Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire

Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire
Tamparan


__ADS_3

Dibalik dinding, Zelia melihat semuanya. Dia melihat bagaimana perlakuan suaminya. Hal yang benar-benar menyakiti kedua putranya. Tentu hal itu tak bisa dibiarkan. Dirinya tak mau hal ini terjadi seperti ini.


Akhirnya dirinya mulai keluar. Zelia datang dan membuat ketiganya menoleh.


"Baru dateng, Nak?" tanya Zelia sambil mengusap pundak Kairo yang masih berdiri di dekat sofa.


Kairo yang melihat kedatangan mamanya itu spontan tersenyum. Dirinya tak mau membuat mamanya selalu menatap dirinya kasihan. Dia tak mau Zelia selalu bersedih karena dirinya.


"Iya, Ma," jawab Kairo dengan mengangguk. "Kai izin ke kamar dulu yah."


Kairo mencium tangan Zelia. Setelah itu dia lekas pergi dari sana. Meninggalkan Zelia, Frans dan Kaisar yang masih duduk tenang disana.


"Kaisar!"


"Ya, Bunda?" jawab Kaisar dengan mendongak.


"Lanjutkan pekerjaan kamu di kamar yah. Bunda mau bicara sama Papa."


Kaisar tentu mengangguk. Dirinya lekas membawa ipad dan laptop yang ada di atas meja lalu segera pergi dari ruang tamu. Kaisar benar-benar merasa bersalah. Dirinya kepikiran sosok kakaknya yang pasti sedang sedih.


Dirinya tak peduli apapun. Kaisar tak peduli apa yang ingin dibicarakan oleh kedua orang tuanya. Yang terpenting sekarang, dirinya bertemu dengan kakaknya itu.


Sampai akhirnya tepat didepan pintu kamar Kairo. Kaisar berdiri di sana dengan ragu. Dirinya menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan perasaan bersalah.


Kaisar benar-benar tak bisa melakukan apapun ketika bersama papanya. Dia akan selalu disetir dan dikendalikan oleh papanya sesuai dengan apa yang Frans minta.


Saat tangannya hendak mengetuk pintu kamar itu. Tiba-tiba pintu itu bergerak sendiri dan terbuka lalu muncullah sosok yang dia inginkan.


"Kaisar."


"Kairo."


Kedua pria itu saling memanggil. Tatapan mata yang menatap penuh luka itu benar-benar menjadi gambaran perasaan keduanya. Tanpa mengatakan apapun, Kaisar lekas berlari ke pelukan kakaknya hingga Kairo tentu menerimanya dengan suka cita.


"Maafkan aku, Kak. Maafkan Kaisar. Kaisar tak menginginkan perusahaan. Kaisar tak mau di kantor. Kaisar…"


"Usttt!" Kairo mengusap punggung adiknya itu.


Dia sangat paham apa yang dirasakan oleh Kaisar. Dia sangat paham apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh adiknya itu.


"Jangan katakan apapun. Kakak tahu jika kau tak menginginkan perusahaan. Kau melakukan itu hanya karena paksaan papa bukan. Kau hanya tak mau papa kecewa padamu dan kakak menerimanya."


Kaisar perlahan melepaskan pelukannya. Pria tampan dengan postur tubuh yang tak kalah kelar dengan Kairo itu menatap sosok kakaknya dengan lekat.


"Bagaimana jika kita melawan papa bersama, Kak. Aku… "

__ADS_1


"Jangan pernah berpikir untuk melakukan itu, Kaisar!" Seru Kairo mengingatkan.


"Tapi Papa…"


"Ingat! Bagaimanapun sikap Papa. Dia adalah papamu. Dia… "


"Dia juga Papamu, Kak. Bukan papaku saja!" seru Kaisar dengan jelas.


Kairo mengangguk. Perlahan dia memegang tangan Kaisar dan menggenggamnya.


"Bagaimanapun Papa. Jangan pernah berpikir untuk melawannya, Kaisar. Kau harus ingat itu?"


...****************...


"Ada apa, Ze?" tanya Frans saat dirinya mampu melihat tatapan mata istrinya yang berbeda padanya.


Bahkan Zelia masih berdiri disana. Dia benar-benar tak duduk di dekat Frans.


"Apa yang sedang kau rencanakan, Mas?" ucap Zelia dengan perasaan marah sekaligus kecewa. "Apa yang ingin kau lakukan setelah ini?"


"Apa maksudmu, Ze?"


"Kenapa kau memindahkan Kairo ke anak perusahaan. Lalu Kaisar yang sedang kuliah sudah kau beri dia tanggung jawab memegang perusahaan utama?" Ujar Zelia benar-benar tak paham dengan jalan pikiran Frans.


Dia sangat ingat suaminya berjanji akan memperlakukan Kairo seperti anaknya sendiri. Bersikap baik padanya dan menerima kehadirannya.


Suaminya itu bahkan mengkhianati perkataannya sendiri. Apa yang sudah dia janjikan padanya, tapi tak Frans tepati.


"Kau tau, Ze. Aku bersikap baik dengannya, berusahalah menerima dia karena perjanjian kita berdua. Karena paksaan kamu juga aku berusaha nerima dia. Tapi sekarang?"


"Kenapa sekarang?" Seru Zelia dengan wajah yang benar-benar berani. "Kenapa sekarang kamu berubah?"


"Aku gak pernah berubah!" ucap Frans dengan beranjak berdiri. "Kamu sendiri yang memintaku baik padanya kemarin. Kamu sendiri yang mengancam jika aku tak bisa baik pada Kairo, kau akan meninggalkanku."


"Tapi apa kau tau, Ze? Menerima apa yang tak aku suka itu menyakitkan. Apalagi kehadiran Kairo bukan hal yang aku inginkan!"


"Dia itu bukan anakku. Dia anak mantan pacarku dengan kakakku. Dia… "


Plak.


Kepala Frans menoleh ke samping. Sebuah tamparan yang kuat benar-benar melayang di pipinya dan itu berasal dari tangan Zelia. Perempuan itu benar-benar sudah tak tahan dengan sikap suaminya.


Apalagi perkataan Frans yang benar-benar sudah di luar nalarnya.


"Apa kau tak takut jika Kairo mendengar itu dari mulutmu, Frans?" Seru Zelia dengan tatapan benar-benar marah.

__ADS_1


Tatapan penuh emosi dan kekecewaan yang besar. Tatapan mata yang baru kali ini Zelia berikan.


"Apa kau tak ingat! Hasil dari DNA kau dan Kairo itu menunjukkan kalian ayah dan anak kandung. Tapi kau sekarang… "


"Aku tak percaya dengan hasil itu, Ze!"


"Kau benar-benar pria brengsek yang aku kenal, Frans," ucap Zelia dengan lirih dan air mata tentu menetes di ujung matanya.


"Aku benar-benar kecewa padamu. Kau benar-benar… " Zelia seakan tak mampu melanjutkan perkataannya lagi.


Seakan apa yang dia dengar sekarang. Apa yang Frans katakan padanya membuatnya sungguh amat kecewa.


"Membuatku kecewa!"


"Ze… "


"Diam!" Seru Zelia menunjuk Frans agar tak mendekat padanya. "Jika bisa memilih. Kairo tak akan mau memiliki ayah sepertimu. Jika Kairo bisa memilih, dia tak mau dilahirkan di keluarga seperti ini."


"Dia hanyalah seorang anak yang tak tahu siapa orang tuanya, Frans. Dia lahir dengan tanpa dosa. Jika ditanya siapa yang harusnya bertanggungjawab. Ya itu kau dan Clein."


"Kau dan dia yang membuat Kairo ada disini. Kau dan dia yang membuat Kairo hadir di dunia ini. Jadi jika kau ingin marah, marahlah pada dirimu sendiri dan Clein!"


Zelia benar-benar mengeluarkan semua unek-unek dalam dirinya. Dia dengan tulus menerima Kairo. Dirinya bahkan menyanyi keduanya seperti anak kandungnya sendiri.


Jika disuruh memilih antara Kairo dan Kaisar. Zelia akan menjawab dia tak bisa memilih. Dirinya menyayangi Kairo seperti dia menyayangi Kaisar.


Dua putranya yang benar-benar dia cintai sepenuh hati. Dia banggakan dengan begitu tinggi apapun prestasinya.


"Ze, jangan egois!"


"Aku gak egois, Frans!" balas Zelia dengan serius. "Aku hanya ingin mengatakan jika kau terus begini. Jika kau tak bisa menerima Kairo dan bersikap baik kepadanya. Maka lebih baik aku pergi dari rumah ini dengan anak-anakku."


Setelah mengatakan itu. Zelia lekas pergi dari sana. Dia meninggalkan Frans yang yang memanggil namanya berulang kali.


Dia tak peduli akan apapun. Dia benar-benar berusaha tak mendengar dan segera menutup pintu kamar dan menguncinya.


Zelia sungguh amat kecewa. Zelia benar-benar tak bisa memahami sikap Frans yang sekarang. Jika bisa dia katakan, dia benar-benar tak kenal Frans yang sekarang.


Frans yang sekarang berbeda dengan Fransnya yang dulu.


Frans yang baik, Frans yang perhatian pada keluarga. Frans yang begitu menyayangi dan mematuhi perkataannya.


"Aku kecewa sama kamu, Mas. Aku benar-benar kecewa!"


~Bersambung

__ADS_1


Maaf baru update yah. Aku baru balik kerja.


Do'ain besok Mbak Zelia bisa lanjut lagi yah. Aku masih mau ngetik dia.


__ADS_2