ternyata diluar dugaan. Kairo benar-benar pria spesial untuknya.
"Aku… "
Dayana tak tahu harus menjawab apa. Dia benar-benar bahagia sekarang. Jika boleh meloncat, dia akan meloncat bak anak kecil berkeliling cafe. Dia benar-benar sangat amat terharu dengan pernyataan Kairo.
Ditambah cincin manis itu semakin membuat Dayana yakin cinta Kairo padanya bukan main-main.
"Day," Panggil Zelia yang membuat Dayana menoleh. "Mantapkan hatimu, Nak. Mama juga tak menjanjikan apapun. Ikuti kata hatimu sekarang. Apa yang kamu yakini, maka itu yang akan menuntunmu nanti di masa depan."
Dayana mengalihkan tatapannya. Dia menatap ke arah Kairo dengan pelan. Tatapan mata penuh cinta, senyuman manis yang hanya ditujukan padanya benar-benar membuat Dayana seperti manusia yang sangat amat spesial.
Dia mulai menarik nafasnya dengan pelan. Menatap Kairo yang masih menunggu jawabannya dengan tatapannya teduh yang selalu membuat Dayana tenang.
"Bismillah," Batin Dayana mylai berucap. "Aku mau."
Dua kata yang membuat siapapun yang mendengar bertepuk tangan. Bukan hanya Kairo dan Zelia. Melainkan semua orang yang ada di dalam cafe. Semua orang yang menjadi saksi bukti Kairo melamarnya saling bertepuk tangan. Mereka semua ikut bahagia dengan jawaban Dayana sampai beberapa dari mereka mendoakan kebahagiaan untuk Kairo Dayana.
Dengan pelan, Kairo melepas cincin itu dari kotak beludru. Memakaikan cincin itu dengan pelan ke jari manis Dayana lalu mencium punggung tangannya.
Perlakuan manis yang semakin membuat Dayana menangis. Perlakuan manis yang selalu berhasil membuat Dayana meneteskan air matanya.
"Terima kasih banyak, Day. Aku akan membuktikan bahwa kamu tak salah memilih untuk menghabiskan hari tua bersamaku," ucap Kairo dengan pelan sambil mengusap air mata yang menetes di kedua pipi Dayana.
***
__ADS_1
Setelah melewati hari yang panjang. Momen yang begitu membahagiakan. Akhirnya Dayana mulai turun dari mobil dengan senyuman yang cerah. Sejak tadi dia juga tak lupa menatap cincin manis yang sudah tersemat di jarinya.
Dia benar-benar menatap cincin itu dengan lekat. Seakan takut jika apa yang dia lihat benar-benar hanyalah mimpi belaka untuknya. Dia takut apa yang dia miliki sekarang akan menghilang dari dirinya. Namun, ternyata semua ketakutannya salah.
Sampai di rumah, semua itu masih sama. Perasaan bahagia, dirinya yang berjalan dengan bahagia ke dalam rumah bersama cincin yang terus bersamanya.
Hal itu semakin membuatnya semangat ketika melihat sosok papanya yang sudah duduk di ruang tamu dengan beberapa komputer di depannya.
"Papa!" Pekik Dayana dengan bahagia.
Jimmy tentu saja menoleh. Dia tersenyum lalu meminta anaknya mendekat.
"Kenapa putri papa terlihat bahagia?" tanya Jimmy dengan pelan pada Dayana yang mulai duduk di sampingnya.
"Pa, lihat!" Dayana menaikkan tangannya.
Menunjukkan sebuah cincin yang cantik di jari manisnya hingga membuat Jimmy mampu melihatnya.
Bibir pria itu tersenyum. Dia mengalihkan tatapannya dan menatap wajah putrinya yang benar-benar bahagia.
"Aku dilamar, Pa. Pria yang membuat rasa traumaku hilang. Pria yang berhasil membuat Dayana yakin jika tak semua pria itu sama seperti Mas Rio," Kata Dayana dengan pelan.
Jimmy ikut bahagia. Dia memegang tangan putrinya lalu menatap cincin itu dengan lekat.
"Kamu bahagia bersamanya, Nak?" Tanya Jimmy sambil menatap Dayana.
Dia tak mau putrinya salah pilih lagi. Dia tak mau putrinya merasakan sakit untuk kedua kalinya.
"Iya, Pa. Day bahagia bersamanya," ucapnya tanpa ragu.
Jimmy mengangguk. Dia memegang tangan putrinya dengan pelan lalu mengusap kepala Dayana.
"Bawa dia bertemu Papa. Papa ingin berbicara dengannya, Nak."
__ADS_1
~Bersambung