Dihamili Pria Beristri

Dihamili Pria Beristri
28. Pulang ke rumah Ortu


__ADS_3

"Kenapa kau malah menamparku!"


"Jangan salahkan aku jika ini semua terjadi, tapi lihatlah dirimu kenapa ini semua bisa terjadi." Ucap Alice.


"Apa maksudmu?"


"Setelah kita menikah, aku ingin sekali memperbaiki diriku, setia pada satu pasangan, yaitu kau. Kuakui awalnya aku memang tak mencintaimu, tapi entah kenapa seiringnya kebersamaan kita perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja. Aku mulai belajar mencintaimu, tapi apa Arkan? sampai beberapa bulan kita menikah pun kau tak pernah mencintaiku. Jangankan mencintai, menyentuhku saja kau enggan!" Jelas Alice berlinang air mata.


Arkan terdiam mendengar penjelasan Alice. Yang dikatakan Alice ada benarnya juga. Saat menikah dengan Alice, Arkan memang sama sekali tak pernah mencintai, menyentuh bahkan memperdulikannya.


"Tapi bukan berarti kau harus mengkhianati pernikahan ini, Alice!"


"Maafkan aku Arkan, aku melakukan semua itu karena aku.. aku.." Ucapan Alice terpotong.


"Karena apa, Alice? cepat katakan!"


"Aku hanya haus kasih sayang, Arkan!! Tidak bisa kah kau memberikannya untukku, hah?" Alice menegakkan pandangannya seraya menyeka air mata.


"Salahkah seorang istri mengharapkan cinta dari suaminya?" Tanya Alice.


"Orangtuaku selalu keras kepadaku, maka dari itu aku selalu mendambakan untuk dicintai." Timpal Alice.


Arkan termangu dengan wajah bingung dan mungkin juga ada sebuah perasaan bersalah.


Setelah tidak ada jawaban dari Arkan, dengan kecewa Alice pergi meninggalkan suaminya itu.


Namun baru saja beberapa langkah, Alice tiba-tiba berhenti.


"Maafkan aku, karena aku terlalu egois. Mari kita lupakan semua yang dikatakan hari ini." Ucap Alice, lalu ia melanjutkan langkahnya.


Bukannya mengejar Alice, Arkan justru hanya diam mematung sambil menatap nanar kepergian istrinya.

__ADS_1


"Dirga.....antar aku kerumah orangtuaku!" Titah Alice saat masuk ke dalam mobil.


"Kenapa tiba-tiba, nyonya?" Tanya Dirga.


"Sudahlah, sementara aku ingin pulang saja kerumah orangtuaku."


"Baiklah kalau begitu, nyonya." Dirga lalu memacu kendaraannya menuju ke kediaman orangtua Alice.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah orangtuanya, Alice hanya diam dan membuang muka menatap ke arah jendela.


Sesekali Dirga melirik ke arah kaca spion, dan terlihat lah Alice yang tengah menangis sambil menyeka air mata.


Rasanya ingin sekali Dirga menenangkan Alice, tapi apalah daya dia tidak bisa melakukan itu semua.


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai pun tiba di sebuah rumah besar yang mewah, parkiran luas dengan pengamanan yang ketat.


Dirga turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Alice.


Alice turun, tapi ia tak berani menatap Dirga karena matanya begitu sembab akibat menangis selama perjalanan tadi.


Tak ada sepatah katapun dari Alice, wanita itu langsung saja masuk ke dalam rumah. Dirga juga mengikuti dari belakang.


Tina, ibu Alice menyambut dengan hangat kedatangan anaknya yang sudah lama tidak pernah berkunjung. Namun dia sedikit terkejut ketika melihat mata Alice yang sembab.


"Alice, tumben kau kemari nak?"


"Kenapa matamu sembab begitu?"


"Tidak apa-apa Bu, malam ini Alice akan tidur disini." Ucap Alice memalsukan senyumnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi!" Ayah Alice yang mula nya duduk di sofa kini bangun dari duduknya dan langsung menghampiri Alice.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ayahnya mendaratkan satu tamparan ke wajah Alice.


Plak.....


Sontak ibu Alice dan Dirga kaget melihat hal itu.


Alice merintih kesakitan, ia memegangi pipinya.


"Apa yang kau lakukan pada anak kita, mas?" Tanya Tina.


"Kau kira aku tidak tahu, apa yang sedang terjadi?" Tanya Jek pada Alice.


Alice hanya diam, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa kau melakukan keributan seperti ini, sampai-sampai mertuamu sendiri masuk rumah sakit?"


"Apa ayah bilang, keributan?"


"Ya! kau melakukan keributan yang sama sekali itu tidak penting!" Teriak Jek memanas.


"Ayah, ayah tidak tahu apa-apa, dengan apa yang ku alami selama ini." Ucap Alice.


"Aku tidak mau mendengar omong kosong mu itu!" Bentak Jek.


Alice begitu murka, ayahnya begitu sangat egois terhadap dirinya.


"Baiklah, kalau begitu aku mau istirahat dulu!" Alice kemudian berlalu begitu saja menuju ke kamarnya.


"Alice....Alice.....aku belum selesai berbicara!" Teriak Jek, tapi tak dihiraukan.


"Sayang....sudahlah, biarkan dia istirahat dulu." Kata Tina menenangkan suaminya.

__ADS_1


"Hah, dasar anak tidak tahu diuntung!" Pekik Jek.


__ADS_2