
Dayana benar-benar tak percaya. Perempuan cantik itu mengerjapkan matanya berulang kali. Menatap Kairo yang menceritakan semua kepadanya.
Antara malu, lucu dan kesal. Bagaimana bisa pertemuan mereka segila itu. Disaat dia benar-benar ingat di hari itu rasa pasrah dan marah pada Tuhan meluap hebat.
Dia mencari tempat pelampiasan dan menemukan pantai ini pun melalui maps. Dayana benar-benar tak percaya bahwa pertemuan mereka ternyata sudah selama itu.
Dirinya yang tak mengenal Kairo tapi pria itu yang mengetahui dirinya.
"Karena itulah aku mencarimu," ucap Kairo dengan jujur.
"Mencariku?" tanya Dayana dengan pelan.
Kairo mengangguk. Dia melangkah mendekati sosok Dayana yang berdiri di dekat pantai. Pria itu membiarkan rambutnya bergerak terkena angin.
Kairo berhenti tepat di hadapan Dayana hingga wajah mereka berdekatan. Dengan pelan, Kairo melingkarkan tangannya di pinggang Dayana.
"Ya," Sahut Kairo yang benar-benar bisa menikmati wajah Dayana dengan puas.
Kedua manusia ini seakan saling menikmati kedekatan mereka.
"Aku mencarimu karena aku menyukaimu sejak pertemuan pertama kita," Bisik Kairo di dengan pelan dan membuat Dayana mematung tak percaya.
Jujur jantung wanita itu berdegup kencang. Dirinya bahkan merasa lemas mendengar pernyataan itu. Jika bukan karena tangan Kairo yang melingkar di pinggangnya. Dayana yakin dirinya akan terjatuh.
"Tapi statusku… "
"Kenapa dengan statusmu?" Tanya Kairo dengan serius.
Pria itu benar-benar ingat perkataan adiknya. Jika dia benar mencintai Dayana. Dia harus berani mengutarakan kata hatinya. Dia harus benar-benar menyampaikan apa yang dia rasakan.
Dayana perlahan menjauh. Dia mendorong tubuh Kairo ketika kenyataan itu memutar di kepalanya. Tubuhnya berbalik dengan mata memandang sepanjang hamparan pantai yang terlihat begitu sejuk dan indah.
"Aku hanya seorang janda," Jawab Dayana dengan pelan. "Aku bukan gadis lagi, Kairo. Aku juga wanita cacat. Aku tak bisa memberikan seorang anak untukmu nanti. Aku… "
"Hey!" Sela Kairo cepat menarik tangan Dayana agar berhadapan dengannya.
Dia tahu jika Dayana sekarang mengalami insecure dalam dirinya. Kairo sudah mengetahui semuanya. Semenjak dia mengatakan mencari tahu tentang sosok wanita yang dia sukai. Dari sana dia mengetahui bagaimana kehidupan Dayana.
Bagaimana keadaan rumah tangganya dan bagaimana perempuan itu bisa bercerai.
Jujur sebenarnya saat mengetahui jika Dayaka sudah menikah. Kaira hendak mundur. Bagaimanapun dia tak mau merusak hubungan rumah tangga orang lain. Namun, ketika dia mengetahui satu fakta.
__ADS_1
Fakta gila jika pria yang menjadi saingannya ingin menambah istri. Membuat Kairo benar-benar akan merebut Dayana. Ya, dia benar-benar hendak merebut perempuan itu jika Dayana menerima poligami dari suaminya.
"Jangan bersamaku! Aku benar-benar bukan wanita sempurna!" Ucap Dayana dengan kedua binar mata yang terlihat ketakutan.
Kairo tahu jika Dayana pasti masih trauma akan pernikahan sebelumnya. Kairo tahu jika Dayana pasti takut pernikahan selanjutnya akan sama dengan pernikahan pertamanya.
Namun, Kairo perlu merubah satu hal. Dia perlu merubah persepsi Dayana tentangnya.
"Day…" Panggil Kairo dengan pelan. "Tatap aku!"
Dayana yang benar-benar sedang emosional itu membuatnya menangis. Dia benar-benar tak mau menatap Kairo sejak tadi. Hingga perlahan tangan besar Kairo menangkup kedua sisi wajah Dayana dan mendekatkan di wajahnya.
Tatapan itu akhirnya bertemu. Dayana berani membuka matanya dan menyelami kedua bola mata Kairo yang berwarna hitam besar itu.
"Jangan samakan aku dengan bajingan itu! Aku tak akan menuntutmu untuk hamil. Aku tak meminta apapun darimu. Ketika aku sudah memutuskan untuk mencintaimu… " Jeda Kairo dengan pelan sambil menghapus air mata Dayana dengan lembut. "Aku menerima segala kekuranganmu."
Dayana merasa hangat dan tenang. Dia merasa sentuhan Kairo di wajahnya begitu lembut dan memenangkan. Apalagi suara dan ucapan dari bibir pria itu membuatnya mulai sadar.
Sadar jika tak selamanya semua pria itu sama.
"Aku tak akan memaksamu untuk percaya padaku tapi lihatlah bukti dari segala hal yang akan aku lakukan ketika sudah mencintaimu," kata Kairo dengan serius dan mata yang menatap Dayana penuh cinta.
Entah seperti sihir di setiap perkataan Kairo. Dayana menganggukkan kepalanya. Bahkan saat wajah Kairo semakin dekat, wanita itu secara otomatis menutup matanya.
Dirinya yang tersihir perlahan semakin mendekatkan wajahnya. Namun, ketika bibir itu tinggal beberapa senti, Kairo menghentikan gerakannya dan memilih menggesekkan hidung keduanya hingga Dayana membuka matanya.
"Maukah kamu menerima cinta pria yang kamu kenal beberapa hari ini?" ucap Kairo dengan tatapan mata yang benar-benar berbeda.
Disana, Dayana mampu melihat kehangatan, kelembutan dan penuh cinta. Tatapan mata yang sangat berbeda ketika bersama orang lain.
"Aku… "
Dayana mulai ragu. Dayana benar-benar takut untuk memulai. Apalagi statusnya yang masih masa idah membuatnya benar-benar harus menjaga diri dengan baik.
"Bisakah kamu menunggu?"
Terlihat wajah kecewa di wajah Kairo dan hal itu tentu mampu ditangkap oleh Dayana.
"Aku masih dalam masa idah, Kairo," Lirih Dayana menjelaskan. "Aku ingin menjaga diriku selama tiga bulan ini sambil mencoba mengenalmu."
Akhh penjelasan dan perkataan Dayana itu entah kenapa membuat angin segar di hamparan kering bagi Kairo. Pria itu tersenyum dengan begitu tulusnya sampai menular di bibir Dayana.
__ADS_1
Kepala Kairo mengangguk. Pria itu benar-benar akan menunggu meski harus berapa lama pun demi Dayana. Namun, yang pasti perasaannya kini telah puas.
Dia lega telah mengutarakan hatinya. Dia lega karena cintanya benar-benar telah diketahui oleh wanita yang selama ini dia tunggu.
"Aku akan menunggumu. Aku akan menunggu saat itu tiba, Dayana."
***
Jika di pantai tengah ada keromantisan yang abadi. Kini di sebuah ruangan lain, lebih tepatnya di ruangan dimana terdapat beberapa alat alat berbahaya yang terpajang di dinding. Dengan dua orang pria yang saling berhadapan dan memiliki wajah yang sama tersebut.
"Kau tau apa kesalahanmu, Kaisar?" Tanya Frans dengan suaranya yang tegas.
Jujur Kaisar terkejut ketika papanya menghubungi dirinya dan meminta dia datang ke basement. Dia tahu pasti ada sesuatu yang hendak dibicarakan dan itu sangat penting.
"Papa, aku… "
"Apa kau lupa apa yang Papa katakan padamu?" Seru Frans dengan wajah yang benar-benar merah.
"Maafkan Kaisar." Akhirnya hanya kata itu yang mampu pria itu katakan.
Dia yakin jika papanya selalu mengawasi gerak geriknya. Dia yakin papanya tahu tentang semuanya. Apa yang dia lakukan, ketika dia bersama siapa pasti papanya tahu.
"Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Kau paham?"
"Papa, Kak Kairo adalah kakakku!"
"Kairo bukan kakakmu!" Seru Frans dengan tegas.
Kaisar mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar lelah dengan semua ini. Semua yang papanya minta harus dituruti.
"Papa!"
"Jika kau masih membelanya! Papa akan membatalkan perjanjian kita!" Seru Frans dengan serius.
"Kau tau, Papa tak pernah main-main Kaisar. Papa akan membatalkan perjanjian kita. Kau akan kembali ke perusahaan dan Kairo akan menggantikanmu disini."
"Papa!"
"Sejak dulu itulah yang seharusnya terjadi. Kau mengurus perusahaan dan dia yang mengurus jalan bawah. Tapi kau memaksa papa untuk memberikan padamu!" Kata Frans dengan marah. "Jika kau mengulang kesalahanmu. Jangan marah pada Papa jika perjanjian itu akan batal!"
~Bersambung
__ADS_1
mulai ada bayangan gak? hayoo hayooo