
Kau bertemu dengan wanita itu lagi?" Tanya Alice tak kala Arkan yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar.
Arkan hanya diam, tak menjawab pertanyaan dari istrinya.
"Siapa wanita itu? katakan dengan jujur padaku." Pinta Alice melangkah mendekati Arkan.
"Kenapa kau ingin tahu sekali?"
"Aku ini istrimu, jadi aku berhak tau!" Ucap Alice.
"Tidak semua urusan ku kau harus tahu."
"Oh ya, Jangan pernah mencampuri urusan ku dan aku tidak akan mencampuri urusanmu!"
"Begitu kah? baiklah, Jangan salahkan aku jika aku mencari tahu siapa wanita itu." Kecam Alice.
Arkan hendak menarik kerah baju Alice tapi dengan sigap Alice menahan tangan Arkan.
"Apa karena kau lelaki bisa seenaknya kepadaku? Cih..... kau bahkan hanya seperti serangga kecil bagiku." Pekik Alice.
"Tutup mulut sial*n mu itu!" Arkan menepis kasar tangan Alice. Sedangkan Alice hanya tersenyum menyeringai.
"Kau hanya seorang pengecut!" Alice menatap sinis Arkan.
"Apa katamu?" Arkan menatap tajam Alice.
"Wah, suami ku ini selain jadi pengecut kau juga seorang pria yang tuli." Ledek Alice.
Ucapan Alice sungguh membuat darah Arkan mendidih. Arkan tahu jika ia terus meladeni istrinya, maka tidak akan ada habisnya.
Beberapa hari kemudian setelah Arkan memberikan Alina kepastian.
Arkan seperti biasa akan pergi kekantor pada pagi hari. Namun sebelum itu ia sarapan terlebih dahulu. Di meja makan sudah ada Alice dan kedua orang tua Arkan. Arkan lalu duduk di kursi kosong tepatnya di sebelah Alice.
Baru saja beberapa suapan, Siska tiba-tiba membuka suara.
"Arkan, kenapa kau akhir-akhir ini pulang sampai larut malam terus?" Tanya Siska.
"Kasihan Alice jika kamu tinggal terus."
__ADS_1
"Arkan sibuk mengurus pekerjaan, Bu." Jawab Arkan.
"Alasan mu selalu seperti itu, Arkan." Ucap Siska.
"Sekali-kali ajaklah istrimu berlibur, tidak kerja sehari pun uang mu tidak akan habis."
Arkan mendengus kesal mendengar ibunya berkata seperti itu.
"Alice kenapa kamu diam saja, nak?"
"Tidak apa-apa bu,."
"Alice, jika Arkan memperlakukan mu dengan buruk bilang saja pada ibu, ibu akan kasih pelajaran." Ujar Siska sambil melirik Arkan.
Alice hanya diam tapi ia juga menunjukan senyum menyeringai nya pada Arkan.
"Tidak usah khawatir ibu, Semalam ini Arkan selalu memperlakukan Alice dengan baik. Bukan begitu sayang?" Alice menoleh ke arah Arkan dengan tersenyum miring.
"Aku sudah selesai makan, aku berangkat dulu." Ucap Arkan dengan kesal.
"Arkan habiskan sarapan mu dulu, nak." Teriak Siska.
"Arkan... Arkan.." Teriak Siska.
"Sudahlah, biar kan saja dia." Ujar Haris.
"Maafkan sikap Arkan ya, Nak Alice." Kata Siska yang tak enak hati.
"Tidak apa-apa ibu,"
Akhirnya mereka bertiga melanjutkan sarapan mereka masing-masing.
"Sial! Sial!" Umpat Arkan. "Ibu.. kau tidak tahu saja Alice itu wanita ular." Geram Arkan yang sedang menyetir mobil.
Setelah sampai di kantornya, Arkan berjalan menuju ruangannya tapi di tengah perjalan pria itu berpapasan dengan Alina.
langkah keduanya saling terhenti dan mereka pun saling memandangi satu sama lain.
Arkan sedikit kaget ketika ia melihat mata Alina yang begitu sembab seperti orang yang habis menangis.
__ADS_1
"Alina....matamu?"
"Ah...ini...." Alina yang malu langsung saja menundukkan wajahnya.
"Apa kau habis menangis?" Tanya Arkan.
Alina menggeleng. "Tidak Arkan, ini ini kemasukan debu tadi." Bohong Alina.
Arkan hanya merapatkan bibirnya. Sebenarnya ia paham jika Alina sedang berbohong.
"Kau sendiri, kenapa wajahmu terlihat lesu begitu? apa kau baik-baik saja?" Tanya Alina.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Jawab Arkan tersenyum.
"Baiklah kalau baik-baik saja, aku pergi dulu!" Kata Alina.
Baru saja beberapa langkah, Arkan tiba-tiba memanggil kembali Alina.
"Alina...."
Sontak langkah Alina terhenti dan langsung membalikkan badannya.
"Ada apa?"
"Mari kita lupakan semua yang dikatakan kemarin!" Pinta Arkan tiba-tiba.
"Mari lupakan semuanya mulai sekarang." Ujar Arkan.
Alina sejenak terdiam mendengar ucapan dari Arkan.
"Tentang apa?" Tanya Alina yang sebenarnya sudah paham.
"Tentang aku yang hanya ingin berteman saja denganmu." Ucap Arkan sambil menundukkan pandangannya.
"Kalau begitu aku pergi dulu!" Kata Arkan lalu melenggang pergi.
Alina masih berdiri mematung dia menghela nafas panjang lalu menghembuskan ya secara perlahan.
Entah kenapa saat Arkan berbicara seperti itu, hatinya bagaikan di timpuk benda berat.
__ADS_1