Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire

Dibuang Suami, Dinikahi Millionaire
Pimpinan Perusahaan Diganti?


__ADS_3

Semilir angin pantai terus berhembus dengan begitu segarnya. Dengan sepasang tangan yang saling menggenggam dan duduk di pinggiran panyai menikmati indahnya pemandangan yang benar-benar begitu nyata.


Sebuah senyuman sejak tadi melengkung dengan bebas setelah kejadian yang benar-benar tak pernah keduanya bayangkan. Baik Dayana maupun Kairo tak pernah berpikir jika keduanya akan melakukan hal itu.


Menyampaikan perasaan yang keduanya miliki. Saling menyatakan cinta dan jujur antara satu dengan yang lain. Hingga akhirnya perasaan lega yang kini keduanya rasakan.


Mungkin Dayana masih ragu. Mungkin Dayana masih takut. Namun, dia berusaha untuk memberikan Kairo kesempatan dan membuktikannya.


Mungkin waktu tiga bulan cukup untuk melihat bagaimana perjuangan pria itu. Dan dalam waktu tersebut, dia akan berusaha membuka hatinya.


Bukankan cinta akan datang jika sudah terbiasa. Bukankan cinta akan datang seiring berjalannya waktu dan Dayana yakin akan hal itu.


"Day," panggil Kairo pelan saat Dayana sejak tadi diam dan hanya menatap hamparan pantai yang begitu menyejukkan mata.


"Ya!" sahutnya sambil menoleh.


"Bolehkah aku meminta satu hal padamu?" pinta Kairo dengan pelan yang membuat Dayan mengerutkan keningnya.


Namun, entah kenapa Dayana tak berpikiran buruk. Dia dengan santai menganggukkan kepalanya.


"Kenapa?"


Kairo perlahan menggerakkan tubuhnya. Dia menggeser duduknya ke kiri dan menatap perempuan yang duduk dengan santai di sampingnya.


"Jika suatu hari nanti ada sesuatu yang kamu dengar tentangku. Tolong jangan pernah percaya sebelum kamu menanyakannya padaku. Oke?"


Jantung Dayana sponta berdegup kencang. Tentu dia mulai curiga akan satu hal. Matanya menatap awas. Keningnya berkerut seakan tengah memindai apa yang dikatakan oleh Kairo barusan padanya.


"Jangan berpikiran bahwa aku mempunyai simpanan!"


"Aww." Dayana memegang kepalanya yang dipukul pelan oleh Kairo.


Perempuan itu benar-benar mencebikkan bibirnya dengan kesal.


"Jangan curigaan!"


"Aku gak curiga!" seru Dayana dengan cepat. "Aku cuma kepo aja. Kamu udah main rahasia-rahasiaan di awal hubungan kita. Pasti apa lagi kalau bukan soal cewek?"

__ADS_1


Kairo terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat gadis yang dia cintai begitu overthinking.


"Ini bukan masalah cewek, Day," lirih Kairo sambil kembali menatap pantai. "Tapi ini tentang keluargaku."


Dayana mampu melihat wajah Kairo yang berbeda. Terdapat tatapan suram disana. Tak ada kebahagiaan saat dia membicarakan tentang keluarga. Tak ada hal hal yang begitu membuatnya senang.


"Kairo," lirih Dayana perlahan sambil memegang tangan Kairo.


"Apa ada masalah?"


Kairo menganggukkan kepalanya. Dia tak mau menutupi apapun dari Dayana. Dia benar-benar ingin wanita yang dia cintai tahu tentangnya, tentang keberadaannya, tentang semua hal yang berhubungan dengannya.


"Jika suatu hari nanti kekayaan yang aku punya hangus. Aku menjadi miskin. Apa kau masih ingin bersamaku?"


Dayana mampu melihat kekecewaan di kedua bola mata Kairo. Dayana mampu melihat ekspresi kesakitan di mimik wajah pria yang baru beberapa menit lalu menyatakan cinta padanya.


"Aku gak mau," Jawab Dayana dengan jujur.


Perempuan itu meletakkan kedua tangannya di depan dada. Menaikkan salah satu alisnya hingga membuat Kairo yang mendengar jawaban itu panik.


"Kok gak mau?"


"Tak peduli mau kerja apa, seberapa banyak uang yang dihasilkan. Jika kamu benar-benar bertanggung jawab untukku, kamu pasti akan melakukan apapun yang kamu bisa."


Kairo benar-benar dibuat takjub dengan perkataan Dayana. Dia benar-benar tak salah mencintai seorang wanita. Wanita yang pikirannya memang memakai logika tapi dia juga tak banyak menuntut apapun.


Apa yang Dayana katakan kebanyakan tak jauh dari tanggung jawab. Ya, Kairo tahu makna tanggung jawab untuknya seperti apa. Makna yang dikatakan dari perkataan wanita yang dicintainya.


"Aku gak butuh kamu kaya seperti ini, Kairo. Aku gak butuh kamu yang bagaimana. Aku cuma mau kamu tanggung jawab untukku itu sudah cukup!"


Kairo mengangguk. Dia mengeratkan genggaman tangannya dengan Dayana sambil matanya berkaca-kaca. Baru kali ini dia merasakan cinta. Baru kali ini dia memiliki teman bicara selain Kaisar, adiknya.


Dia benar-benar merasa memiliki seseorang yang mampu dia percaya. Memiliki seseorang yang mampu menerima baik buruknya nanti.


"Terima kasih, Day. Terima kasih banyak sudah mau menerimaku!"


"Aku belum menerimamu. Aku masih ingin melihat bagaimana kamu membuktikan bahwa kamu layak dan pantas untuk kucintai!" ujar Dayana dengan mendelikkan matanya dan itu terlihat begitu lucu di mata Kairo.

__ADS_1


***


Suara siulan tentu terdengar dadi bibir pria yang hatinya tengah berbunga-bunga. Langkah kakinya yang ringan membawanya berjalan menuju rumah yang menurutnya bukan rumah yang nyaman.


Rumah yang memang terdapat sosok yang sangat menyayanginya. Namun, bersamaan dengan itu rumah ini adalah rumah yang membuatnya sakit akan perlakukan tak adil.


Namun, saat ini Kairo tengah tak memikirkan apapun. Bibirnya sejak turun dari mobil tersenyum dengan bahagia. Dia benar-benar tak berhenti untuk membayangkan apa yang sudah hari ini dia alami.


Apa yang sudah dia dan Dayana lakukan. Apa yang sudah dia katakan dengan tekad yang kuat. Hingga hal itu membawa dampak baik untuknya.


"Assalamu'alaikum," salam Kairo saat pintu rumah dia buka sendiri.


Saat dia baru saja masuk ke dalam rumah. Matanya langsung menatap ke arah papa dan adiknya yang ada di ruang tamu. Dia melihat dua pria itu tengah membicarakan sesuatu di layar tab yang menyala.


Kairo tentu lekas mengalihkan tatapannya. Dia berusaha tak melihat apa yang sedang dilakukan papa dan adiknya itu. Dirinya melangkah dengan pelan melewati keduanya.


"Tunggu!" Seru Frans dengan pelan yang membuat langkah kaki Kairo terhenti.


Pria itu diam di tempatnya. Dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh papanya lagi.


"Besok Kaisar akan mencoba memegang perusahaan," Ucap Frans yang membuat Kairo dan Kaisar terkejut.


Pria tampan yang duduk dengan tenang itu mendongak menatap wajah papanya.


"Iya, Pa," Sahut Kairo tanpa menolak apapun.


Dia benar-benar selalu patuh dengan apa yang papanya katakan. Apa yang papanya inginkan, apa yang papanya katakan selalu Kairo setujui. Dia selalu menjadi anak yang berbakti meski balasannya tak sesuatu yang Kairo harapkan.


"Dan kau besok, Papa pindahkan ke anak perusahaan untuk kau pegang sampai Kaisar selesai belajar di perusahaan utama!"


Kepala Kairo mengangguk. Tak ada yang bisa dia bantah. Tak ada yang akan Kairo katakan lagi. Luka yang sejak kecil dia dapatkan. Luka kecil yang memang tak lecet tapi luka batin mampu membuatnya selalu mengingat setiap detail dalam hidupnya.


Bagaimana hidupnya yang tak pernah diinginkan oleh papanya.


"Apa Kaisar butuh bantuan Kairo untuk belajar?" tanya Kairo dengan pelan.


"Tak perlu. Aku yang akan mengajarinya sendiri!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2