
Dayana menatap dirinya di cermin. Hari ini adalah hari yang telah disepakati oleh dirinya dan Kairo untuk bertemu dengan mamanya. Dayana benar-benar gugup. Dia berulang kali berganti pakaian yang cocok dan menatap dirinya karena takut jika ada kesalahan.
Dia takut kejadian lama terulang kembali. Dia takut kesalahan yang terjadi di masa lalu, membuatnya akan masuk ke dalam lubang yang sama. Dia tak mau hal itu terjadi lagi.
Dayana benar-benar ingin memulai semuanya dengan baik. Dia ingin memulai semuanya dengan apa adanya. Dirinya tak mau menjadi orang lain, tak mau merubah apa yang ada di dirinya dan membuatnya akhirnya memilih sebuah dress berwarna putih dengan aksen bunga matahari yang ada di bagian beberapa sudut dan menambah kesan manis di diri Dayana.
Perempuan itu juga memberikan sentuhan tipis make up di wajahnya. Dia juga memilih menguncir rambutnya menjadi satu agar tak ribet dan dengan cuaca yang panas disini.
"Selesai," ucap Dayana pada dirinya sendiri setelah memilih sebuah sepatu cats yang akan membuatnya nyaman berjalan.
Dayana adalah tipikal wanita tomboy sebenarnya. Dia lebih suka memakai sepatu cats daripada heels. Dia lebih suka memakai celana daripada dress.
Namun, dia juga tipikal wanita yang bisa menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Ya, meski memang dirinya tak suka dengan penampilan terlalu feminim. Namun, Dayana tetap bisa memposisikan dirinya dengan keadaan tertentu.
Langkah Dayana akhirnya mulai keluar dari kamar. Dia berjalan menuruni tangga sampai akhirnya menemui sang papa yang ada di teras rumah sambil mengotak atik sebuah laptop yang ada di pangkuannya.
Dayana tahu papanya sedang bekerja dan membuatnya hanya berjalan menuju Jimmy lalu meraih tangannya.
"Dayana berangkat ya, Pa!" Ucap Dayana tanpa suara.
Jimmy mengangguk. Dayana mencium punggung tangannya lalu segera berjalan menuju mobil yang sudah ada di teras rumah. sebelum masuk, dia melambaikan tangannya lebih dulu lalu segera masuk ke dalam mobil.
Dayana tentu lekas menuju lokasi yang sudah dijanjikan. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ketakutan dan bayangan itu mulai menular di seluruh kepalanya.
Dia takut dirinya tak diterima. Masalah yang terjadi di masa lalu menjadi trauma. Kini membuatnya takut. Takut jika apa yang terjadi pada mantan mertuanya yang dulu akan terjadi lagi dengan ibu dari pria yang dia cintai.
"Ayo, Day! Kamu bisa," kata Dayana saat kendaraan itu sudah terparkir rapi di depan sebuah cafe.
Dayana menarik nafasnya lebih dulu. Dia benar-benar ragu dan tangannya berkeringat dingin. Namun, apa boleh buat. Dia sudah ada disini. Mau tak mau, siap tak siap dia harus siap.
Akhirnya Dayana mulai keluar dari mobilnya. Dia berjalan dengan pelan tapi begitu hati-hati. Bukan apa, dirinya benar-benar merasa gemeteran. Takut jika dirinya melakukan kesalahan dan membuat mama dari Kairo ilfil padanya.
Sampai sebuah lambaian tangan ke arah dirinya membuat Dayana tersenyum. Disana Kairo sudah duduk di salah satu kursi dengan di depannya terlihat punggung seorang perempuan yang diyakini adalah ibu dari Kairo.
Dayana spontan menundukkan kepalanya dengan sopan saat susah ada di sampingnya.
__ADS_1
"Selamat siang, Tante," sapa Dayana pelan yang membuat wanita itu perlahan menoleh.
"Siang," Jawab Mama Kairo yang membuat Dayana perlahan menaikkan pandangannya.
Tatapan mata itu terkejut saat saling bertemu pandang. Baik Dayana atau wanita itu saling berkedip saat keduanya benar-benar ingat dengan satu sama lain.
"Nyonya… "
"Dayana?" kata Zelia dengan cepat yang membuat Dayana tersenyum begitu lebar.
Dia tak percaya jika wanita yang sangat dia sukai ini, wanita yang membantunya membuat salad ternyata sosok wanita hebat dibalik pria yang mencintainya.
"Jadi kamu adalah wanita yang putraku ceritakan?" tanya Zelia saat Dayana mulai duduk di samping Kairo.
Dayana malu. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat pipinya mulai memerah. Dia yakin jika wajah merahnya ini juga bisa dipandang oleh Zelia dan Kairo.
"Nyonya… "
"Jangan panggil nyonya lagi," ucap Zelia lalu memegang tangan Dayana dengan pelan. "Panggil aku Mama seperti Kairo memanggilku."
Sangat hangat dan itu tentu membuat dasar hati Dayana begitu bahagia.
"Ayo kamu mau pesan apa, Sayang?" tanya Kairo dengan percaya diri.
Dayana mendelik. Dia melirik ke arah Zelia yang tersenyum pada keduanya. Dia benar-benar tak tahu jika Kairo benar-benar begitu percaya diri padanya.
Dia benar-benar tak tahu jika Kairo benar-benar berani dengannya. Ahh hal yang begitu mengejutkan tapi benar-benar membuatnya bahagia.
"Jangan panggil begitu ada mama," Bisik Dayana dengan pelan.
Kairo hanya mengangkat bahunya tak acuh. Dia begitu santai di depan mamanya memperlakukan dirinya dengan baik.
"Mama sudah tahu. Biarkan mama melihatnya!" Kata Kairo dengan santai.
"Tapi… " Ujar Dayana yang membuat Zelia tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kamu harus terbiasa dengan Kairo, Day," ucap Zelia yang membuat Dayana menoleh.
"Apa, Ma?" Tanya Dayana dengan bingung.
"Kairo memang selalu seperti itu. Dia selalu menjunjung kebahagiaan seorang wanita," ucap Zelia dengan bangga. "Dia selalu seperti itu. Semoga kamu bahagia mendapatkan putra mama yah. Kairo benar-benar pria baik. Kamu bisa melihatnya bagaimana kamu mengenalnya."
Dayana menoleh. Dia mengangguk dan setuju pada pernyataan calon mertuanya itu. Dia benar-benar bisa menilai Kairo dengan apa yang dia lihat. Dia benar-benar bisa menilai iti dengan benar.
Karena hubungan tiga bulan ini benar-benar menunjukkan bagaimana Kairo padanya.
"Mama benar. Kairo adalah pria yang baik. Dia benar-benar selalu mengutamakanku daripada kebahagiaan sendiri," Lirih Dayana dengan mata berkaca-kaca.
Hal itu membuat Kairo menggeleng. Dia menghapus sudut mata Dayana yang berair dengan lembut.
"Kairo menerimaku apa adanya, Ma," lirih Dayana dengan pelan.
Dia benar-benar akan menceritakan keadaan dirinya. Dayana tak mau Zelia tahu itu dari orang lain. Status dirinya benar-benar akan dia ungkap sendiri demi kebahagiaan di masa depan.
"Mama," panggil Dayana pelan dan mulai nyaman dengan panggilan itu.
"Iya, Nak?" Sahut Zelia pelan.
"Apa Mama tahu, atau Kairo bercerita. Jika status Dayana adalah… "
"Pernah menikah?" Kata Zelia menyela dan itu membuat wanita itu lekas menatap ke arah Kairo.
Kairo tersenyum ke arah Dayana. Dia tahu pasti perempuan itu terkejut ketika mamanya sudah tahu.
"Kairo sudah menceritakan semuanya, Nak. Dia selalu menceritakan nama kamu selama tiga bulan ini pada Mama. Satu hari tak pernah absen untuk menceritakan kamu," ucap Zelia dengan jujur.
Dayana benar-benar tak menyangka dengan hati Zelia yang begitu besar. Wanita paruh baya di depannya benar-benar berhati lembut.
"Jangan merasa takut, Day. Jangan merasa minder dengan status kamu. Mama tak pernah membedakan siapapun untuk menjadi menantu Mama yang terpenting buat Mama," kata Zelia menjeda sambil menatap Kairo dan Dayana berganti. "Kairo bahagia dengan pilihannya."
~Bersambung
__ADS_1