
"Selamat malam," Sapa Dayana dengan ramah.
Dia mengulurkan tangannya dan dibalas dengan ukuran tangan yang baik oleh Kairo, pria dengan wajah tanpa ekspresi itu.
"Sebelumnya, mungkin anda ingin melihat, menu-menu andalan di restoran kami yang sudah banyak dipercaya oleh para pelanggan di setiap acara mereka," Ucap Dayana sambil memberikan buku menu itu pada pria yang duduk dengan tenang.
Alkairo, pria yang sejak tadi diam mulai menerimanya. Membuka buku itu dengan tenang dan mulai membaca deretan harga dan menu yang ada disana. Dayana tentu terlihat sedikit gugup.
Entah kenapa setiap kali dia melayani calon pembeli catering di restorannya. Dia selalu merasa gugup. Dia takut jika menu di restoran miliknya tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Terlihat Alkairo mulai bergerak. Dia menunjuk gambar yang ada di buku dan memperlihatkan pada tangan kanannya. Dayana tentu langsung bersiap dengan kertas dan bolpoin di tangannya. Dia siap untuk mencatat apa saja yang akan dipesan.
"Baik, Nona. Bos kami memilih paket yang superstar ini," Kata tangan Alkairo dengan menunjukkan gambar menunya.
"Baik. Lalu untuk kapan?" Tanya Dayana dengan tangan yang menulis begitu cepat.
"Acara perusahaan kami dilakukan sabtu depan," Jawabnya dengan cepat.
"Baik. Lalu untuk berapa banyak orang?"
"Kami memesan yang jumlahnya big," Ujar tangan kanan Alkairo lagi sambil menunjukkan banyaknya kapasitas yang ditulis dengan versi small, medium and big.
"Baik, Tuan. Saya sudah mencatat semuanya," Ucap Dayana dengan tersenyum.
"Saya ingin Anda sendiri yang menangani semua ini," Lanjut Alkairo yang membuat Dayana mendongakkan kepalanya.
Dia terkejut dengan permintaan ini. Hal yang baru kali ini diminta oleh pelanggannya.
"Tapi, Tuan. Biasanya untuk catering. Ada tim sendiri yang akan kesana karena saya disini juga yang memasak menu itu sendiri," Ucap Dayana dengan jujur.
"Saya tidak mau tau. Yang pasti, saya ingin anda yang menangani disana," Kata Alkairo dengan nada yang tak mau ditolak. "Ayo! Kita pulang."
Alkairo lekas beranjak berdiri. Dia meninggalkan ruangan Dayana beserta tangan kanannya yang membuat wanita itu terlihat menghela nafas pelan. Rasanya dia masih bingung dengan permintaan kecil ini. Ya mungkin memang hanya sebuah permintaan yang bisa dia lakukan. Namun, biasanya Dayana memang selalu bermain di belakang layar.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa datang kesana?" Tanyanya pada dirinya sendiri. "Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa wajahnya begitu asing untukku?"
Dayana terlihat mulai penasaran. Dia segera berjalan keluar mencari seseorang yang bisa dia tanyai dengan baik.
"Eng!" Panggil Dayana pada temannya yang tengah mencatat pembukuan di kursi kasir.
Pria yang dipanggil Eng tentu lekas berdiri. Dia segera berjalan mengikuti langkah kaki Dayana yang kembali ke ruangannya.
"Kamu tahu perusahaan mana yang barusan pesan sama kita?" Tanya Dayana yang benar-benar diliputi rasa penasaran.
"Tahu. Sebentar oke! Aku menyimpan kartu nama mereka," Ucap Enggar, bagian keuangan dan juga yang menerima pesan untuk pesanan catering di restorannya.
Enggar lekas kembali dan dia menyerah kartu nama yang langsung diterima oleh Dayana. Wanita itu membaca dengan seksama. Deretan nama perusahaan yang tertulis jelas di sana.
"Knight Company," Ucap Dayana mengeja dengan mengerutkan keningnya saat nama perusahaan itu entah kenapa sangat asing untuknya.
...****************...
Mencoba hal-hal baru di dapur untuk menu terbaru restoran mereka. Ya, Dayana memang suka sekali dengan apa yang berbau makanan. Entah makanan pembuka, makanan berat atau dessert. Wanita idaman yang benar-benar suka bermain di dapur.
"Assalamu'alaikum," Salam Dayana sambil membuka pintu rumah.
Saat dirinya berbalik. Dirinya menatap sosok papa yang tertidur di sofa. Sosok pria yang sangat amat dia sayangi melebihi papa kandungnya sendiri.
Dayana lekas berjalan dengan pelan menuju ke arah Jimmy yang tidur dengan tenang. Saat dirinya hampir sampai. Seorang pelayan datang yang membuat langkah kaki Dayana terhenti.
"Maaf, Nona. Tuan Jimmy memaksa untuk menunggu Anda disini. Kami sudah menahannya tapi… "
"Tidak apa-apa, Bi. Biar Dayana yang akan membangunkan Papa," Ucap Dayana yang membuat pelayan setia di rumahnya ini mengangguk dan pergi.
Dayana lekas mendekat. Entah kenapa dia merasa bersyukur dipertemukan dengan sosok ayah yang baik seperti Jimmy. Dirinya juga tak pernah tahu bagaimana bisa tinggal bersama Jimmy disaat ayah kandungnya sendiri masih ada.
Dayana tak pernah tahu. Ya, wanita itu tak tahu asal usul dirinya tapi papanya selalu bilang. Dia akan tahu jika waktunya sudah tepat.
__ADS_1
"Papa," Panggil Dayana sambil memegang tangan Jimmy yang dilipat di depan dadanya. "Papa bangun. Dayana pulang."
Jimmy perlahan mengerjapkan matanya. Dia mulai terbangun dan duduk saat melihat sosok putri yang dia tunggu sudah duduk manis di depannya.
"Kamu sudah pulang, Nak?"
Dayana mengangguk. Dia memegang tangan Jimmy dengan pelan dan mengelusnya.
"Papa kenapa tidur disini? Dayana udah pernah bilang kan? Kalau Dayana kerja…"
"Papa cuma khawatir sama kamu. Papa juga udah telpon Enggar dan dia bilang kamu udah pulang. Jadi Papa sekalian nunggu kamu disini," Kata Jimmy mengelak yang membuat Dayana tersenyum.
Ini bukan pertama kali untuknya. Namun, sudah beberapa kali papanya melakukan ini padanya. Meski ya sering kali Dayana tahu jika papanya sengaja menunggunya.
"Sekarang ayo papa ke kamar. Istirahat! Ini sudah malam," Kata Dayana dengan pelan..
Jimmy mengangguk. Dia lekas masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Dayana sendirian di ruang tamu. Wanita itu menguap dan dia memang mengantuk.
Namun, saat Dayana baru saja berdiri dan hendak melangkah menuju kamarnya. Matanya tak sengaja menatap ke arah tempat sampah yang ada di dekat lemari tempat foto di ruang tamu.
Dia segera membungkuk sedikit. Mengambil sebuah kertas yang mirip undangan itu dan mulai membacanya. Jantung Dayana seakan berhenti berdetak saat sebuah nama pasangan di undangan itu sangat tak asing untuk.
"Rio dan Tessa," Liriknya mengeja dengan air mata yang mulai menumpuk di kedua bola matanya.
Tangannya bergetar tak percaya. Dayana benar-benar dipukul rata. Ternyata kepergian dirinya tak membuat Rio menyadari kesalahannya dan pria itu benar-benar memilih untuk berpisah dengannya daripada mempertahankan pernikahan mereka.
"Ternyata hanya aku yang masih berharap bahwa kita masih bisa kembali seperti sedia kala. Tapi semua itu hanyalah harapan semu."
~Bersambung
Hayoloh ada yang mulai ada teka teki nih. Cihuyy hayo apa hayoo?
maaf kemarin gak update yah. kerjaan real life lagi padet karena mau lebaran. huhu
__ADS_1