
"Sepertinya aku sudah membuang undangan itu disini. Tapi dimana?" Kata Jimmy dengan mencari-cari undangan yang sengaja dia buang.
Akhhh jam dinding yang masih menunjukkan pukul 6 pagi ini, tak membuat Jimmy mengantuk. Dia baru saja ingat akan hal yang semalam dia lakukan. Namun, saat dia mencarinya lagi kenapa sudah tiada.
"Jangan sampai Day melihatnya. Aku tak mau putriku merasa sakit," Lirihnya yang ternyata didengar oleh sosok wanita yang berjalan di belakangnya.
Jimmy terlalu fokus mencari, membuatnya tak sadar jika Dayana ada di belakangnya.
"Apa Papa mencari ini?"
Jimmy menghentikan gerakannya. Dia perlahan menegakkan tubuhnya dengan jantung yang berdegup kencang. Rasanya dia mulai tau dimana letak undangan itu.
Sebelum dia berbalik. Pria itu menarik nafasnya begitu dalam lalu dihembuskan secara kasar. Setelah itu dia segera berbalik dan menatap ke arah tangan putrinya yang benar saja memegang undangan itu.
"Papa mencari ini?" Ulang Dayana dengan pelan.
Jimmy melangkah dengan pelan. Dia mendekati putrinya hingga keduanya berhadapan.
"Day… "
"Apa Papa takut Dayana tahu?" Sela Dayana dengan pelan.
Jimmy mampu melihat kesedihan putrinya. Dia sangat tahu bagaimana putrinya yang sangat amat mencintai Rio. Ya, meski dia tahu pernikahan mereka dulunya bukan kemauan mereka. Namun, ternyata waktu yang berjalan mampu merubah segalanya.
"Papa… " Jeda Jimmy sambil menaikkan tangannya. "Papa hanya tak mau kamu sedih."
Jimmy mengusap kepala putrinya. Dia tak tahu kenapa hidup putrinya ini pelik. Sejak kecil Dayana selalu bahagia, tapi memang jalan hidupnya sulit bersamanya.
"Dayana gak bakal sedih, Papa," Jawab Dayana sambil memegang tangan Jimmy lalu di genggamnya. "Dayana punya Papa. Dayana gak sendiri kok."
"Papa tahu perasaan kamu, Nak," Lirih Jimmy dengan mata berkaca-kaca. "Jangan menyembunyikan perasaan Day dari Papa oke? Kalau Dayana butuh teman cerita. Papa siap menjadi pendengar."
Entah kenapa ucapan papanya itu membuat perasaan Dayana tenang. Sikap dan perilaku Papanya membuat Dayana benar-benar merasa disayangi.
Jimmy selalu menjadi garda terdepan untuknya. Papanya ini selalu menjadi orang pertama yang akan melindungi, menjaga dirinya dengan baik.
"Siap, Papa. Dayana bakalan cerita sama Papa," Jawab Day lalu memeluk Jimmy dengan erat.
Hubungan orang tua dan anak. Hubungan ayah dan anak itu sangat amat dekat. Meski darah yang mengalir dari keduanya tak sama. Namun, hal itu tak membuat cinta dan kasih sayang Jimmy berkurang.
Jimmy benar-benar dengan tulus menyayangi Dayana. Di benar-benar mendidik dan membesarkan Dayana dengan ikhlas.
"Kamu mau kemana, hmm?" Tanya Jimmy saat pelukan itu terlepas.
Dayana menghapus air matanya dengan pelan. Ternyata dia hampir melupakan sesuatu karena undangan itu.
"Day harus ke restoran, Papa. Ada pesanan catering besar masuk dan mereka ingin Day yang mengurusnya sendiri," Ujar Dayana menjelaskan.
__ADS_1
"Jadi kamu gak sarapan dulu?"
Dayana menggeleng. Dirinya harus segera ke restoran untuk membereskan alat yang akan mereka pakai dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dipakai.
"Dayana akan makan di restoran, Pa," Ujar Dayana dengan serius. "Day berangkat dulu yah."
Jimmy mengangguk. Dia mengantar kepergian putrinya sampai di depan teras dan melambaikan tangannya.
...****************...
Dayana mengemudi dengan santai. Suasana di pagi hari ternyata membuat jalanan mulai padat merayap. Dia berdecak lidah saat membayangkan kemacetan ini yang selalu dia rasakan di ibu kota.
Dirinya benar-benar merasa sial. Berpikir jika berangkat sepagi ini, jalanan akan lenggang. Namun, ternyata semuanya salah.
Dayana berkendara dengan hati-hati. Namun, baru saja dia keluar dari kemacetan. Tiba-tiba mobilnya merasa aneh dan membuat gadis itu menepikan kendaraan miliknya.
"Ada apa dengan mobil ini?"
Dayana lekas keluar dari mobil. Dia mengecek sesuatu karena dugaan dirinya.
"Ya ampun!" Keluh Dayana sambil memegang kepalanya.
Dia menatap ke arah ban mobilnya yang ternyata kempes. Benar saja, dia berkendara dengan merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan ban mobilnya.
Kepala Dayana menatap ke kanan dan ke kiri. Dia baru sadar jika saat ini berada di jalan yang jarang dilalui oleh taksi.
Membuka pintu mobil lalu mengambil ponsel dan tas miliknya. Dia tak mungkin menunggu disini. Dirinya terlalu buru-buru dan harus segera sampai di restoran.
"Aku akan menghubungi montir langgananku," Lirih Dayana sambil mengotak atik ponselnya.
Dayana mulai melakukan panggilan. Dengan mata yang terus menatap sekitar.
"Ayo angkat! Angkat!" Lirih Dayana dengan berharap.
Namun, sampai dering ponsel habis. Panggilan itu tak tersambung.
"Kemana mereka?"
Dayana kembali menghubungi. Namun, sampai keempat kalinya panggilan itu tak tersambung. Mau tak mau, dirinya harus mengambil tindakan. Dia lekas memasukkan ponsel di tasnya lagi setelah mengunci kendaraan miliknya.
"Aku harus mencari taksi dulu!"
Day segera berjalan ke tepi jalan. Dia harus menyebrang dulu. Namun, tak lama. Dari arah timur, ada sebuah mobil yang berjalan di dekatnya dan membuatnya mundur.
Dayana terkejut. Dia bahkan mengepalkan tangannya karena menurutnya orang berkendara dengan tak tahu aturan itu membahayakan hidup orang lain.
"Kalau berkendara hati-hati ya, Mas. Ugal-ugalan banget sih!" Omel Dayana dengan berjalan mendekati mobil itu.
__ADS_1
Dia mengetuk pintu jendelanya karena merasa kesal.
"Buka! Berkendara itu jangan seenaknya sendiri. Ini jalan umum! Hati-hati!"
Dayana benar-benar marah. Dia mundur sedikit saat kaca mobil mulai diturunkan dan membuatnya membungkuk.
"Kamu… "
Dayana seakan kehabisan kata-kata. Dia termangu tak percaya saat melihat sosok yang duduk di kursi kemudi dengan tenang. Dayana merasa kesulitan menelan ludah.
Rasa terkejut dan tak percaya membuat dirinya seakan hampir kehilangan nafas.
"Tuan Kairo," Lirihnya yang membuat sosok yang dipanggil menoleh sambil melepaskan kacamatanya.
Tatapan itu kembali muncul. Bahkan Dayana sampai hampir lupa diri sambil membalas tatapan itu.
"Maaf, Nona Dayana. Saya mengejutkan Anda," Ucap Kairo yang membuat Dayana tersadar dari lamunannya.
Ternyata melihat Kairo membuka kacamata saja membuat Dayana hampir lupa diri.
"Ada apa dengan mobil Anda? Apa ada yang bisa saya bantu?"
Kairo turun. Hal itu masih membuat Dayana terdiam. Entah kenapa, takdir seakan mengajaknya bercanda.
"Hmmmm," Sahut Day dengan bingung. "Ban mobilku bocor."
Kairo melihat arah yang ditunjukkan oleh Dayana. Pria itu mengangguk ringan.
"Aku menelepon montir untuk mengurusnya tapi tak diangkat. Jadi, aku berpikir akan meninggalkannya sendiri disini," Jawab Dayana yang membuat Kairo mengangguk.
"Aku akan menghubungi montir kenalanku. Bagaimana?"
"Apa saya tidak merepotkan?" Tanya Dayana dengan pelan.
Kairo menggeleng. "Tidak. Sebentar ya!"
Akhirnya Kairo menghubungi montir kenalannya. Panggilan itu tersambung dan pria itu langsung mengatakan tujuannya. Setelah panggilan terputus. Kairo memasukkan ponselnya kembali.
"Apa Anda ingin ke restoran?"
"Iya, Tuan."
"Baiklah. Mari! Saya akan mengantar Anda!" Kata Kairo yang membuat Dayana semakin tercengang.
~Bersambung
Huaa dianter ya? dianter mobil dulu sekarang yah. nanti dianter ke pelaminan ehhh
__ADS_1