Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire

Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire
Godaan Kairo


__ADS_3

Dayana masih tak sabar. Nafasnya bahkan masih naik turun dan itu benar-benar menunjukkan bahwa dirinya benar-benar masih dalam emosi amarah yang menguar. Wanita itu bahkan tak tahu jika ada seorang pria yang memperhatikannya dari samping.


Pria yang dengan sadar membela dirinya. Pria yang dengan sadar benar-benar menjaga dan membelanya.


"Day," panggil Kairo pelan sambil menguap pipi Dayana untuk menyadarkan wanita itu.


Dayana terperanjat kaget. Dia lekas menoleh dan mendapati jarak wajahnya dengan wajah Kairo hanya sejengkal.


"Aku… " Dayana benar-benar tergagap.


Dia bahkan tak tahu harus mengatakan apa. Seakan semua kemarahan itu ikut menguap seiring dengan menatap wajah tampan Kairo kepadanya.


"Tenangkan hatimu dulu. Ini masih pagi, gak baik marah-marah nanti cepat tua!"


Dayana mendelik sebal. Dia memukul lengan pria itu dengan kesal.


"Aku masih muda!"


"Iya sekarang. Nanti kalau kamu marah terus, cepet keriput pipimu!"


Dayana spontan menjauh. Bibirnya mengerucut sebal menandakan bahwa dirinya kesal bukan main.


"Sana berangkat kerja! Kamu nyebelin!" sembur Dayana yang membuat Kairo terkekeh.


Entah kenapa dia melihat wajah wanita itu sangat lucu. Bibir mengerucut, keningnya berkerut dan juga nafasnya yang naik turun membuat Kairo semakin gencar menggodanya.


"Diusir nih! Beneran?" tanya Kairo dengan menaikkan alisnya. "Ntar aku kalau gak kesini lagi, bilang kangen!"


"Gak bakal bilang kangen!" Dayana berujar ketus.


Hal itu dia katakan sambil mencuri pandang ke arah Kairo. Jujur di dasar hatinya juga ada ketakutan. Ketakutan jika apa yang pria itu katakan memang benar.


Dirinya belum siap. Dirinya benar-benar belum siap akan apapun.


"Yaudah. Aku berangkat dulu yah. Aku… "


"Nggak!" Dayana menarik ujung jas Kairo dengan erat.


Bak anak kecil yang takut ditinggalkan, Dayana menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar takut jika Kairo tak akan datang lagi.


Entah sejak kapan. Namun, jujur perasaan Dayana benar-benar mulai terusik. Apalagi sejak hari dimana Kairo jujur tentang hatinya. Hal itu membuat Dayana mulai oleng.

__ADS_1


Ahh bukan oleng. Namun, dia merasa masih ada pria yang mau menerimanya. Masih ada pria yang mau menjaga dan mencintainya setulus Kairo.


Dia benar-benar merasa beruntung. Masih ada pria seperti Kairo di dunia.


"Aku mau ke kantor, Dayana!" kaya Kairo dengan menahan senyum.


Dayana menggeleng. Dia sama persis seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya. Dia sama persis seperti anak kecil yang takut ditinggal.


"Aku bakalan kesini lagi!" lanjut Kairo yang membuat Dayana mendongak.


"Bener, 'kan? Kamu gak boong?" sembur Dayana dengan serius.


Kairo tersenyum. Dia berbalik lalu mengusap kepala Dayana dengan pelan. Merapikan rambut halus itu lalu menatap kedua bola itu dengan lekat.


"Aku gak bohong, Dayana. Aku pasti akan datang kesini tapi dengan satu syarat!" ucap Kairo tertahan yang membuat Dayana terdiam.


Dia menunggu kelanjutan perkataan Kairo. Dia benar-benar menunggu dalam diam.


"Jika Tessa datang kemari! Jangan pernah mau diinjak-injak lagi, oke! Kamu benar-benar harus berani melawannya!"


"Aku tadi melawan!"


"Aku tau? Tapi kamu jangan sampai terluka. Lihat ini!" kata Kairo lalu menekan pipi Dayana yang memerah.


"Ini yang aku maksud. Kamu boleh melawan tapi jangan sampai kamu terluka kayak gini. Janji?" Kairo benar-benar berharap akan hal ini.


Dia tak mau saat dirinya tak ada Dayana akan terluka. Dia tak mau perempuan itu mau diinjak-injak harga dirinya. Dirinya benar-benar ingin Dayana berani melawan, mematikan gerakan musuhnya tapi tetap dengan hati-hati.


"Janji," sahut Dayana yang entah berapa kali mengatakan janji sepagi ini.


"Ayo masuk! Aku obati dulu lukamu setelah itu aku berangkat ke kantor!"


***


Tessa kembali ke rumah. Wanita itu benar-benar mengepalkan tangannya sampai baku-baku kukunya memutih menandakan dia benar-benar emosi begitu dalam.


Matanya berkilat marah, dia benar-benar memaki nama Dayana sejak tadi. Dirinya bahkan sampai melempar semua barang yang ada di atas meja hingga pecah berserakan ke lantai.


"Awas aku, Dayana!" Seru Tessa dengan amarah yang tinggi. "Aku benar-benar akan membalasmu!"


Mata itu mengandung kebencian yang sangat mendalam. Tessa benar-benar sudah buta akan dirinya. Dia buta karena takut statusnya direnggut atau karena takut kehilangan semuanya.

__ADS_1


Sampai akhirnya suara mesin mobil membuat Tessa mendongak. Dia sangat hafal suara mobil ini dan mulai berjalan keluar. Perempuan itu menatap nanar ke arah mobil yang mulai terbuka dan muncullah sosok suami dengan seorang wanita berpakaian kurang bahan


"Lepaskan suamiku!" seru Tessa lalu mendorong tubuh wanita itu dengan kasar.


Matanya menatap nyalang ke arah wanita yang menatapnya sinis.


"Tak tahu berterima kasih! Untung saja suamimu ku antar pulang! Jika tidak, dia akan mati oleh bodyguard!" umpat wanita yang memakai kurang bahan itu dengan kasar.


"Siapa yang meminta bantuanmu, Wanita pelacur!" Seru Tessa dengan marah. "Aku bisa mengurus suamiku sendiri!"


"Mengurus?" Kata wanita itu meremehkan. "Jangankan mengurus. Suamimu pergi ke club malam saja. Kau tak tau kan?"


Wanita itu melipat tangannya di depan dada. Dia menatap ke arah Tessa dengan senyuman mengejek.


"Kau juga tak akan tahu jika suamimu itu tidur dengan wanita malam bukan? Sangat menyedihkan! Kasihan sekali hidupmu!"


Wanita itu bahkan tertawa dengan lucu. Dia benar-benar sangat amat menatap Tessa dengan tatapan kasihan. Tanpa pamit, dia segera berjalan berlalu dari sana meninggalkan Tessa yang membawa tubuh suaminya.


Bau alkohol tentu tercium dengan jelas di hidung Tessa. Wanita itu segera membaringkan tubuh Rio di sofa panjang.


"Pria menyusahkan! Bukannya kerja, kau malah mabuk tak berguna!" Umpat Tessa dengn marah.


Dia lekas melepaskan sepatu Rio. Melemparnya ke sembarang arah dan membiarkan Rio meracau.


"Day… Dayana, Sayang. Kemarilah… Maafkan aku, Sayang. Aku menyesal."


Tessa benar-benar berkilat marah. Dia mengepalkan kedua tangannya dan memukul dada Rio dengan kuat.


"Sadar, Rio. Ini kau Tessa! Bukan Dayana!" seru Tessa dengan suara tertahan.


Bagaimanapun dia hanyalah seorang perempuan. Bagaimanapun perempuan itu juga hanya membutuhkan pengakuan. Bagaimanapun sikap Tessa. Dia tetaplah perempuan lemah.


Dia tetap perempuan yang membutuhkan sandaran. Dia tetap perempuan yang butuh cinta.


Apalagi mengingat masa lalunya. Mengingat bagaimana dia ditinggalkan membuat Tessa menggelengkan kepalanya dengan kuat.


Dia tak mau masa lalu itu terjadi dua kali. Dia tak mau hal yang lalu kembali dia rasakan. Dia tak mau disakiti lagi. Dia tak mau ditinggalkan dan menjadi pengemis di pinggir jalan.


"Awas kau, Dayana! Aku tak akan membiarkanmu merebut semuanya! Rio adalah milikku dan kau tak akan bahagia! Aku akan menghancurkan kebahagiaanmu dengan kedua tanganku sendiri!"


~Bersambung

__ADS_1


Duh yang salah siapa, marahnya ke siapa Mbak Tessa


__ADS_2