Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire

Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire
Rahasia Masa Lalu


__ADS_3

Clein spontan meminta anaknya masuk. Dia mengunci pintu lalu memeluk anaknya dengan erat. Dia benar-benar merindukan anaknya itu. Dia benar-benar sangat ingin bertemu anaknya hingga pertemuan ini menjadi hal yang membahagiakan untuknya.


"Bagaimana kabar, Ibu!" tanya Kairo dengan melepas pelukan ibunya lalu menatap kondisi ibunya dari atas sampai bawah.


Dia benar-benar khawatir. Dia benar-benar tak bisa sebebas itu menghubungi sosok ibu yang melahirkannya ini.


"Ibu baik, Kai. Kamu gimana?"


Anak dan Ibu itu mulai pindah ke kursi yang ada di ruang tamu. Sebuah kursi biasa dengan meja kecil di tengahnya yang benar-benar selalu berhasil membuat Kairo merasa sedih dengan kondisi ibunya ini.


"Kai baik," jawab Kairo dengan memegang tangan ibunya. "Ibu gak sakit lagi, 'kan?"


Clein tersenyum. Dia menggeleng lalu mengusap kepala putranya dengan lembut.


"Ibu sehat, Nak," jawab Clein dengan tatapan mata meyakinkan.


Dia tahu putranya selalu khawatir padanya. Dia tahu putranya selalu takut terjadi hal yang tak diinginkan padanya.


Kairo masih diam. Dia hanya memegang telapak tangan Clein hingga membuat ibu satu anak itu tahu apa yang tengah dirasakan putranya itu. Hidup yang dijalani mereka berdua memang tak mudah.


Perjalanan yang memang terjal. Perjalanan yang memang sangat amat sulit itu keduanya lakukan karena kesalahan di masa lalu.


"Ibu," panggil Kairo pelan sambil mengusap lengan ibunya.


Clein yang sejak tadi diam. Clein yang dengan sengaja membiarkan anaknya memiliki ruang untuk tenang dan berpikir memilih menunggu. Menunggu apa yang hendak dikatakan putranya.


"Ada apa, Kai. Kenapa kau terlihat banyak menyimpan masalah, Nak?"


Kairo mengangguk. Dia memang sedang banyak tekanan. Meski seperti itu, di lain hal dia juga memiliki kebahagiaan yang tak terhingga.


"Kairo dipindah ke perusahaan cabang," lirih Kairo pelan sambil memegang tangan ibunya. "Kaisar sudah datang dan papa meminta dia memegang perusahaan utama."


Clein menatap anaknya dengan tatapan mata berkaca-kaca. Dia mengusap wajah anaknya dengan pelan.


"Papa masih sama, Bu. Dia tak pernah menganggapku. Dia selalu mengacuhkan aku dan tak pernah bangga dengan apa yang Kai raih. Kairo… " Kairo tak bisa mengatakan apapun.


Dia hanya meneteskan air mata dan membuat Clein spontan meraih tubuh anaknya dalam pelukan. Clein tahu hidup anaknya memang terjamin bersama sosok mantan kekasihnya itu. Namun, dia selalu melihat batin anaknya tak baik.


"Apa yang Kairo lakukan tak pernah ada kata benar, Bu. Kairo benar-benar hanya bidaknya. Kairo…"

__ADS_1


"Kai… " lirih Clein dengan menangis.


Dia mengerti kesulitan anaknya. Dia mengerti jika jiwa anaknya selalu tak baik jika datang padanya. Ya, rumah ini, Clein adalah persinggahan terakhir untuk seorang Kairo.


Jika dia sudah banyak menyimpan sakit. Banyak masalah yang pria muda itu hadapi. Maka dia akan datang ke rumah ibunya. Ibu yang melahirkannya. Ibu yang selalu menyayanginya sampai kapanpun.


"Apa salahku pada Papa, Bu?" tanya Kairo pelan dengan menatap ibunya penuh permohonan.


Kairo benar-benar hanya ingin tahu kesalahan apa yang dilakukan mereka. Kenapa papanya tak menyukai dirinya. Kenapa papanya mengasingkan ibunya ini dari kehidupan kota.


"Katakan padaku, Bu. Apa yang sudah ibu dan Kai lakukan. Hingga Papa tak pernah mau menganggap keberadaanku?" tanya Kai penuh harap.


Clein benar-benar sesak nafas. Dia terlalu banyak menangis tentang kehidupan anaknya. Dirinya benar-benar menyimpan banyak hal hingga membuatnya sakit yang amat dalam pada diri anaknya dan dirinya.


"Ibu akan menceritakan satu hal padamu, Nak. Tapi jangan pernah benci atau marah kepada siapapun. Oke?"


Clein memegang tangan putranya. Mungkin sudah cukup anaknya ini tahu tentang apa yang terjadi di masa lalu. Mungkin ini sudah cukup dengan apa yang pernah dia lakukan hingga membuat mereka harus terpisah seperti ini.


Ingatan Clein memutar. Dia membayangkan kejadian yang terjadi beberapa tahun silam. Kejadian yang mungkin menjadi awal tonggak dirinya. Kejadian yang mungkin terjadi karena dirinya hingga masa depan anaknya yang menjadi taruhan.


Saat itu, dirinya sengaja datang ke rumah Frans Zelia. Dia benar-benar bingung harus pergi ke mana. Dirinya benar-benar tak tahu harus meminta bantuan siapa.


"Frans… Frans!" pekik Clein dengan berteriak nama sosok yang sangat berarti untuknya.


Clein benar-benar dalam keadaan mendesak. Dengan menggendong seorang putra dia mengetuk pintu itu dengan tak sabaran. Hingga tak beberapa lama pintu itu terbuka dan muncullah seorang perempuan memakai pakaian pelayan.


"Nona Clein!" sapa pelayan yang sangat tahu dan mengenal dirinya.


"Bibi tahukah dimana Frans?" Tanya Clein dengan tatapan mata khawatir. "Dimana Frans, Bi. Aku benar-benar butuh bantuan Frans!"


"Ada apa, Bi? Siapa yang datang?" tanya suara perempuan dari dalam rumah dengan perut sedikit besar.


Clein spontan menoleh. Bersamaan dengan itu Zelia datang dan mendekat ke arah keduanya.


"Siapa kalian?" tanya Zelia dengan tatapan mata penuh kebingungan.


"Zelia tolong aku, Ze. Kumohon!" kata Clein dengan tatapan mata penuh permohonan. "Anakku sakit. Aku benar-benar tak memilikimu uang. Charly tak memberikanku uang sepersen pun. Aku harus membawa Kairo ke rumah sakit. Kumohon!"


Pinta Clein dengan penuh permohonan. Dia bahkan sangat mengagumkan tangannya berusaha meski Kairo kecil dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kumohon! Kumohon, Ze. Bantu anakku. Aku tak mau anakku pergi meninggalkanku. Aku… "


Zelia tentu kebingungan. Dia bahkan untuk pertema kali bertemu seorang wanita ini di depannya. Namun, saat tatapan matanya tertuju pada sosok anak dalam gendongan wanita tersebut. Mata Zelia membelalak. Dia bisa melihat wajah dan garis wajah itu sangat amat mirip dengan sosok suaminya.


"Kumohon! Bantu aku, Ze. Bantu aku membawa anakku ke rumah sakit!"


Zelia yang baik. Zelia yang rendah hati-hati benar-benar membantu. Dia segera memanggil sopir dan meminta untuk mengantar mereka ke rumah sakit.


"Non, ingat kata Tuan Frans. Anda tak boleh keluar rumah. Kandungan anda lemah. Dokter…"


"Tenanglah, Bibi. Semuanya baik. Yang terpenting sekarang kondisi anak ini sehat!" kata Zelia dengan khawatir.


Akhirnya Zelia, Clein dan Kairo kecil lekas masuk ke dalam mobil. Mereka lekas menuju ke rumah sakit terdekat.


Clein benar-benar tak tahu lagi harus datang kemana. Apalagi riwayat Kairo yang kejang membuatnya takut bukan main.


"Makasih banyak, Ze. Terima kasih banyak. Aku benar-benar tak tahu harus meminta bantuan siapa selain kau dan Frans!" ucap Clein dengan serius.


Zelia meski penasaran. Meski dia memiliki sesuatu dalam hatinya yang mengganjal. Dirinya memilih diam. Dia benar-benar menahan semuanya sendiri sebelum ingin bertanya.


Kondisi ini bukan hal yang tepat. Kondisi ini benar-benar hal yang belum pas untuk dia tanyakan. Sampai akhirnya, saat Kairo sudah dibawa masuk oleh dokter. Mendapatkan bantuan pertama.


Tiba-tiba seorang dokter muncul dan membuat Zelia serta Clein mendekat.


"Ya, Dokter?" tanya Clein dengan tatapan yang belum tenang.


"Pasien membutuhkan donor darah O-," kata dokter yang membuat Clein mengusap kasar wajahnya.


"Tapi darahku berbeda dengan putraku, Dok."


"Ayahnya mana? Pasti golongan darahnya sama."


Zelia mematung tak percaya. Dia benar-benar mendengar semua percakapan itu. Hingga entah ini benang merah atau bukan. Dia mulai menduga hal yang tidak-tidak.


"Segera temukan donor darah O-. Di tempat kami sedang kosong!"


Clein tentu menangis. Dia benar-benar tak mungkin meminta seseorang untuk memberikan darahnya. Apalagi disana ada sosok yang sangat amat ingin dijaga perasaannya.


"Suamiku memiliki darah O-," ucap Zelia dengan terbata dan itu membuat Clein memejamkan matanya dengan meneteskan air matanya.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2