Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire

Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire
Kebahagiaan Kairo


__ADS_3

"Iya, Pa," Sahut karyawan itu dengan mengangguk. "Kak Day sedang melayani para pelanggan."


Jimmy mengangguk. Telinganya sudah sangat familiar dengan panggilan Papa. Semua karyawan putrinya di restoran memang dia izinkan memanggil papa.


Jimmy hanya ingin kedekatan antara mereka, antara dirinya dan karyawan anaknya tak ada perbedaan apapun. Jimmy tak suka mereka membedakan dengan status sosial. Jika memanggil namanya dengan panggilan yang sama, maka mereka akan merasa sama.


"Oke." Jimmy lekas berjalan semakin masuk.


Dia melewati banyaknya orang-orang yang lalu lalang dan juga antrian di kasir. Jimmy benar-benar merasa bangga dengan putrinya itu. Dayana bisa mempertanggungjawabkan pekerjaannya. Dayana bisa mengatur segalanya hingga berjalan dengan lancar.


Bersamaan dengan Jimmy yang hendak masuk ke dalam ruangan Dayana. Bersamaan dengan itu Frans baru saja keluar dari ruangan VIP dengan diikuti Dayana yang muncul.


Langkah kaki itu benar-benar berlawanan dan membuat Jimmy tak melihat ke arah mereka.


"Terima kasih banyak, Tuan. Semoga anda puas dengan pelayanan restoran kami," ucap Dayana dengan menunduk hormat.


Frans mengangguk. Dia lekas keluar dari restoran dan membuat Dayana bisa bernafas lega. Dia mengusap dadanya. Dayana benar-benar takut sebenarnya pada Frans.


Dia telah melakukan kesalahan dan takut membuat Frans tak nyaman. Namun, melihat pria itu memujinya, sedikit banyak beban dalam dirinya terangkat.


Saat Dayana berbalik. Bersamaan dengan itu seorang karyawan mendekatinya.


"Ya?" tanya Dayana yang yakin jika ada sesuatu yang hendak dikatakan kepadanya.


"Ada Papa Jim di ruangan, Kak Day," ucapnya memberitahu yang membuat Dayana lekas berterima kasih.


Dia lekas berjalan dengan cepat. Senyumannya terpancar saat tahu sosok Papa yang begitu dia sayangi ada disini. Papanya selalu mendukung usahanya ini. Jimmy adalah saksi kunci dirinya untuk berjuang.


"Papa," panggil Dayana dengan lebih keras.


Tentu hal itu membuat Jimmy yang baru saja duduk menoleh. Dia memberikan senyuman yang teduh dan membuat Dayana lekas mendekat dan mencium punggung tangannya.


"Udah lama?"


Jimmy menggeleng. "Papa baru aja dateng."


Dayana spontan menoleh ke arah meja di depannya. Dia melihat rantang makanan disana.


"Ini… "


"Makanan buat kamu. Papa memasaknya khusus buat putri Papa yang cantik," ucap Jimmy yang membuat Dayana lekas meraih rantang itu.

__ADS_1


Dia mencium aroma yang ada di rantang tersebut. Sedikit banyak hidungnya mencium makanan yang sangat familiar. Dia lekas membuka rantang itu dan menatapnya penuh binar.


Makanan favoritnya. Makanan yang sangat amat dia sukai. Makanan yang menjadi salah satu makanan favorit sejak dia kecil.


"Papa ini," kata Dayana dengan menatap tak percaya.


"Bubur grandul," ucap Jimmy dengan tersenyum. "Makanan khas Jawa Timur yang paling kamu suka. Biasanya bubur ini dibuat hanya sesuai dengan bulannya tapi Papa tahu kamu udah lama gak makan bubur ini. Jadi Papa buatkan," ucap Jimmy yang semakin membuat Dayana menatap Jimmy dengan hangat.


Entah apalagi yang bisa mendeskripsikan sosok papanya. Tapi yang pasti Jimmy tak pernah memikirkan mereka yang sebenarnya tak memiliki hubungan darah. Jimmy benar-benar menyayanginya dengan tulus. Merawatnya dan mendidiknya tanpa meminta imbalan. Entah apa yang sudah dilakukan ibunya, tapi Jimmy benar-benar tulus begitu baik kepadanya.


"Cepat makan, Day. Nanti buburnya keburu dingin!" kata Jimmy yang membuat Dayana lekas mengacungkan jempolnya.


***


Kairo lekas menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Dia sudah berganti pakaian. Nafasnya masih naik turun karena dia benar-benar baru saja sampai. Kepalanya masih berputar tentang sosok ibunya.


Dia benar-benar ingin menemani ibunya. Dia tak mau ibunya sendiri. Namun, apakah hal itu bisa.


Di tengah kegaduhan dirinya. Ditengah jiwanya yang benar-benar sedang lelah. Saat Kairo memijit kepalanya yang sakit. Tiba-tiba suara notif ponselnya membuatnya membuka mata.


Kairo lekas meraih ponselnya itu. Tersenyum kecil saat pop up menunjukkan jika notif itu muncul dari nama yang sangat amat dia cintai.


Kairo lekas membuka chat tersebut. Melihat potret yang dikirim olehnya.


Keningnya berkerut. Dia menatap makanan itu lamat-lamat.


"Ini apa?" tanya Kairo sambil membalas pesan itu.


Belum ada balasan. Perempuan di seberang sana juga tak online. Maka Kairo memilih meletakkan ponselnya itu dan menatap meja kerjanya yang sudah ada tumpukan berkas yang harus dia selesaikan.


"Semangat, Kai. Ingat! Kau ingin menikah, jadi kau harus bekerja keras," Ucapnya menyemangati diri sendiri.


Saat dirinya baru saja ingin bekerja. Melanjutkan dan mencoba mencari zona nyaman di ruangan barunya ini. Sebuah ketukan membuat Kairo mendongak.


"Ya masuk!" kata Kairo yang perlahan pintu itu terbuka dan muncullah sosok perempuan yang sangat amat dia sayangi.


"Mama," panggil Kairo dengan bahagia saat melihat Zelia datang.


Kairo lekas beranjak dari kursi kerjanya. Berjalan ke arah Zelia dan mencium punggung tangannya.


"Mama bersama siapa?" Tanya Kairo sambil menuntun Zelia untuk duduk.

__ADS_1


"Aku!" Sahut suara yang sangat amat Kairo kenal.


"Kaisar!"


Kaisar memberikan cengiran kuda. Dia memeluk kakak laki-lakinya itu lalu menyusul duduk di seberang ibunya.


"Kamu ngapain disini? Bukannya kamu harus bekerja di kantor pusat? Terus bagaimana… "


"Kenapa kamu jadi kayak Bunda?" Balas Kaisar dengan mendelik. "Bunda saja lebih santai. Kok Kak Kai yang gantiin Bunda?"


Kairo meletakkan kedua tangannya di pinggang. Dia melototkan matanya ke arah Kaisar dengan lekat.


"Aku hanya tak mau Papa memarahimu, Kaisar. Kamu harus… "


"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, Kakak. Mangkanya aku bisa kesini buat nemenin Bunda!" kata Kaisar menjelaskan dan itu tentu membuat Kairo bernafas lega.


Dia tak mau adiknya itu kena marah. Dia tak mau Kaisar kena amukan papanya lagi karena kemari.


"Kalian sudah makan?" Tanya Zelia sambil membuka makanan.


Kairo menelan ludahnya paksa. Akhh perutnya sudah sangat kenyang. Dia makan dengan lahap di rumah ibunya.


"Kairo. Kamu pasti lapar kan, Nak. Ayo kita makan!"


Kairo masih tak menjawab. Namun, matanya tak sengaja menatap ke arah mata adiknya.


"Kamu udah makan kan?" Kata Kaisar tanpa suara tapi Kairo bisa membaca mulutnya itu.


Kepala Kairo mengangguk. Dia memasang wajah memelas karena perutnya memang sudah sangat kenyang.


"Mampus!" ucap Kaisar dengan tanpa suara tapi masih bisa dibaca oleh Kairo yang membuat pria itu mendelikkan matanya.


"Ayo, Kak Kairo. Ini makanan kesukaan, Kakak. Biasanya Kakak makan banyak nih kalau menunya ini!" ajak Kaisar yang benar-benar membuat Kairo tak bisa melakukan apapun.


Dirinya menerima piring itu. Melihat nasi yang diambilkan mamanya. Namun, dibalik perutnya yang kenyang. Tentu dia tak mau Zelia sedih.


Zelia adalah orang yang dia sayang. Zelia adalah orang yang menjaganya selama dia terpisah dari ibunya.


"Kenapa, Kai. Kenapa kamu lihatin Mama begitu?" tanya Zelia yang sadar jika dipandang lekat oleh putranya.


Kairo menggeleng. Dia memegang tangan mamanya dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Mama harus sehat terus yah. Mama harus temani Kairo sampai menikah dan kasih cucu buat Mama!"


~Bersambung


__ADS_2