
Taxi pun berhenti tepat di depan kontrakan, Alina langsung saja membayar lalu turun. Dengan mata sembab dan langkah gontai ia menuju ke arah kontrakannya. Tapi tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti dan juga terdengar seseorang memanggilnya.
"Tunggu....." Pinta seseorang.
Alina seketika menghentikan langkahnya dan membalik badannya.
"Kau siap?" Tanya Alina pelan.
"Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang cepatlah masuk ke mobilku, aku yakin sebentar lagi Arkan akan tiba disini." Ucap seorang wanita yang tak lain adalah Laura.
Alina terdiam mematung.
"Sudahlah aku tahu perasaanmu saat ini, bukankah sekarang kau membenci Arkan?" Tanya Laura.
Alina tak menjawab, ia hanya menitihkan air mata saja.
"Ayo cepatlah masuk kedalam mobilku!" Ajak Laura.
Alina mengangguk dengan arti mengiyakan ajakan Laura.
Setelah keduanya sudah berada didalam mobil, Laura langsung saja memacu kendaraannya.
Dan benar saja, belum lama kepergian Alina dan Laura, sebuah taxi pun terlihat berhenti tepat di depan kontrakan Alina. Siapa lagi kalau bukan Arkan.
Arkan bergegas turun dan ia langsung menginjakkan kaki di teras kontrakan.
Pria itu berulang kali mengetuk dan memanggil nama Alina, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Terlihat juga suasana kontrakan Alina begitu sepi dan gelap.
"Alina......buka pintunya, aku akan menjelaskan semuanya padamu, aku mohon buka pintunya!" Ucap Arkan.
Huft.....
Beberapa saat kemudian, Laura dan juga Alina telah tiba disebuah Apartemen. Alina merasa heran mengapa Laura mengajaknya kesini.
"Minumlah!" Laura memberikan Alina segelas air putih saat mereka sudah masuk ke unit milik Laura.
"Kau pasti bingung kan siapa aku? baiklah kalau begitu, aku akan memperkenalkan diri. Aku Laura, temannya Arkan. Aku dan Arkan sudah lama berteman." Jelas Laura tersenyum.
"Benarkah," Ujar Alina. Terlihat raut wajah Alina masih begitu sedih seakan membuat Laura harus iba.
"Alina, aku hanya ingin membantumu saja. Perasaanmu saat ini begitu hancur bukan? aku tahu Alina...." Ucap Laura sambil meraih tangan Alina lalu mengelusnya. Wanita itu berusaha menenangkan Alina yang sedang tidak baik-baik saja.
"Boleh aku beristirahat dulu?" Tanya Alina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tentu saja boleh Alina, istirahat lah dikamar. Tenang saja, disini aman. Karena Arkan tidak tahu tempat tinggalku." Ungkap Laura.
Alina pun akhirnya bangun dari duduknya dengan diantar oleh Laura menuju ke kamar.
"Aku istirahat dulu!" Ucap Alina dengan wajah sendu.
"Baiklah, selamat beristirahat!" Ujar Laura sambil mengangguk.
Bukannya beristirahat, justru Alina malah menangis sesenggukan mengingat apa yang baru saja terjadi. Bahkan tangisan itu bisa di dengar oleh Laura yang berada diluar kamar.
Sementara Arkan, hingga larut malam pun ia masih saja tetap berdiri menunggu, berharap Alina akan membukakan nya pintu.
Namun tetap saja wanita yang ia cari tidak muncul juga.
Sampai pada keesokan harinya, tanpa sadar Arkan rupanya sudah tertidur di teras kontrakan Alina. Dia terbangun tak kala Kilauan sinar matahari menyoroti wajahnya.
"Ah....rupanya aku tertidur disini....." Ucap Arkan dengan penglihatan yang masih kabur.
"Alina ......Alina......" Arkan bangun lalu mengetuk kembali pintu kontrakan. Tapi tetap saja, tidak ada jawaban dari dalam.
Dan pada akhirnya Arkan pun memutuskan untuk pergi dengan langkah gontainya.
"Apa kau tidur disini semalaman?" Tegur Laura yang tiba-tiba muncul.
Arkan dengan lesu mengangkat wajahnya. "Ada apa kau kesini?" Tanya Arkan tak bersemangat.
"Kau tak bawa mobil, ayo ikutlah denganku. Aku akan mengantarkan mu pulang!" Ucap Laura.
Arkan menggeleng. "Tidak usah!"
"Kenapa? sudahlah, jangan menolak!"
Akhirnya Arkan pun mau di antarkan pulang oleh Laura.
Sepanjang perjalanan, Arkan hanya diam membuang muka menatap ke arah jendela.
"Apa kau tidak tahu?" Tanya Laura membuka suara.
__ADS_1
Arkan masih diam, tak menggubris apa yang Laura ucapkan.
"Arkan....."
"Apa lagi, lau? aku sedang tidak ingin berbicara sekarang!" Arkan membuang nafas kasar.
"Apa kau tidak khawatir dengan ayahmu? Ayahmu sekarang sedang di rumah sakit." Ujar Laura.
Sontak hal itu membuat Arkan terkejut.
"Hah, apa!"
"Itu semua gara-gara kau Arkan, saat kau pergi menyusul Alina saat itu juga ayahmu jatuh pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit!" Jelas Laura, tatapannya masih fokus pada kemudi.
"Aish......!" Arkan kembali mengacak kasar rambutnya.
"Cepatlah, cepatlah antar aku ke rumah sakit sekarang juga!" Pinta Arkan begitu panik.
"Baiklah.....kau harus sabar!"
Laura kemudian memacu kecepatan mobilnya, membelah jalanan kota yang tidak terlalu ramai oleh kendaraan.
Dan tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka telah tiba di rumah sakit.
Arkan langsung saja turun dari mobil dan bergegas menuju ke ruangan dimana ayahnya dirawat.
"Ayah.....ayah ......" Panggil Arkan setengah kerasukan.
Didalam ruangan tersebut terdapat ibunya, Alice dan Dirga yang sedang menjaga. Mereka begitu kaget melihat kedatangan Arkan yang meraung-raung.
"Ayah apa yang terjadi?" Tangis Arkan pecah ketika melihat ayahnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Siska yang memang sudah geram dari tadi malam, langsung saja mendekat ke arah Arkan.
Tanpa basa basi, wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca langsung saja melayangkan satu tamparan ke wajah anaknya.
plaaak.......
Alice,Dirga dan Laura yang melihat Siska menampar Arkan seketika begitu terkejut.
Arkan menatap ibunya, tak percaya jika ibunya akan menamparnya.
"Ibu......." Seru Arkan matanya juga berkaca-kaca.
"Dirga......" Panggil Siska.
"Iya nyonya, ada apa?" Tanya Dirga mendekat.
"Sekarang aku tidak ingin melihatnya, bawa dia pergi dari sini!" Titah Siska tanpa menatap ke arah Arkan.
"Ibu....kenapa ibu begitu padaku?" Arkan tak menyangka.
Siska tak menjawab, dia hanya diam sambil membuang muka.
"Dirga, apa kau tidak mendengarkan ku?"
"Ba-baik nyonya!" Ucap Dirga.
"Tuan silahkan pergi dari sini!" Ujar Dirga memegang pundak Arkan.
"Tidak, aku ingin tahu bagaimana kondisi ayahku!" Ucap Arkan.
"Ayo tuan saya mohon pergilah, sebelum nyonya Siska marah pada saya!" Mohon Dirga.
Alice yang melihat suaminya seperti itu pun hanya bisa diam tertunduk tanpa sepatah katapun.
Dan akhirnya mau tidak mau Arkan pun harus pergi dari ruangan ayahnya.
"Tante, Alice kalau begitu saya pergi dulu!" Kata Laura.
"Baiklah!" Sahut Alice.
"Maafkan saya tuan, tapi ini demi kebaikan nyonya juga. Ibu tuan sepertinya benar-benar kecewa pada tuan!" Ungkap Dirga saat diluar.
Arkan hanya diam dengan tatapan nanar nya. Rasanya ingin sekali pria itu menangis tapi tidak mungkin juga dia selemah itu di hadapan orang-orang.
"Ibu.....Alice keluar dulu sebentar!" Ucap Alice yang sebenarnya hendak menyusul Arkan.
Siksa hanya menganggukkan kepala.
Alice kemudian melangkah keluar dari ruangan. Saat diluar, ia hanya melihat Dirga saja tak melihat adanya Arkan.
__ADS_1
"Dirga, kemana Arkan?" Tanya Alice sambil menoleh ke kiri kanan koridor.
"Maaf nyonya, tuan Arkan baru saja pergi tadi!" Jawab Dirga.
Alice menghela nafas panjang lalu menghembuskan ya secara perlahan. "Hem.....baiklah kalau begitu...."
"Jadi kemana aku harus mengantarmu?" Tanya Laura pada Arkan.
"Aku tidak ingin pulang ke rumah untuk saat ini!" Jawab Arkan.
"Lantas?"
"Antar saja aku ke apartemen Raka." Pinta Arkan.
Laura menghela nafas panjang. " Baiklah kalau begitu!"
Tiga puluh menit kemudian, Arkan dan Laura sudah sampai di apartemen Raka.
"Kalau begitu terimakasih, karena kau sudah mau mengantar ku!" Ujar Arkan saat turun dari mobil.
Setelah berbicara seperti itu, pria itu pun langsung berlalu begitu saja.
Didalam mobil Laura tersenyum sinis. "Arkan....Arkan....kasihan kau, hanya karena wanita seperti itu kau malah menghancurkan hidupmu sendiri!" Ucap Laura.
____
"Nak, kau pulanglah dulu!" Titah Siska.
"Ibu, aku akan menemani ibu dan ayah disini." Ucap Alice.
"Ibu maafkan aku, semua ini ulah Alice."
"Kau tidak perlu menyesal Alice, seharusnya ibu yang minta maaf padamu atas perilaku Arkan yang seperti itu." Ujar Siska.
"Sudah ibu, tidak apa-apa. Mungkin memang salah Alice mengapa Arkan bisa seperti itu." Kata Alice.
"Kalau begitu Alice pulang dulu, bu!" Wanita itu kemudian berlalu begitu saja.
Dengan diantar Dirga, Alice pulang menuju ke rumah.
Sepanjang perjalanan Dirga terus saja memperhatikan Alice yang murung sejak tadi.
"Nyonya, apakah nyonya baik-baik saja?" Tanya Dirga membuka suara ditengah keheningan.
"Tidak apa-apa Dirga, aku baik-baik saja!" Ucap Alice sambil menyeka air mata yang tak sengaja turun membasahi pipinya.
"Baik-baik saja tapi kenapa nyonya menangis?" Tanya Dirga lebih lanjut.
"Entahlah, aku sendiri juga bingung! kenapa aku menangis! cih....." Alice memalsukan senyumnya.
Tak lama kemudian mereka pun telah sampai di rumah.
Alice langsung saja turun dan melangkah masuk kedalam.
Suasana rumah tampak begitu sepi dan hening sekali.
"Dimana dia?" Alice mengedarkan pandangannya ke segara arah.
Wanita itu kemudian menaiki anak tangga, ingin menuju ke kamar. Melihat ada Arkan atau tidaknya.
Namun saat memutar knop pintu dan masuk ke dalam kamar, Alice sama sekali tak mendapati Arkan didalamnya.
"Tidak ada? kemana dia?" Alice bertanya-tanya pada diri sendiri.
Alice kemudian kembali turun, berniat menanyakan Arkan pada pelayan dirumah ini.
"Apakah Arkan ada pulang ke rumah?" Tanya Alice pada salah satu pelayan.
Pelayan tersebut menggeleng. "Tidak nyonya, sejak malam kemarin tuan Arkan sama sekali tidak ada pulang!" Jawabnya.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih!" Ucap Alice.
Alice pun kini memutuskan untuk pergi ke kantor Arkan. Dia berpikir pasti Arkan ada dikantornya.
Namun sama seperti tadi, dikantor ia tak mendapati adanya Arkan. Salah satu karyawan mengatakan jika Arkan tidak pergi ke kantor hari ini.
"Cih.....sebenarnya kemana dia pergi!" Alice membuang nafas kasar dan barulah ia teringat dengan kontrakan Alina.
"Ah ataukan mungkin dia sedang berada di kontrakan Alina?" Tanya Alice pada diri sendiri.
Akhirnya Alice pun memutuskan untuk pergi menuju ke kontrakan Alina.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, dia telah tiba di depan kontrakan Alina. Alice menatap kontrakan tersebut yang terlihat begitu sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Wanita itu melangkah lebih dekat lagi, lalu mengetuk pintu kontrakan tersebut.
Berulang kali Alice mengetuk pintu tapi tetap saja tidak ada jawaban dari dalam. Hingga membuat Alice jengah dan akhirnya memutuskan untuk pergi saja.