
Akhirnya disinilah mereka berdua. Duduk berdampingan di kursi taman yang menatap ke arah tanaman yang tumbuh segar. Dua wanita dengan usia yang berbeda itu masih saling diam. Tak ada pembicaraan apapun seakan keduanya bingung harus memulai darimana.
"Ma… "
"Day… "
Keduanya saling memanggil bersamaan dan membuat Dayana serta Almeera saling tatap. Mata Day menatap ke arah wajah wanita yang ia anggap ibu itu.
Wanita yang selalu ada untuknya sejak dia bayi. Wanita yang dia tahu merupakan saudara papanya itu adalah wanita yang sangat baik padanya.
"Ma… "
Almeera masih diam. Dia menunggu penjelasan gadis yang sudah dianggap anaknya sendiri.
"Day… " Dayana masih gugup. Dia seakan takut untuk menceritakan permasalahan dirinya.
Seakan masalah ini benar-benar membuat dirinya menjadi sosok pasrah tanpa berjuang. Hingga sebuah genggaman tangan di tangannya membuat Dayana mendongak.
"Jangan cerita apapun pada Mama jika belum siap," Ucap Almeera dengan suaranya yang lirih. "Mama yakin jika luka itu masih basah. Kamu akan sakit untuk mengingatnya."
Dayana meneteskan air mata. Benar apa yang dikatakan oleh Almeera. Hatinya masih terluka. Dirinya masih dalam kondisi yang tak baik.
Benar-benar perasaan dirinya masih hancur lebur. Cintanya yang besar untuk Rio harus dia korbankan. Menunjukkan sikapnya yang kuat di hadapan mereka membuat Dayana benar-benar mengeluarkan sisa tenaga yang dia miliki.
"Maafin Day, Ma. Dayana tak bisa menjadi sosok seperti Mama," Lirih Dayana sambil mencium kedua tangan Almeera.
Gadis itu menangis. Hal itu membuat hati seorang ibu seperti Almeera tersentuh. Dia segera menarik pundak Dayana dan memeluknya.
Memeluk gadis kecil yang pernah dijadikan korban. Korban antara dirinya dan kakaknya, Jimmy. Dia hampir benci Dayana. Hampir ingin meminta kakaknya menitipkan Dayana di panti asuhan.
Namun, ternyata semakin berjalannya waktu. Almeera bisa menerima semuanya. Dia bisa menerima semua penjelasan kakaknya. Menerima keputusan Jimmy dan menerima kehadiran Dayana.
"Kamu sudah menjadi anak mama yang kuat. Dayana Mama tangguh!" Lirih Almeera yang ikut menangis.
Dia sudah diberitahu permasalahan oleh Jimmy. Apa yang sudah dilewati oleh Dayana dan membuat Almeera berada disini.
"Kamu sudah kuat sampai di titik ini. Anak Mama gak gagal kok!" Lanjut Almeera yang semakin membuat Dayana mengeratkan pelukannya.
Percayalah yang Dayana butuhkan hanya pelukan. Wanita itu hanya ingin dipeluk untuk semua masalah yang sudah dia hadapi. Meski Dayana tahu, pelukan tak membuat masalahnya selesai. Namun, dengan pelukan dia merasa tak sendirian.
"Lihat, Mama!" Kata Almeera sambil melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Dayana terdiam. Bahkan saat wajahnya ditangkup oleh kedua tangan Almeera, dirinya hanya diam.
"Gak semuanya harus seperti Mama agar menjadi sosok yang kuat," Ucap Almeera dengan serius. "Kamu dengan versimu sendiri. Sampai di titik ini, sudah cukup untuk menjadi sosok wanita kuat seperti Mama."
...****************...
"Aku bantu, Kak," Kata Almeera yang tiba-tiba datang dan membuat Jimmy menoleh.
Almeera tersenyum. Dia segera mengambil alih pisau di tangan kakaknya itu.
"Kemana Dayana?" Tanya Jimmy sambil mencari sosok gadis yang sangat dia sayangi.
"Dia ke kamar mandi," Jawab Almeera sambil memotong buah-buahan.
Jimmy mengangguk. Dia mengambil susu dan beberapa bahan untuk salad buah di kulkas lalu meletakkannya di samping sang adik.
"Bagaimana?"
Almeera menghentikan tangannya. Dia menoleh dan menatap sosok kakaknya yang terlihat khawatir.
"Dayana anak yang kuat. Dia hanya butuh istirahat dan menerima semuanya, Kak," Jawab Almeera dengan pelan. "Teruslah bersamanya. Jangan biarkan dia sendirian dan melamun."
"Kak Jim temani Bia ke restoran. Biarkan gadis itu bereksperimen disana hingga mencari suasana baru untuknya," Lanjutnya lagi yang membuat Jimmy mendengarkan semuanya dengan seksama.
"Ya?"
"Apa aku harus mengirim Dayana ke New York?" Lirih Jimmy yang membuat Almeera terkejut.
"Untuk apa?"
"Untuk menyembuhkan lukanya," Jawab Jimmy yang membuat Almeera tersenyum.
Ibu dari empat orang anak itu. Yang usianya tak lagi muda perlahan meraih kedua tangan kakaknya. Tangan yang sejak dulu tak pernah berubah untuknya.
"Jangan memaksa apa yang tidak diminta oleh mereka, Kak," Ujar Almeera dengan tenang. "Biarkan Dayana memilih. Dia mau disini atau dimanapun. Kita akan mendukungnya."
"Tapi, aku tak dia terus bersedih seperti ini. Putriku adalah gadis yang ceria. Dia…"
"Day mau disini, Papa!" Celetuk Dayana yang ternyata sejak tadi berdiri di balik dinding.
Dia benar-benar mendengar semuanya. Bagaimana kasih sayang Papa Jimmy dan Mama Almeera yang tak perlu diragukan lagi. Hingga Dayana juga paham jika mereka mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Day, kamu… "
"Maafin Dayana sudah menguping. Tapi Day mau disini, Papa. Day mau sama Papa," Kata Dayana memutuskan yang membuat semuanya benar-benar tak bisa menolak.
Akhirnya baik Jimmy dan Almeera tak menjawab lagi. Keduanya paham dan akan terus mendukung keinginan mereka. Sampai akhirnya saat salad itu sudah siap.
Ketiganya makan bersama dan tanpa diduga. Sebuah panggilan berbunyi dan membuat Day menghentikan dirinya yang sedang menyuapi dirinya sendiri.
"Ya, Halo… " Sahut Dayana dengan ramah.
Almeera dan Jimmy menunggu. Keduanya saling diam saat putrinya terlihat berbicara dengan serius.
"Oke. Aku akan segera ke restoran sekarang juga!"
Panggilan itu berakhir. Dayana lekas meletakkan ponselnya dan melihat ke arah Jimmy dan Almeera.
"Maaf, Pa. Maaf, Ma. Dayana harus pergi ke restoran sekarang," Ucap Dayana dengan tak enak hati. "Ada pelanggan ingin memesan makanan tapi meminta Dayana yang melayani."
"Baiklah. Hati-hati yah," Ucap Almeera sambil mengusap kepala Dayana saat gadis itu mencium tangannya. "Jangan pulang terlalu malam."
Dayana mengangguk. Tak lupa dia mencium tangan Jimmy lalu segera pergi dari sana. Mengendarai kendaraan dengan lumayan kencang hingga tak sampai tiga puluh menit akhirnya mobil Dayana terparkir disana.
"Maaf ya, Kak Day. Kami sudah meminta mereka mengatakan apa yang hendak dipesan. Tapi mereka tetap tak mau dan meminta kamu yang melayani," Ucap staf yang membuat Dayana mengangguk dengan pelan.
Akhirnya Dayana lekas masuk ke ruangannya. Ruangan kerja yang selalu digunakan untuk bertemu dengan para pelanggan yang hendak memakai jasa restorannya.
"Selamat malam, Tuan," Sapa Dayana dengan sopan. "Mohon maaf untuk pelayanan pegawai saya. Kali ini, biarkan saya yang akan menangani anda sendirian."
Dayana masih diam. Entah kenapa dia merasa aura pria di depannya ingin sangat amat dominan. Perlahan kursi itu bergerak. Dia memutar sesuai dengan kaki yang menggerakkannya hingga membuat dirinya menoleh dan melotot.
Akhirnya tatapan keduanya itu beradu. Dayana tentu merasa tercengang saat keduanya saling tatap dengan jarak yang lumayan dekat.
"Maaf, Nona. Kami mengganggu waktu anda sebentar!" Kata tangan kanan pria yang tak pernah ia kenal.
Jujur Day merasa risih. Dia terus diperhatikan oleh orang dan membuat dirinya memilih untuk menunduk.
"Kenalkan, ini Tuan Alkairo Alastar. Dia yang ingin bertemu anda untuk memesan menu makanan di kantornya!"
~Bersambung
hayo siapa dia?
__ADS_1
hihi maaf baru update yah. aku baru pulang kerja jadinya baru kelar update. terimakasih udah setia di update soal ini. Je bakalan usaha untuk update setiap hari.