
"Kenapa kau mau membantuku?" Tanya Dayana pelan saat pengacara itu sudah pergi dan hanya tinggal dirinya serta Kairo berhadapan.
Jujur Dayana benar-benar penasaran dengan pria itu. Entah kenapa menurutnya. Sepertinya pertemuan yang terjadi di antara mereka selalu disengaja.
Pria itu selalu muncul di depannya ketika dia mengalami masa sulit. Dan hal seperti ini benar saja, membuat Kairo hadir dalam hidupnya dan membantunya.
"Kairo!" seru Dayana saat pria itu tak menjawab.
Tatapan keduanya kini beradu. Baik Dayana maupun Kairo saling menatap kedua bola mata dengan lekat.
"Aku hanya ingin kau membalas perlakuan suamimu itu, Dayana! Jangan menjadi wanita yang mau ditindas. Jika kau benar, maka aku akan membantumu," Seru Kairo dengan suaranya yang dingin dan entah kenapa membuat Dayana terlihat kecewa.
Ahh kecewa dengan jawabannya sepertinya. Hal itu membuat Dayana hanya mampu mengangguk lalu perlahan beranjak berdiri.
"Lain kali, kau tak perlu membantuku karena aku bisa menghadapi masalahku sendiri!" Seru Dayana dengan tegas lalu dia hendak pergi dari sana.
Namun, sebuah tarikan di tangannya membuat Dayana terkejut dan jatuh ke dalam pelukan Kairo yang memeluknya. Matanya membelalak tak percaya dengan tingkah pria yang bisa dihitung pertemuan di antara mereka.
Dirinya benar-benar mendadak seperti tak bisa bernafas saat aroma tubuh Kairo mulai menusuk hidungnya.
"Day… "
Dayana tentu mulai sadar. Sadar jika mereka kini menjadi perhatian.
"Lepas, Kairo! Lepas!" Bisik Dayana dengan berusaha untuk lepas.
Namun, badan Kairo yang lebih besar membuat Dayana tak mampu melepaskannya.
"Jika kau tak melepaskanku. Maka aku… "
"Bukalah hatimu untukku, Day!"
Deg.
Jantung Dayana spontan berdegup kencang. Bahkan dirinya mereka pelukan Kairo itu semakin melembut padanya.
"Aku mulai mengikutimu dari pertemuan kita pertama," Bisik Kairo yang membuat Dayana benar-benar terkejut bukan main.
Pelukan itu perlahan lepas. Kemudian tanpa Dayana bisa cegah. Tangan Kairo menariknya dan membawanya keluar dari restoran. Dia membawa gadis yang masih linglung itu berjalan menuju mobilnya dan memasukkannya disana.
"Kemana kau membawaku pergi?" Tanya Dayana saat dirinya baru bisa mengeluarkan kata-kata itu.
Dia menoleh ke samping. Menatap ke arah pria yang mengemudi dengan begitu tampannya.
__ADS_1
"Kau akan tahu sebentar lagi," Ucap Kairo yang membuat Dayana menelan ludahnya paksa.
Dia benar-benar tak tahu hendak dibawa kemana oleh pria di sampingnya. Menurutnya semua ini terlalu cepat
Ah perkenalan mereka, pertemuan mereka yang bisa dihitung jari. Lalu pengungkapan perasaan pria itu benar-benar membuat Dayana merasa semua ini hanyalah candaan belaka.
Perhatian Dayana perlahan terpancing saat sebuah panggilan dari ponsel Kairo berbunyi dan membuat pria itu mengangkatnya.
"Halo?"
"Kau meninggalkanku, Pria Bucin?" Seru Kaisar dengan suaranya yang kesal. "Aku tau kau ingin mengutarakan cintamu tapi adikmu masih disini!"
Kairo hendak tertawa. Namun, dirinya benar-benar menahan tawanya karena dia tahu sejak tadi Dayana memperhatikannya.
"Baiklah taxi, Kaisar. Maafkan kakak yang pergi meninggalkanmu!"
Setelah mengatakan itu dan sebelum Kaisar menjawab. Kairo sudah mematikan ponselnya dan meletakkan di sampingnya.
"Iya aku baru ingat. Bagaimana dengan Tuan Kaisar! Dia… "
"Jangan membahas pria lain ketika bersamaku, Day!"
"Tapi, Kairo. Kau… "
***
Hampir setengah jam perjalanan. Dayana baru ingat akan sesuatu. Dia menatap ke samping kanan kiri jalan yang dilewati dan mulai paham kemana Kairo membawanya pergi.
"Pantai?" Seru Dayana dengan pelan lalu benar saja.
Saat mobil itu melewati belokan. Di depan sana terlihat pantai yang indah dan begitu menyejukkan mata itu masih tetap sama seperti terakhir kali dirinya datang.
Suasana yang indah, tenang, damai dan udara yang benar-benar segar. Sebuah tempat yang membuatnya selalu merasa tenang dan hal itu tentu menjadikan tempat ini sebagai tempat saat dirinya memiliki masalah yang tengah dihadapi.
Dayana tentu lekas melepaskan sepatunya. Ya, dia selalu melakukan hal itu, lalu mulai menurunkan kakinya dan membiarkan pasir pantai membuatnya kotor.
Langkah kaki Dayana perlahan mendekati pantai itu. Membiarkan angin menerpa gaun yang dia pakai lalu mulai membuka matanya. Hidungnya menghirup udara yang segar dan matanya tertutup dengan sendirinya.
Dia benar-benar membiarkan angin membuat rambut dan bajunya bergerak melambai. Dia membiarkan angin membawa pergi segala hal yang memenuhi kepalanya.
Dan dirinya hampir melupakan satu hal. Ahh Kairo… Ya pria yang membawanya kesini itu tak ada suara.
Hal itu membuat Dayana menurunkan tangannya. Menutup tangannya yang dia bentangkan bebas lalu secara perlahan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kairo… "
"Disinilah pertemuan pertama kita, Day. Tempat yang menjadi saksi bagaimana aku menemukanmu!" ucap Kairo yang berdiri dengan bibir tersenyum tipis dengan bayangan mulai memutar ke kejadian yang selalu dia ingat.
Saat itu Kairo yang sedang duduk di pinggiran pantai terkejut dengan sebuah langkah kaki disampingnya yang tengah berlari dan membuat beberapa pasir mengenai bajunya.
Tentu hal itu membuatnya berdiri. Dia berdecak kesal karena pemandangan indah yang dia nikmati kini dihancurkan dengan kedatangan seorang wanita yang tiba-tiba berlari dengan seenaknya.
Tentu saja, Kairo tak tinggal diam. Dia perlahan berjalan dan hendak menghampiri wanita itu. Namun, saat langkah kakinya sudah tinggal beberapa langkah dengannya.
Tiba-tiba suara teriakan membuat langkah kakinya terhenti.
"Kenapa Tuhan, kenapa kau tak adil padaku!" Teriak perempuan itu dengan suara yang terdengar putus asa.
Di area pantai itu memang hanya ada mereka berdua. Pantai yang terlalu diketahui oleh orang-orang akan keindahannya karena memang jaraknya yang lumayan jauh dari jalan raya.
"Kenapa kau tak memberiku anak! Kenapa kau membuatku seperti wanita yang cacat!" Teriaknya dengan suara yang mulai tertahan dan membuat Kairo tahu jika wanita itu pasti menahan tangis.
"Aku berusaha untuk bisa hamil. Aku ingin memberikan suamiku keturunan. Tapi kenapa kau tak kunjung memberikannya. Kenapa, Tuhan! Kenapa!"
Suara itu benar-benar perlahan semakin serak. Tangisan itu semakin terdengar hebat dan tubuh wanita itu perlahan menurun dan mulai terdengar isakan tangis yang hebat.
Hal itu entah kenapa membuat Kairo mengurungkan niatnya. Entah kenapa perkataan wanita itu membuat Kairo tersentuh dan ingin tahu tentang kehidupannya.
Sepertinya dari teriakannya. Dari semua keluh kesah yang perempuan itu utarakan adalah dari harapan yang dia inginkan tapi tak kunjung datang.
"Siapa sebenarnya wanita ini?"
Kairo melihat wanita itu duduk di pinggiran pantai. Dia membiarkan kakinya basah terkena air. Dan membiarkan bajunya kotor dengan pasir yang dia duduki.
"Kau tahu, Tuhan. Mertuaku seperti ibu tiri. Dia benar-benar selalu menghinaku karena aku tak kunjung memberikannya cucu!" Omelnya dengan bibir cerewet dan seakan mengadu dengan pantai.
Hal itu entah kenapa membuat bibir Kairo tersenyum. Seakan apa yang perempuan itu lakukan tanpa sadar membuatnya terlihat lucu.
Hingga perlahan Kairo bergerak ke arah samping. Ya, dia ingin melihat wajah wanita yang menurutnya unik dengan segala keluh kesah hidupnya.
"Siapa sebenarnya wanita ini?" Gumamnya yang membuat Kairo lekas ingin menatap wajahnya dan mulai mengambil gambar menggunakan ponselnya karena menurutnya.
Dia benar-benar mulai penasaran dengan kehidupan wanita itu.
"Jadi, kau… " seru Dayana dengan wajah yang benar-benar dibuat terkejut bukan main. "Kau… "
"Ya. Aku menemukanmu disini berteriak bak orang gila dan berbicara sendiri dengan pantai!" Ledek Kairo dengan nada suara terdengar mengejek dan itu membuat Dayana mendelikkan kedua bola matanya dengan lebar.
__ADS_1
~Bersambung