
Dayana benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi. Gelas yang ada di atas nampan yang dia bawa jatuh berantakan. Hal itu membuat air yang ada di dalamnya tak sengaja mengenai jas Frans yang berdiri di dekatnya.
Dayana benar-benar tak sengaja. Padatnya orang disana dan beberapa yang berdiri di dekat jalan menuju ruang VIP membuat Dayana juga kesulitan.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Dayana dengan pelan dan meletakkan nampan itu di atas meja lalu dia segera mengambil tisu dan hendak membantu membersihkan jas Frans yang terkena air minum berwarna tersebut.
Dayana benar-benar menyesal. Jas Frans berubah basah akan air tersebut. Meski sedikit, dia yakin pria di depannya ini tak akan nyaman.
"Biar saya membantu membersihkannya," ucap Dayana benar-benar takut.
Dia tak berani melihat ke arah wajah Frans. Selain takut, dia benar-benar tak tahu apa yang saat ini akan dilakukan pria di depannya ini kepadanya.
"Tak perlu!" kata Frans saat Dayana handak membantu mengusap bekas air minum itu di jasnya.
"Tuan, saya benar-benar minta maaf. Saya… "
"Saya tau," kata Frans dengan menatap Dayana dalam diam. "Lain kali hati-hati."
Setelah mengatakan itu, Frans berbicara dengan temannya yang lain lalu pergi meninggalkannya. Baru saja itu, Dayana berani mengangkat kepalanya. Dia menatap punggung Frans yang menjauh darinya.
Dan Dayana sempat terkejut.
Saat Frans mengatakan mencari kamar mandi. Itu tandanya pria itu masih mau makan di restorannya ini daripada pergi mencari restoran yang lain.
Hal itu sedikit membuat Dayana tersenyum. Namun, otaknya langsung bekerja cepat. Dia membawa nampan miliknya kembali dan mengganti minuman yang sudah dia tumpahkan. Dia juga mengganti tempat yang lebih aman untuk dia bawa ke ruang VIP.
Jujur Dayana benar-benar takut akan apa yang terjadi padanya. Apalagi dia yakin jika pembeli yang memesan makanan ini di ruang VIP akan kecewa dengan pelayannya.
Dayana sangat tahu dia lumayan lama. Mengganti minuman itu dan juga makanan di atas piring yang tak sengaja terkena air tumpahan itu dan membuat mereka memasak lagi. Sampai akhirnya, saat di depan ruangan VIP. Dayana lekas mengetuk pintu itu sebelum membukanya.
"Maaf atas keterlambatan makanan ini, Tuan. Kami… " Dayana terdiam cukup lama.
Terkejut saat kepalanya dia dongakkan untuk melihat lawan bicaranya. Kaget saat apa yang dia lihat, sosok yang berdiri di depannya adalah orang yang sama yang ditabrak tadi saat dirinya hendak kemari.
Dayana benar-benar meringis dalam hati. Dia benar-benar tak tahu jika orang yang dia tabrak adalah orang yang sama yang memesan makanannya.
"Tuan," lirih Dayana dengan tak enak hati. "Maafkan saya."
__ADS_1
"Iya," sahut Frans yang benar-benar hanya sepatah dua kata saja.
Akhirnya Dayana lekas menata makanan itu dengan baik. Dia benar-benar meletakkan semuanya tanpa celah. Takut jika ada kesalahan lagi yang dia lakukan. Setelah itu, dirinya lekas pamit pergi.
"Selamat menikmati," kata Dayana sebelum pergi.
Saat perempuan cantik itu sudah hampir sampai di ambang pintu keluar ruang VIP. Suara berat Frans membuat tangan Dayana menggantung.
"Tunggu!"
Dayana benar-benar takut. Jika ada yang memegang jantungnya. Dia pasti bisa merasakan degupan kencang di jantungnya. Seperti Dayana habis lari maraton. Dia benar-benar takut dan ragu untuk berada di dekat pria yang usianya hampir seperti papanya.
"Iya, Tuan?" sapa Dayana sambil berbalik.
"Sebagai penebusan kamu karena menumpahkan minuman di jas saya. Temani saya makan disini!" ucap Frans yang benar-benar terkejut dengan pria yang berbicara lumayan banyak itu.
Dia kira Frans akan berdiam diri dan berbicara sebutuhnya. Namun, ternyata dugaannya salah. Pria itu bisa bicara panjang lebar kepadanya.
"Tapi, Tuan… "
Dia meletakkan nampan itu di meja yang lain dan lekas duduk berhadapan dengan Frans. Perempuan itu merapatkan kedua tangannya. Salin memilih satu jari dengan jarinya yang lain. Dia benar-benar merasa aura dingin AC kalah jauh dengan aura dingin pria paruh baya di depannya ini.
Dayana hanya duduk diam. Dia benar-benar membiarkan Frans yang mulai mencicipi makanannya.
"Siapa yang memasak makanan ini?" tanya Frans sambil mencicipi satu per satu makanan.
"Saya, Tuan," balas Dayana dalam diam.
Frans benar-benar makan sambil melirik ke arah wanita di depannya ini. Dia benar-benar seperti memikirkan banyak hal. Dia benar-benar hanya diam sambil mencuri pandang ke arah wanita muda di depannya.
"Kenapa, Tuan? Apa masakan saya… "
"Enak," sahut Frans dengan cepat.
Dayana terkejut. Tanpa terasa senyuman kecil muncul di kedua sudut bibirnya saat pria yang mungkin jika orang lain akan pergi setelah insiden tadi. Namun, pria paruh baya di depannya ini tetap mau makan di restorannya.
"Tapi lebih enak masakan istri saya," lanjut Frans yang membuat Dayana merasa sisi dingin Frans juga ternyata hangat dan memuji istrinya.
__ADS_1
Hal itu entah kenapa membuat Dayana tak se takut tadi. Bahkan gadis itu mulai memberanikan diri mendongakkan kepalanya.
"Untuk masakan seorang istri, memang tak ada tak ada tandingannya, Tuan. Selalu enak," ucap Dayana berusaha se normal mungkin.
Frans mengangguk setuju. Pria itu bahkan mulai menghabiskan satu menu masakan, lalu meraih piring yang lain.
"Apa anda datang kesini sendirian, Tuan?"
"Ya," sahut Frans dengan tenang.
"Oh." Dayana mengangguk.
Dia menatap Frans yang benar-benar lahap dengan semua masakan yang dia pesan. Dayana benar-benar mampu melihat wajah pria yang usianya mungkin sepapanya itu mencicipi lalu mulai memakannya dengan lahap.
Percayalah kebahagiaan sang koki hanya satu. Ketika makanan yang dia masak disukai oleh pelanggannya. Ketika makanan yang dia masak habis termakan sempurna tanpa sisa.
"Anda benar-benar sedang lapar?" celetuk Dayana yang membuat Frans spontan menaikkan pandangannya.
Untuk pertama kalinya Dayana langsung tatapan mata dengan Frans. Untuk pertama kalinya gadis itu mampu menatap wajah Frans dengan jelas.
"Saya hanya sedang menikmati makanan seorang koki yang luar biasa," puji Frans yang membuat Dayana spontan menunduk.
Dia malu karena dipuji terus menerus. Namun, ini juga bukan untuk pertama kalinya pujian yang dia dengar.
"Semoga anda bisa datang kembali ke restoran saya, Tuan. Saya sendiri yang akan memasakkan makanan untuk anda," kata Dayana dengan semangat saat Frans selesai makan.
Tanpa keduanya sadari. Di luar sana, ah lebih tepatnya di bagian depan restoran. Terlihat seorang pria paruh baya mulai melangkahkan kakinya masuk ke restoran anaknya.
Umurnya yang sudah berkepala empat lebih itu tetap tak mengurangi ke tampannya. Terlalu rajin olahraga dan mengatur makanannya membuat wajahnya tetap sehat. Tak ada kerutan dan juga tubuhnya yang benar-benar ideal.
Kedatangannya tentu membuat beberapa karyawan yang melihat lekas mendekat.
"Papa Jim," sapa karyawan putrinya dengan ramah.
Jimmy mengangguk. "Apa Dayana ada di dalam?"
~Bersambung
__ADS_1