
"Papa yakin?" Tanya Dayana dengan menatap Jimmy begitu lekat.
Jimmy mengangguk.
"Papa yakin. Papa harus melihat bagaimana suamimu dulu, Nak. Cukup dulu Papa tak bisa melakukan apapun. Namun, kali ini Papa tak mau kamu salah pilih lagi. Kamu harus mendapat pria yang benar-benar baik buat kamu, Day."
Jimmy benar-benar tak mau kejadian laka terulang kembali. Dulu dia tak ikut campur masalah pernikahan Dayana. Bagaimanapun dia mundur dan tak berhak menurutnya karena semuanya sudah diurus oleh Reynand.
Namun, setelah semuanya yang terjadi. Setelah perceraian Dayana dan Rio. Jimmy berjanji semua hal itu tak boleh terjadi lagi. Anaknya harus bahagia sekarang. Tak boleh ada seseorang yang menyakiti Dayana lagi.
Cukup masa lalu yang menyakitinya dan kini itu tak akan terjadi lagi!
"Papa," Lirih Dayana dengan air mata yang mulai merambah memenuhi kedua bola matanya. "Day… "
Tanpa kata Dayana memeluk Jimmy. Dia memeluk pria yang selalu mencintainya dengan tulus. Pria yang selalu ada untuknya. Yang selalu menyayanginya tanpa membedakan apapun.
Entah dia anak kandung atau bukan! Jimmy benar-benar tulus menyayanginya.
"Papa gak mau menyesal lagi. Papa benar-benar ingin melihatmu menikah dengan pria baik-baik. Pria yang mencintai kamu, menyayangi kamu dan menerima kamu apa adanya."
Jimmy telah berjanji dalam hati. Kali ini dia benar-benar akan ikut serta untuk memilih calon yang baik untuk putrinya.
"Oke, Papa. Day akan membawanya untuk bertemu Papa," ucap Day dengan semangat lalu melepas pelukannya dan mencium punggung tangan pria yang selalu membesarkannya itu.
***
Akhirnya Dayana benar-benar mengatakan apa yang diinginkan papanya pada Kairo. Perempuan itu mengatakan jika papanya ingin bertemu dengan pria yang melamarnya.
Tentu saja, Kairo yang belum tahu sosok papa dari wanita yang dia cintai mulai gugup. Pria itu terlihat gelisah sekali dari wajahnya dan itu berhasil menyita perhatian Dayana.
Perempuan itu benar-benar ingin tertawa saat wajah gugup Kairo sangat amat terlihat jelas. Pria yang biasanya sangat galak, cuek dan dingin itu. Sekarang terlihat sama saja seperti pria yang lain.
Saat dipertemukan dengan calon mertua, wajah Kairo benar-benar ragu dan takut.
"Kenapa? Takut?" Tanya Dayana dengan menaikkan salah satu alisnya. "Apa kamu… "
"Siapa yang takut?" ejek Kairo dengan wajah galaknya.
__ADS_1
"Ya kamu. Mau siapa lagi?" Goda Dayana ynag membuat Kairo paham jika wanitanya ini menggodanya.
Akhirnya pria itu menaikkan alisnya. Mencoba mengikuti alur godaan sang wanita. Hingga akhirnya saat keduanya sudah saling berdekatan. Dengan sekali gerakan. Kairo menggelitik pinggang Dayana hingga gadis itu tertawa begitu kencang.
"Ampun, Kai. Ampun, lepaskan aku!" Teriak Dayana dengan kencang.
Perempuan itu tak menyangka jika Kairo akan menggelitik dirinya dengan begitu cepatnya. Hal yang begitu sensitif untuknya karena dia akan merasa geli begitu tertahan.
"Gak! Aku gak bakal lepasin kamu!"
"Kai, pliss!" Dayana terus berusaha meronta dengan menahan geli yang luar biasa.
Meski tangan Kai menggelitik dirinya tak terlalu kencang. Namun, Dayana yang sensitif benar-benar merasakan rasa geli yang luar biasa.
Akhirnya otaknya berputar. Dayana mulai memikirkan cara bagaimana dia meminta maaf. Bagaimana wanita itu meminta maaf dan Kairo melepaskannya.
"Sayang, lepaskan aku!" Rengek Dayana memasang wajah memelas dan berhasil.
Kairo menghentikan tangannya dan berganti dengan wajah terkejut lalu segera membalikkan tubuh Dayana. Pria itu menatap wanita yang juga merasa lega karena terlepas dari jeratannya itu dengan bingung.
Kairo mencoba menahan dirinya agar tak berteriak. Dia memang tak pernah mendengar Dayana memanggilnya dengan sebutan itu. Hanya dirinya saja yang memanggil Dayana dengan panggilan itu sesekali.
"Coba panggil aku lagi dengan sebutan itu, Day!" Pinta Kairo dengan menatap penuh harap.
"Sebutan apa?" Tanya Dayana balik yang sangat tahu keinginan prianya itu.
"Yang barusan. Ayo katakan lagi!"
Dayana tentu menatap tatapan itu dengan senyum hangat. Dia juga sadar jika dirinya memang tak pernah memanggil Kairo dengan sebutan itu. Padahal Kairo sendiri selalu memanggil dirinya dengan panggilan itu.
"Sayang," ucap Dayana pelan yang berhasil membuat Kairo menatap Dayana dengan bahagia.
Pria itu tanpa sadar mengangkat tubuh Dayana dan memutarnya hingga keduanya berteriak bahagia. Hubungan yang benar-benar sehat. Keduanya yang saling mencintai satu dengan yang lain tentu membuat Dayana dan Kairo bahagia.
Dayana membuka kedua tangannya dengan senyuman lebar dan begitu bahagia. Dia benar-benar senang diputar oleh Kairo yang sangat amat bahagia.
"Makasih banyak, Day. Makasih banyak!" ucap Kairo dengan tulus saat Dayana diturunkan.
__ADS_1
Dayana benar-benar bisa melihat kebahagiaan di wajah Kairo. Dayana benar-benar merasakan bagaimana Kairo yang bahagia karena dipanggil sayang olehnya.
"Sama-sama," Balas Dayana dengan mengangguk. "Aku juga berterima kasih. Kamu sudah mencintaiku dengan tulus. Aku benar-benar bahagia punya kamu, Kai. Aku bahagia."
Akhirnya ucapan itu berakhir dengan sebuah pelukan. Pelukan hangat yang membuat cinta di antara keduanya semakin besar. Cinta antara Kairo dan Dayana yang benar-benar tulus. Cinta di antara keduanya yang benar-benar begitu memberi dan menerima.
"Aku mencintaimu," ucap Kairo dengan pelan yang berhasil membuat wajah Dayana bahagia.
Perempuan itu mengangguk. Dia memberanikan diri menatap wajah Kairo yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Aku juga mencintaimu."
Akhirnya kedua pasangan itu saling tersenyum dengan lebar. Pelukan itu sudah terlepas dan berganti tangan yang saling menggenggam satu dengan yang lain.
Keduanya memang ada di ruangan Dayana di restoran. Ruangan yang memang didesain oleh Dayana untuk kedap suara karena dia berpikir ruangan ini adalah zona terbaiknya.
Ruangan yang benar-benar nyaman untuknya dan benar-benar private hingga membuatnya mendesain begitu apiknya.
"Kapan kamu siap buat ketemu Papa?" tanya Dayana pelan saat keduanya hendak keluar dari ruangan.
Kairo terlihat berpikir. Pria itu terdiam cukup lama sambil mencari waktu yang tepat. Sebenarnya semua waktu memang tepat. Namun, dirinya yang bekerja. Jarak kantor yang memang jauh membuatnya benar-benar harus mencari waktu yang sesuai dengan waktu yang bisa digunakan.
Akhirnya, Kairo mulai mengalihkan tatapannya. Dia menatap Dayana yang menunggu jawabannya.
"Bagaimana kalau besok?"
Dayana melebarkan matanya. Dia menatap Kairo dengan pandangan tak percaya. Sejak tadi dia berpikir jika Kairo akan menjawab satu atau dua bulan lagi. Atau paling cepat minggu depan. Namun, tak disangka, pria itu menjawab dengan entengnya besok.
"Kamu yakin?" Tanya Dayana dengan serius.
Perempuan itu Kairo dengan lekat. Dia tak mau Kairo terlihat tertekan. Dia tak mau pria itu merasa tak enak padanya hingga menjawabnya dengan cepat.
"Aku gak maksain buat ketemu Papaku cepat-cepat, Kai. Waktunya masih panjang. Kamu… "
"Aku yang gak mau semuanya semakin panjang, Day," balas Kairo dengan serius. "Aku benar-benar ingin segera menikahimu. Aku tak mau membuat wanita sebaik kamu menungguku terlalu lama."
~Bersambung
__ADS_1