Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire

Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire
Sosok Ibu Kairo


__ADS_3

Kairo tahu dirinya telat. Dia benar-benar sadar jika jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan siang. Namun, apa daya, dia tak mungkin meninggalkan Dayana dalam keadaan seperti itu.


Dia tak mungkin membiarkan Dayana merawat lukanya sendirian. Dia tak setega itu untuk meninggalkannya sendiri. Sampai akhirnya, kedatangannya tentu disambut oleh beberapa staf dan karyawan yang memang tak sebanyak di perusahaan utama.


Kairo hanya mengangguk dengan wajah dinginnya. Rahang yang tegas, natanyang tajam sudah selalu bertengger di kepalanya setiap dirinya bekerja.


Bibir itu akan melengkung ke atas hanya untuk orang yang dia cintai. Seperti mamanya, adik dan Dayana. Tiga orang itulah yang menjadi kekuatan dirinya sampai detik ini.


Tiga orang itulah yang membuatnya bertahan dengan sikap papanya. Meski memang sakit. Namun, apapun itu dia akan menerimanya dengan ikhlas.


"Kau tau jam berapa ini, Kairo?" sentak sebuah suara pria dengan tegas saat pria tampan itu baru saja masuk ke ruangan barunya.


Kairo tentu terkejut dengan kehadiran papanya. Dia lekas menundukkan kepalanya saat Frans mulai menatapnya.


"Maaf, Pa. Kairo… "


"Masih pacaran dulu sebelum berangkat. Begitu?" Seru Frans tepat sasaran.


Hal itu tentu bukan hal asing di telinga Kairo. Apa yang dia lakukan. Apa yang menjadi sumber geraknya. Frans pasti akan mengetahuinya. Tak akan ada satu celahpun yang bisa menyelamatkan dirinya.


Frans benar-benar selalu menjadi manusia yang sempurna. Dia tak mau apa yang dia inginkan berjalan tak sesuai dengan rencananya.


"Maaf, Pa!" lirih Kairo meminta maaf.


Alih-alih mencari perkara. Kairo mengalah. Dia tak mau sepagi ini papanya akan semakin marah dan membencinya. Dia tak mau semuanya semakin runyam.


"Kau tau, kau menjadi CEO disini dan dipindahkan baru hari ini. Tapi lihat bagaimana tingkahmu?" seru Frans dengan menunjukkan rahangnya yang keras dan menandakan dia benar-benar sedang marah.


"Kau sudah bertingkah semena-mena? Jangan karena ini perusahaan bukan perusahaan utama dan kau menyepelekannya, Kairo!" seru Frans sampai giginya gemelatuk.


Kairo hanya menunduk. Dia benar-benar tak mampu menatap wajah papanya. Sejak dulu dirinya benar-benar tak berani menatap Frans jika sedang marah padanya.


Dia akan selalu pasrah dan menerima semua perlakuan Frans kepadanya.

__ADS_1


"Kairo benar-benar minta maaf, Pa. Kairo tak akan mengulanginya lagi!"


"Harus! Jangan pernah terjadi hal seperti ini atau kau… " seru Frans dengan lekat dan menunjuk Kairo yang berdiri di depan meja kerjanya. "Jangan pernah mengurus perusahaan lagi. Mengerti?"


Kairo mengangguk. Dirinya memejamkan mata saat papanya itu berjalan melewatinya dengan mudah. Mata Kairo terpejam sesaat saat mendengar suara bantingan pintu yang ditutup.


Hingga akhirnya meneteslah air mata itu di ujung mata Kairo. Ya, pria itu menangis. Pria itu benar-benar tetaplah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang orang tuanya.


Kairo tetaplah seorang anak laki-laki yang ingin dicintai oleh sosok papanya. Kairo tetaplah seorang anak laki-laki yang ingin dibanggakan oleh papanya. Namun, ternyata mendapatkan itu semua bukanlah hal mudah.


"Aku ingin bertemu ibu," lirih Kairo dengan menghapus air matanya.


***


Percayalah apa yang Kairo mau akan dia lakukan. Entah itu larangan atau bukan jika menyangkut seseorang yang sangat dia cintai, seseorang yang selama ini tinggal jauh dari kehidupannya. Seseorang yang hidupnya benar-benar jauh dari kata nikmat itu membuatnya benar-benar harus menjenguknya meski dengan kabur dari penjagaan papanya.


Kairo benar-benar harus pandai mengatur semuanya. Bahkan dia akan selalu meminta bantuan sang adik, Kaisar untuk mengelabui papanya itu.


"Terima kasih banyak, Kaisar. Aku… "


"Kau adalah kakakku. Apapun keadaannya. Jangan pernah merasa kau sendirian. Kau paham?" kata Kaisar penuh penekanan yang selalu berhasil membuat Kairo terharu.


Akhirnya dia lekas menuruti perkataan adiknya. Mengganti semua bajunya, sepatu dan gaya rambutnya.


Ahh tak ada lagi Kairo yang rapi. Tak ada lagi Kairo yang terlihat keren dengan setelan jasnya. Saat ini di depannya, hanya ada Kairo dengan setelah celana jeans panjang, kaos putih dan jaket jeans yang membuatnya terlihat seperti aura badboy.


Dia benar-benar harus berani melakukannya. Dia benar-benar sudah merindukan sosok ibunya. Sudah beberapa bulan ini dirinya tak mengunjungi ibunya itu. Terakhir kali dia datang, dirinya hampir ketahuan.


Sebelum keluar ruangan, dia mengecek sekretarisnya dulu. Ada di mejanya. Kairo lekas menuju meja kerjanya dan mengambil telepon umum.


"Ya, Tuan?" sahut suara seorang perempuan yang lebih tepatnya sekretarisnya sendiri.


"Tolong buatkan aku kopi dan antar ke dalam ruangan. Hari ini, tolong tolak semua pertemuan karena saya mau tidur. Oke?"

__ADS_1


"Siap, Pak!" sahut sekretarisnya di depan dan membuat Kairo tersenyum.


Akhirnya pria itu berjalan pelan. Mengintip apakah sekretarisnya sudah pergi atau belum.. Setelah melihat keadaan aman, dia lekas keluar dan mengendap menuju bagian lift.


Kairo benar-benar menyiapkan semuanya. Dia benar-benar harus berhasil dan dirinya segera turun menuju parkiran motor.


Tak ada yang melihatnya. Jam kerja masih berlangsung. Hal itu tentu membuat semua karyawan fokus dengan pekerjaannya.


Kairo sendiri akhirnya lekas mengendarai motornya itu. Hatinya bahagia ketika dia bisa bebas dengan apa yang dia lakukan. Bibirnya tersenyum saat kepalanya memutar akan bertemu dengan sosok ibunya.


Sosok ibu yang di buang jauh dari kehidupannya. Sosok ibu yang tak diinzinkan untuk bertemu dengannya.


Benar-benar kehidupannya bukan hal yang mudah. Semuanya sudah diatur begitu apik oleh sosok papanya dan dirinya hanyalah patung yang digerakkan sesuai dengan apa kemauannya.


Sampai akhirnya, perjalanan hampir dua jam itu berakhir. Kairo benar-benar mencapai kota sebelah dengan kecepatan tinggi. Dia lekas memasuki sebuah gang perumahan dengan samping kanan kirinya berdiri rumah-rumah kecil.


Dirinya segera membelokkan setir kemudi ke kiri tepat dirumah paling ujung. Bibirnya tersenyum melihat rumah yang paling berbeda dari rumah yang lain.


Rumah ini paling hidup, rumah yang hijau asri dan banyak tanaman di depannya. Sekaligus rumah yang warna rumahnya begitu cerah sendiri di banding yang lain.


Tentu kedatangannya juga tak diketahui oleh sang pemilik rumah. Dia berjalan menaiki tangga dan lekas mengetuk pintu rumah.


Tak ada sahutan apapun. Kairo lebih menekankan ketukannya sampai suara dari dalam rumah terdengar.


"Iya sebentar! Tunggu!" sahut suara yang sangat Kairo rindukan.


Tak berapa lama, pintu itu terbuka dan wanita yang mulai muncul dari balik pintu itu terkejut sampai memegang dadanya. Kedua bola matanya berair. Bahkan dirinya seperti tak percaya ketika melihat sosok Kairo berdiri disana.


"Putraku!"


"Ibu!"


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2