Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire

Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire
Pertemuan Jimmy dan Kairo


__ADS_3

"Kamu yakin?" Tanya Dayana pelan pada Kairo dengan tangan keduanya yang saling bergenggaman.


Kairo yang berdiri di samping Dayana dengan mata menatap sebuah rumah begitu asri dan sejuk itu menoleh ke arah wajah sang wanita yang begitu dia cintai.


"Aku yakin," Jawabnya dengan mantap.


Dayana balas menoleh. Dia menatap wajah Kairo dengan lekat.


"Aku sama Papa gak maksain buat secepat ini, Kai. Kamu bisa… "


"Aku gak mau ngulangin perkataan aku lagi, Sayang," ucap Kairo dengan pelan.


Dia menggeser tubuhnya. Memutar dirinya untuk menatap penuh ke arah wajah Dayana yang selalu membuatnya tenang dan nyaman.


"Tinggal satu langkah lagi setelah itu kita akan menikah!"


Jika sudah begini Dayana tak bisa menolak. Dayana tahu dia tak bisa mengubah pemikiran Kairo untuknya. Akhirnya dengan segala kemantapan hati. Dengan segala keberanian.


Sepasang manusia yang saling mencintai itu mulai berjalan bersama. Bergandengan tangan dengan langkah kaki yang terus mendekat ke sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal Dayana sejak kecil. Sebuah rumah yang hangat. Sebuah rumah yang selalu menerimanya kapanpun dan dalam keadaan apapun.


Hingga tiga kali ketukan diberikan oleh Kairo membuat sebuah langkah kaki terdengar dari dalam dan sebuah suara pintu rumah yang diputar membuat keduanya sedikit memundurkan tubuhnya.


"Papa!" sapa Dayana dengan melepas genggaman tangan Kairo saat pintu rumah sudah terbuka lebar dan mencium punggung tangan Jimmy.


Jimmy tersenyum hangat. Dia mengusap kepala putrinya lalu menoleh ke samping saat Dayana selesai bersalaman padanya.


"Halo, Om," Kata Kairo dengan kaku.


Wajah Kairo yang tegang tentu tercetak jelas disana dan hal itu tentu membuat Dayana rasanya menahan tawa. Wajah yang biasanya begitu manis padanya. Wajah dingin dan begitu keren yang selalu dia sukai itu. Kini berubah seperti sebuah anak kecil yang gugup dan takut akan sesuatu.


"Aku… "


"Kamu Kairo, 'kan?" Sela Jimmy secara langsung. "Pria yang dengan berani melamar putriku sebelum bertemu aku?"


Kairo menelan ludahnya. Namun, dia tahu apa yang sudah dia lakukan. Jujur dirinya bukannya takut. Dia benar-benar tak takut pada sosok pria di depannya yang terlihat begitu menyayangi Dayana.

__ADS_1


Pria yang memberikan senyum hangat pada putrinya. Pria yang menjadi berubah tatapannya saat melihat putri yang dia sayang.


"Iya, Om. Maafkan aku yang sudah lancang terlebih dahulu," Ucap Kairo dengan suaranya yang berat.


Jimmy tak mengatakan apapun dan Dayana tentu rasanya ingin tertawa begitu keras. Namun dia tahu jika apa yang akan dilakukan papanya. Dia tahu Jimmy tak sekejam itu. Jimmy tak pernah memberatkan siapapun.


Dia tahu jika papanya hanya ingin yang terbaik untuknya.


"Ayo masuk!" Ajak Jimmy yang membuat Dayana bergerak ke samping papanya lalu berjalan masuk dan diikuti Kairo dari belakang.


"Papa, Day mau buat minuman dulu yah!" Kata Dayana lalu mencium tangan papanya seperti biasa dan meninggalkan Kairo serta Jimmy berdua.


Namun, sebelum itu. Dayana menatap ke belakang. Mengedipkan sebelah matanya dengan tangan kanan di angkat dan tak lupa mengatakan hal yang membuat Kairo tersenyum bahagia.


"Terima kasih, Sayang," sahut Kairo dengan tanpa suara setelah Dayana mengatakan semangat padanya tanpa suara juga.


Akhirnya sepasang pria yang saling menyayangi satu wanita yang sama dalam arti berbeda itu saling duduk berhadapan. Keduanya hanya dibatasi sebuah meja di antara mereka.


"Apa yang bisa kamu janjikan pada putriku, Kairo?" Tanya Jimmy dengan langsung.


"Aku tak bisa menjanjikan apapun, Om. Aku hanya bisa memberikan bukti bahwa kebahagiaan Dayana di atas kebahagiaan diriku sendiri," ucap Kairo dengan tegas. "Aku akan bekerja keras untuk membuatnya bahagia bersamaku."


Jimmy masih diam. Dia menatap sosok pria di depannya ini yang entah kenapa sangat tak asing untuknya. Beberapa detail wajahnya yang benar-benar mengingatkan dirinya akan seseorang.


"Kamu tau, bahagia tak selamanya tentang uang," Kata Jimmy dengan pelan. "Bahagia tak bisa dibeli. Apalagi kebahagiaan batin. Semua itu tak selalu dapat diberikan dengan harta yang kamu punya!"


Kairo mengangguk. Dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh calon pria yang akan menjadi mertuanya itu.


Dia adalah sosok bukti bahwa harta tak membuatnya bahagia. Dia adalah sosok bukti bahwa uang yang dia punya membuatnya tenang dan bahagia lahir batin.


"Aku tau, Om. Aku tahu rasanya memiliki banyak uang tapi tak bisa membahagiakan batin!" balas Kairo dengan suaranya yang sedikit menurun dan itu tentu membuat sesuatu dalam diri Jimmy semakin penasaran.


"Aku memang tak bisa menjanjikan apapun. Aku juga tak bisa mengandalkan uang yang aku punya untuk membahagiakan Dayana. Tapi aku bisa memberikan keyakinan bahwa aku akan selalu ada untuk Dayana, menjaga kepercayaan dia, mencari kebahagiaan bersama dan akan menyayangi dirinya seperti aku menyayangi mamaku!"


"Mamaku selalu bilang, bahwa aku harus mencintai sosok istriku nanti seperti aku menyayangi mamaku!"

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Jimmy dengan jantung yang berdegup kencang. Dia seakan memutar ingatan di kepalanya ketika mendengar perkataan dari pria di depannya.


Jujur baru kali ini Jimmy belum mencari sosok pria yang mendekati putrinya. Dia benar-benar tak ikut campur dalam hal ini karena ingin memberikan privasi pada hidup putrinya.


Dia biasanya akan mencari tahu siapapun yang dekat dengan Dayana. Namun, untuk kali ini. Jimmy ingin melakukan pendekatan yang benar.


"Karena nanti istriku tak akan selamanya menjadi istriku, Om. Dia akan menjadi ibu dari anak-anakku. Dia akan menjadi sosok wanita yang menjadi sekolah untuk anak-anaknya seperti aku pada mamaku!"


Tangan Jimmy berkeringat dingin. Tangan Jimmy mengepal saat kata-kata itu sangat sama dengan perkataan seseorang. Perkataan wanita yang pernah mencintainya dengan begitu dalam. Perkataan wanita yang sampai saat ini selalu membuat dirinya dibayangi rasa bersalah.


Perkataan wanita yang dulu menjadi penenang. Wanita yang selalu memberikan kata motivasi dan juga cinta yang luar biasa untuknya.


"Siapa nama panjangmu, Kairo?" Tanya Jimmy pelan dengan tangan yang benar-benar mengepal kuat memegang pinggiran kursi single dan duduki.


Pria dengan pikiran yang mulai melanglang buana. Pria yang benar-benar menghubungkan segalanya. Dari beberapa titik wajah yang mengingatkan dirinya pada seseorang. Pada perkataan yang selalu didengarkan dari wanita yang dia cintai di masa lalu.


"Alkairo Alastar," Jawab Kairo dengan mantap.


Jimmy mulai penasaran. Jimmy mulai menelan ludahnya untuk menanyakan hal yang akan membuktikan apakah orang yang keduanya bahas ini adalah orang yang sama apa bukan.


"Siapa nama orang tuamu?" Tanya Jimmy dengan satu kali tarikan nafas.


Kairo tak curiga. Bagaimanapun dia yakin jika pria yang akan menjadi calon mertuanya ini akan bertanya tentang sosok orang tuanya.


"Frans Federick Knight dan Azzelia Qaireen."


Seakan petir menyambar. Jimmy benar-benar terkejut bukan main. Apa yang dia pikirkan sejak tadi. Apa yang dia hubungkan ternyata benar. Benar jika perkataan itu dari sosok yang sama yang pernah ada di masa lalunya.


"Ternyata kamu berhasil mendidik putramu dengan benar, Zelia!" kata Jimmy dalam hati dengan menatap wajah Kairo yang tegas dan tanpa takut itu.


~Bersambung


Halo semua. Akhirnya aku comeback. Terima kasih yang sudah menunggu cerita ini. Maaf ya, aku dan anakku habis sakit sampai masuk rumah sakit. Jadi satu bulan kemarin aku istirahat total tapi mulai hari ini aku bakalan update lagi.


Yuk tes bab dulu. Kalau bab ini komennya banyak. nanti aku update lagi.

__ADS_1


__ADS_2