Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire

Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire
Menemui Dayana


__ADS_3

"Kau mau kemana, Rio! Kau mau kemana!" teriak Tessa saat suaminya itu berjalan meninggalkannya.


Dia tentu mengikuti langkahnya. Mengikuti langkah kaki Rio yang ternyata hendak menuju mobilnya.


"Rio!" pekik Tessa dengan menarik tangannya.


Rio dengan cepat menghempaskan tangan Tessa. Nafas pria itu naik turun dengan mata melotot. Rio benar-benar sudah muak. Ya dia muak dengan segala ocehan dari wanita yang merupakan istri barunya tersebut.


"Jangan membuatku semakin berbuat kasar padamu, Tessa! Kau benar-benar wanita sampah yang bahkan jauh dengan Dayana!"


"Dayana Dayana Dayana terus! Dayana sudah pergi. Dayana bukan istrimu lagi!" balas Tessa dengan kencang. "Aku… Aku istrimu. Bukan Dayana!"


"Terserah! Terserah kau, Tessa. Aku tak peduli!" seru Rio lalu membuka pintu mobil dan segera masuk.


Tessa yang tak terima tentu lekas mengetuk pintu mobil itu dengan cepat. Dia benar-benar tak terima dengan Rio yang seenaknya keluar tanpa mengatakan apapun darinya.


"Rio, keluar! Kau mau kemana, hah?" seru Tessa dengan marah.


Rio tak peduli dengan ucapan Tessa. Dia menulikan telinganya kemudian menghidupkan mesin mobil dan segera pergi dari sana.


Tessa benar-benar marah. Dia mengepalkan kedua tangannya begitu kuat. Pikiran-pikiran buruk tentu mulai menghantuinya.


"Kau pasti ke Dayana kan! Aku yakin itu," sembur Tessa dengan kebencian yang mendalam di kedua bola matanya. "Aku akan membuat peringatan padanya. Dayana harus tahu bahwa dia itu bukan istrimu lagi."


***


Keesokan harinya, hari yang biasa Dayana jalani tentu mulai dia lakukan. Senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya itu kini terus bertengger di kedua sudut bibirnya.


Dirinya benar-benar merasa bebas setelah lepas dari pernikahan yang menyakitkan. Pernikahan yang mungkin pernah dia pertahankan dengan sangat. Tak peduli dengan hujatan yang mertuanya berikan.


Sampai akhirnya sebuah masalah membuatnya bisa memiliki keberanian ini. Ya karena satu masalah datang ternyata membuat Dayana bisa mengambil keputusan yang besar.


Keputusan yang sejak dulu dia takuti. Keputusan yang dulu pernah dia pikirkan tapi tak ia lakukan. Ternyata kini sudah terjadi.


Menjadi janda ternyata tak semenakutkan itu. Menjadi janda ternyata pilihan yang sulit memang, apalagi di mata masyarakat. Namun, dia tak peduli perkataan orang. Yang terpenting dia tak melakukan itu dan dirinya benar-benar sudah melakukan yang terbaik. Itu saja sudah cukup.


"Papa," panggil Dayana dengan membawa mangkuk berisi makanan untuk sarapan itu ke atas meja.


"Ya, Nak?"


"Besok Dayana ingin meninjau lokasi baru lagi untuk pembukaan cabang baru. Jadi nanti malam, Dayana mungkin tidur di restoran," ucap Dayana pamit pada Jimmy.

__ADS_1


Pria itu tentu tersenyum lebar. Dia menatap bangga pada putrinya yang mulai duduk di sampingnya itu. Kepala pria itu mengangguk. Tentu dirinya tak akan membatasi apa yang ingin anaknya lakukan.


Selagi itu baik. Selagi itu benar-benar membuat anaknya bahagia. Jimmy akan mengabulkannya.


"Baiklah. Tapi ingat, selalu kabari Papa oke! Jangan lupa makan dan istirahat!" kata Jimmy mengingatkan yang membuat Dayana mengangguk.


Akhirnya sarapan itu berlangsung dengan lancar. Kegiatan yang selalu menjadi pertemuan keduanya di setiap sarapan dan membuat hari-hari pagi keduanya selalu bahagia.


Dayana tentu segera pamit untuk bekerja. Dia mengendarai mobilnya sendiri dan lekas menuju restoran. Entah kenapa pagi ini dirinya benar-benar menunggu kabar seseorang. Seseorang yang sudah membuatnya merasakan degupan jantung untuk kedua kalinya.


Merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Merasakan bahwa dia benar-benar dilindungi dan dihargai sebagai seorang wanita. Hingga akhirnya dia meraih ponselnya sejenak. Menatap jalanan dan sesekali melihat ke arah layar ponsel yang dia hidupkan.


"Kemana dia? Sejak semalam dia belum memberikan kabar," lirihnya dengan gengsi yang besar lalu melempar ponselnya ke kursi samping kemudi.


Akhirnya Dayana mulai membelokkan setir kemudi ke kiri. Memasuki area restoran dengan baik. Namun, tak lama tatapannya tertuju pada seseorang yang berdiri di samping mobilnya.


"Kairo?" lirih Dayana dengan melepas sabuk pengaman.


Dia benar-benar lekas keluar. Berjalan ke arah pria yang menegakkan tubuhnya sambil tersenyum saat menatapnya.


"Selamat pagi," sapa Kairo dengan ramah yang membuat Dayana tersenyum dengan lebar.


"Kamu gak tidur semalam?" tanya Dayana pelan sambil mengusap kantung mata Kairo dengan lembut.


Dia benar-benar menatap khawatir. Dayana benar-benar bisa melihat bagaimana wajah Kairo yang benar-benar berbeda.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Kairo pamit dengan senyuman yang sudah sirna dari kedua ujung bibirnya.


Dayana tentu mengangguk. Dia lekas mengajak Kairo masuk.


"Duduklah dulu disana. Aku akan membuatkan sesuatu… "


"Day!"


"Duduk!" seru Dayana mode galak. "Kalau kau tak mau menunggu dan duduk. Jangan pernah bicara denganku lagi!"


Tentu saja ancaman itu berhasil membuat Kairo patuh. Dayana lekas meletakkan tasnya ke dalam ruangan lalu dia segera berjalan ke arah dapur dan membuatkan sarapan untuk Kairo. Dia yakin jika pria itu sedang ada masalah.


Tanpa Kairo menjelaskan. Tanpa Kairo mengatakan, wajahnya sudah tergambar dengan jelas.


Dayana lekas membawa nampan berisi roti selai bakar dan teh hangat ke depan. Dia meletakkan itu di atas meja tepat di depan Kairo.

__ADS_1


"Day ini… "


"Makanlah dulu. Aku yakin kamu belum makan," ucap Dayana dengan lembut.


Kairo bisa melihat kekhawatiran di mata wanita yang dia cintai. Akhirnya dia tak menolak. Toh dia juga belum sarapan apapun. Kairo memakan sarapan buatan Dayana dengan cepat dan sedikit memaksa meski perutnya menolak.


Setelah selesai. Dia lekas menatap ke arah Dayana yang sejak tadi menatap ke arahnya juga.


"Aku datang kesini untuk memberitahu sesuatu," ucap Kairo memulai.


Dayana menunggu. Dia menatap kearah Kairo yang sedang menata perkataan apa yang akan dia katakan lagi.


"Setelah ini, mungkin aku akan jarang kesini."


"Kenapa?" tanya Dayana langsung.


Terlihat Kairo menghela nafas berat. Dia menatap kedua bola mata Dayana yang tak lepas memandangnya.


"Aku dipindahkan ke anak perusahaan oleh Papaku, Day. Aku akan memegang anak perusahaan di kota sebelah. Jadi… "


"Kita akan jarang bertemu?" sela Dayana dengan tepat.


Kairo mengangguk. Dia tak mengelak karena itulah keadaannya. Dia tak akan bisa menemui Dayana setiap hari karena perjalanan dirinya ke kantor dan restoran Dayana bertolak belakang.


"Kenapa tiba-tiba sekali?"


Kairo mengangguk. "Papaku menyerahkan perusahaan utama pada adikku."


Dayana mampu melihat kesedihan di kedua bola mata Kairo. Tentu dia bisa merasakannya. Namun, dirinya tak akan bertanya sebelum Kairo yang akan menceritakan. Dia tak mau Kairo merasa tertekan akan dirinya.


"Jangan berfikir aku menyerah karena jarak setelah ini, Day," ucap Kairo berlanjut. "Sampai kapanpun aku tak akan menyerah. Aku akan datang kesini setiap minggu untuk bertemu denganmu."


Dayana tersenyum. Dia benar-benar merasa sangat dicintai oleh Kairo jika seperti ini.


"Mau kau kau menungguku?" tanya Kairo dengan yakin dan memegang tangan Dayana dengan erat.


Tentu saja tanpa ragu Dayana menganggukkan kepalanya.


"Mau. Aku akan selalu menunggumu disini, Kairo."


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2