
Ternyata hari-hari Kairo dan Dayana mampu dilewati berdua. Selama masa iddah, Dayana benar-benar fokus dengan pekerjaannya di restoran, sedangkan Kairo, dia fokus dengan perusahaan.
Dua manusia yang saling meluangkan waktu untuk bertemu, melepas rindu dan juga tak bisa dipungkiri jika semakin hari hubungan mereka semakin dekat.
Perasaan Dayana yang lambat laun di luluhkan oleh bukti dari sikap Kairo padanya. Tingkah pria tampan itu yang begitu lembut, interaksi keduanya yang benar-benar nyata itu semakin membuat Dayana mulai membuka hatinya untuk Kairo.
Perempuan itu benar-benar telah luluh oleh Kairo. Dayana benar-benar mulai berhasil membuka hati dan jatuh cinta pada sosok pria yang mengejarnya itu.
Cinta yang dulunya menakutkan. Hal yang membuat Dayana takut untuk melangkah lebih jauh ternyata mampu diterobos oleh Kairo. Tembok besar itu yang menjadi titik trauma untuk Dayana akhirnya ditebas habis oleh Kairo.
Pria itu mampu membuktikan cintanya. Pria itu mampu memberikan kenyamanan untuk Dayana. Mampu memberikan semua yang gadis itu butuhkan dari cinta, perhatian dan definisi menghargai semua Kairo berikan.
Seperti hari ini, wanita yang beberapa bulan terakhir dipenuhi oleh pesanan catering di restorannya itu terlihat begitu kewalahan di dapur restoran. Ya, selain catering yang ramai, restoran Dayana semakin hari, semakin meningkat pelanggannya.
Cita rasa yang enak, harga yang benar-benar masih bisa dibilang murah untuk bersaing dengan di luar sana itu mampu membuat para pelanggan baru kembali lagi untuk menikmati makanan khas di restoran ini.
Dayana, perempuan dengan apron berwarna hitam, rambut dikuncir kuda itu terlihat tengah fokus membuat makanan penutup. Makanan penutup mereka hampir habis dan membuat Dayana harus membuatnya.
Sampai gerakan dirinya yang ke kanan dan ke kiri membuat Dayana tak tahu jika seorang pria dengan pakaian kaos melekat di tubuhnya dan celana pendek selutut berjalan menghampirinya.
Dayana benar-benar tak tahu dan tak melihat sekitarnya. Yang pasti, tatapan matanya hanya terfokus dengan apa yang dia kerjakan.
Sampai, sebuah tangan melingkar di perut Dayana dan membuat tubuh Dayana menegang. Dia yang punya ilmu bela diri hampir mengangkat tangannya sampai suara lembut itu menelisik telinganya.
"Ini aku," lirih Kairo yang membuat Dayana spontan bernafas lega.
"Kamu ngapain?" tanya Dayana pelan sambil menepuk tangan Kairo. "Malu, banyak orang disini!"
Kairo menggeleng. Dia mencium pundak Dayana lalu melihat apa yang tengah dilakukan oleh wanitanya itu.
"Kamu ngapain?"
"Aku lagi buat brownies," jawab Dayana dengan mengangkat krim yang ada di tangannya. "Browniesku habis stock. Jadi mau gak mau, aku harus bikin."
Kairo mengangguk. Dia tak bersuara lagi melainkan menghirup aroma Dayana yang benar-benar wangi di hidungnya. Aroma tubuh yang sangat dia sukai. Aroma tubuh yang selalu menjadi kesukaan Kairo selama beberapa minggu ini.
"Kamu gak kerja, hmm?" tanya Dayana sambil tangannya bergerak meletakkan krim itu di atas brownies.
"Libur," sahut Kairo dengan santai.
__ADS_1
Dayana mengerutkan keningnya. Dia mencoba lepas dari pelukan Kairo lalu berbalik.
"Hari ini bukan hari libur. Ini hari kerja, Kai," ucap Dayana dengan benar.
Memang benar. Hari ini bukan tanggal merah atau libur. Hari ini adalah hari kerja yang menandakan semua orang yang bekerja masuk.
"Iya betul hari kerja. Tapi aku mengambil libur," Jawab Kairo yang membuat Dayana mengerutkan keningnya.
"Kamu sakit?" Dayana melepaskan krim itu di atas meja. Meletakkan punggung tangannya di dahi Kairo. "Gak panas."
Kairo tersenyum. Hal kecil inilah yang membuat cintanya pada Dayana makin besar. Hal inilah yang membuatnya akhirnya mulai mengambil keputusan ini.
Ya setelah dirinya yang menghitung jika masa iddah Dayana selesai. Kairo yang memastikan jika semuanya tak ada halangan. Akhirnya dia mulai mengambil keputusan.
"Aku gak sakit. Aku libur karena ingin mengajakmu," ucap Kairo sambil meraih tangan Dayana dan memegangnya.
Perempuan itu menggengam tangan itu. Menatap kedua bola mata Dayana yang menatapnya dengan bingung. Dia yakin wanitanya ini pasti memiliki banyak pertanyaan untuknya.
"Masa iddahmu sudah selesai kan, Sayang?" tanya Kairo dengan pelan.
Dayana mengangguk. Dia juga tahu jika masa itu telah dia lewati dengan baik. Dia benar-benar tak menyangka jika 3 bulan dia lewati dengan bekerja dan saling terbuka antara dirinya dan Kairo.
"Aku hari ini ingin mengajakmu untuk bertemu seseorang," ucap Kairo dengan pelan.
"Ketemu siapa?"
"Ketemu mamaku," kata Kairo yang membuat Dayana terkejut.
Mata perempuan itu melebar. Dayana benar-benar terkejut bukan main. Dia bahkan mulai merasakan tangannya seperti berkeringat.
"Kamu gak bercanda kan?"
Kairo menggeleng. "Aku merasa 3 bulan sudah cukup untuk kita saling kenal, Day."
"Aku ingin kamu mengenal keluargaku. Aku ingin kamu tahu aku lebih dalam," Kata Kairo dengan pelan dan begitu lembut.
Dayana tak mampu mengatakan apapun lagi. Dia benar-benar merasa terharu. Pernikahan pertamanya adalah hasil perjodohan. Hingga hal seperti ini menjadi hal untuk pertama kali dalam hidupnya.
Hal yang membuat jantungnya berdegup kencang. Hal yang membuatnya terbayang setiap novel yang dia baca akan pertemuan seorang wanita dengan keluarga dari prianya.
__ADS_1
Hal yang membuat Dayana gugup sekaligus takut. Takut jika sesuatu diluar pikirnya.
"Day!"
"Hah?" Dayana kaget.
Dia yang terlalu larut dengan pikirannya hingga tak fokus membuatnya tak menatap ke arah Kairo.
"Kamu mau kan?" tanya Kairo sekali lagi sambil menatap kedua bola mata Dayana dengan lekat. "Kamu mau kan ketemu mamaku?"
Dayana terlihat menelan ludahnya dengan paksa. Mencoba menenangkan dirinya.
"Aku… "
"Kamu takut?" Sela Kairo yang membuat Dayana menarik nafasnya begitu berat.
Bayangan mertuanya yang tak menyetujui hubungannya dulu dengan Rio. Menjahati dirinya saat pernikahan itu telah terjadi menjadi hal menakutkan untuk Dayana.
Dia takut jika pertemuan dengan mamanya Kairo akan membuat masalah baru. Apalagi dengan status dirinya yang bukan seorang single. Dia hanyalah seorang janda yang sulit memiliki anak.
Hal yang paling menakutkan untuk Dayana membayangkan.
"Aku takut jika mamamu menolakku," jawab Dayana dengan satu kali tarikan nafas. "Aku takut statusku akan membuat mamamu marah, Kai. Atau… "
"Atau apa?" Tanya Kairo dengan cepat.
Dayana berusaha bernafas dengan pelan. Mencoba menenangkan dirinya yang benar-benar kalut akan ketakutan yang dia buat sendiri.
Ketakutan-ketakutan yang terjadi karena apa yang pernah terjadi dalam hidupnya memang membuatnya takut untuk melangkah lebih jauh.
"Kamu akan dijauhkan denganku dan meninggalkanku. Aku takut, Kai. Aku takut kamu… " Dayana benar-benar terlihat jelas ketakutan itu dimatanya.
Tangannya juga berkeringat dingin dan gemetar. Hal itu tentu membuat Kairo tak peduli dengan apa yang ada disana. Setidaknya mungkin di tempat dessert tak ada siapapun. Dapur dan area dessert memang berbeda. Ada sebuah ruangan khusus di bagian dapur untuk memasak makanan penutup.
Kairo dengan cepat menarik Dayana dalam pelukan. Memeluk tubuh wanita yang terlihat panik.
"Kamu dengar yah! Kamu dengar!" Kata Kairo dengan pelan tapi penuh penekanan. "Apapun hasilnya nanti, aku akan ada di sampingmu, Day. Aku gak bakal ninggalin kamu!"
~Bersambung
__ADS_1