
Dayana pulang ke rumah dengan wajah bahagia. Ahh, senyuman manis itu terus terpancar dengan bahagia. Perempuan cantik itu lekas masuk dengan senyuman lebar dan segera mencari sosok papanya.
Jujur hari ini dia berniat tak kembali ke restoran setelah pulang dari pantai. Dia ingin segera menemui papanya. Seakan apa yang dia rasakan kali ini, ingin dia ceritakan pada sosok papanya itu.
"Selamat sore, Papa," kata Dayana saat dia baru saja keluar dari pintu penghubung antara ruang tamu dan taman lalu menemukan sosok papanya yang sedang duduk dengan tenang di sana.
Jimmy spontan menoleh. Dia menatap ke belakang dan melambaikan tangannya meminta putrinya mendekat.
Jimmy menatap anaknya itu dengan seksama. Entah kenapa dirinya mampu melihat sesuatu hal yang berbeda darinya.
"Ada apa?" tanya Jimmy dengan pelan dan itu berhasil membuat Dayana terkejut.
"Kenapa Papa selalu tahu kalau Dah mau cerita sesuatu?" tanya Dayana dengan heran dan duduk tepat di samping Jimmy.
"Karena kamu anak Papa, Day!"
Dayana benar-benar terharu dengan sosok papanya. Dia perlahan memeluk Jimmy dari samping. Memeluk papanya dengan erat yang entah kenapa selalu menjadi zona ternyamannya.
"Papa, bolehkah Day tanya sesuatu?" tanya Day pelan sambil melepaskan pelukannya.
Jimmy mengangguk. Dia mengusap rambut putrinya dengan pelan sambil mengusap rambutnya.
"Apa Papa pernah jatuh cinta?"
Deg.
Jantung Jimmy spontan berdegup kencang. Apalagi jika ditanya soal cinta, maka ingatannya langsung memutar ke kejadian masa lalu. Kejadian yang mungkin menjadi penyesalan dalam dirinya
Kejadian yang benar-benar membuatnya kehilangan semuanya. Hingga dia berusaha menjadi sosok yang lebih baik.
Tak ada manusia yang sempurna. Tak ada manusia yang baik. Dari sebuah kesalahan, maka seseorang akan belajar agar tak membuat kesalahan lagi.
Dan itulah yang Jimmy lakukan sekarang. Dia tak mau melakukan kesalahan yang sama dengan kata-kata cinta. Dirinya benar-benar berhati-hati untuk apapun.
Hidup sendiri terkadang membuatnya berpikir tentang penyesalannya di masa lalu.
Namun, dia menjadi tenang. Entah kenapa Jimmy benar-benar merasa sendiri adalah masa indah untuknya mengakhiri segala hal yang pernah dia lakukan di masa lalu.
"Pernah," ucap Jimmy dengan mengangguk.
__ADS_1
Mata Dayana berbinar. Dia menatap papanya dengan rasa antusias yang besar.
"Serius, Pa? Siapa orangnya, siapa?"
Jimmy tersenyum kecil. Ingatannya mulai memutar ke kejadian masa lalu. Kejadian dimana dia bersama sang kekasih tengah berjalan di trotoar bersama. Keduanya tengah jalan bersama sambil bergandengan tangan.
Bibir keduanya saling tertarik ke atas seakan benar-benar menunjukkan perasaan keduanya yang saling membaik. Mereka tentu dalam keadaan suasana hati yang benar-benar indah
Ditambah di tangan mereka memegang es krim yang membuat keduanya tentu semakin merasa tenang dan damai.
"Sayang," panggil Jimmy pelan dengan mengusap noda es krim yang belepotan di ujung bibir kekasihnya itu.
"Iya?" jawabnya dengan mendongak.
"Kalau makan hati-hati, Ze. Jangan seperti ini karena kau seperti sedang menggodaku!"
Zelia spontan menatap mata Jimmy dengan pelan. Mengusap bibirnya menggunakan lidah dan itu tentu semakin membuat Jimmy merasa tergoda.
"Kenapa?" bisik Zelia dengan menaikkan alisnya. "Tergoda hm?"
"Kamu benar-benar sengaja, Ze! Kamu… " Jimmy spontan memegang perut sang kekasih.
"Udah, Sayang. Udah… " kata Zelia memohon dan berhasil membuat Jimmy berhenti.
Nafas keduanya tentu berat. Mereka benar-benar merasa bahagia saat ini. Tawa keduanya pecah dengan begitu dalam dan itu memang membuat mood keduanya kembali.
"Lakukan hal itu lagi, aku akan menggelitikmu sampai kamu menyerah!"
Zelia benar-benar mengacungkan jempolnya. Dia benar-benar menyerah jika sudah digelitik seperti ini. Dia benar-benar selalu kalah jika soal seperti ini.
"Aku hanya ingin melihat wajah lucumu itu ketikan ingin sesuatu seperti anak kecil," ucap Zelia yang membuat Jimmy tersenyum.
Bayangan itu tentu memutar terus di kepalanya. Senyuman itu tetap ada di bibir Jimmy saat mengingatnya. Dan itu tentu membuat Dayana yang melihatnya tentu menjadi tersenyum lebar.
Dia bisa melihat bagaimana papanya yang memikirkan sesuatu dengan mata berbinar. Dia bisa melihat tatapan mata papanya yang berbeda sekarang.
"Pa," panggil Dayana lagi yang berhasil membuat Jimmy menoleh.
Jimmy tersenyum kecil. Dia menghapus air mata yang sudah memenuhi matanya dengan pelan. Pria itu selalu seperti ini ketika ingat masa lalunya.
__ADS_1
Dan itu terus menjadi penyesalan di hati Jimmy.
"Maafin Dayana, Pa. Karena permintaan Dayana, Papa jadi ingat masa lalu, Papa. Day… "
"Kamu gak salah, Sayang!" ucap Jimmy dengan pelan.
Pria itu perlahan menggenggam tangan anaknya. Dia menatap wajah gadis yang benar-benar duplikat seseorang yang pernah dia selamatkan.
"Kalau kamu jatuh cinta lagi untuk kedua kalinya. Papa mohon jangan pernah ngelepasin dia yah," lirih Jimmy terdengar seperti permintaan. "Apapun masalahnya, jangan pernah ninggalin dia. Papa gak mau hidup kamu dipenuhi penyesalan. Oke?"
Entah kenapa perkataan papanya seperti keluar dari hati papanya sendiri. Dia mampu melihat tatapan papanya yang mengandung kesedihan. Tatapan mata yang untuk pertama kalinya dia lihat seperti ini.
"Papa?"
"Ya?"
"Apa cinta papa dulu juga pergi ninggalin Papa?" tanya Dayana dengan pelan dan itu berhasil membuka luka lama Jimmy kembali.
Pria itu tak marah. Namun, tangannya semakin kuat menggenggam tangan putrinya untuk mencari kekuatan.
"Lebih tepatnya dia pergi ninggalin papa karena papa yang meninggalkan dirinya terlebih dahulu!"
Jimmy tersenyum kecil. Senyum yang bukan arti dari kebahagiaan. Tapi senyum seperti tengah menertawakan dirinya sendiri.
"Papa… "
"Papa gak salah. Papa sekarang udah berubah. Papa udah berubah jadi yang lebih baik lagi. Pasti sekarang bisa kan bersatu lagi sama cinta lama Papa?"
Dayana mengatakan itu dengan lugunya. Hal yang belum pernah diketahui sekecil apapun. Hal yang benar-benar Jimmy kubur dalam hatinya karena takut menyakiti perasaan anaknya ini.
"Papa sendiri bilang, gak ada namanya manusia yang selalu benar bukan? Pasti mereka pernah bikin kesalahan dan itu menjadi tolak ukur mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan papa sekarang, udah banyak berubah."
"Papa jangan ngerasa takut lagi. Papa udah jadi orang baik."
Jimmy mengangguk. Dia tak mau membuat anaknya menangis. Dengan pelan, dirinya memeluk Dayana dengan hangat sambil mengusap punggungnya.
Dia tahu dirinya memang sudah berubah. Dirinya bahkan belajar dari masa lalu. Masa lalu yang tak akan pernah dia lakukan lagi.
"Papa cuma berharap semoga papa punya kesempatan buat ketemu sama dia lagi ya, Nak. Papa cuma ingin melihat dia dari jauh. Ingin melihat apakah dia sudah bahagia seperti terakhir kali papa bertemu dengannya atau tidak!"
__ADS_1
~Bersambung