Dihamili Pria Beristri

Dihamili Pria Beristri
34. Kembali Berubah


__ADS_3

Alina sejenak termenung mencerna penjelasan dari Arkan.


"Malam ini bersiap lah, aku akan menjemput mu jam tujuh malam." Ucap Arkan.


"Kau ingin membawaku kemana?" Tanya Alina penasaran.


"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Turuti saja apa kataku."


Alina mengangguk tanda setuju.


"Sekarang sudah sore ayo ku antar pulang." Tawar Arkan.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Tolak Alina.


"Kamu sedang hamil, aku tidak bisa membiarkan mu sendiri." Kata Arkan.


"Tidak perlu repot-repot Arkan!"


"Alina.. aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada kau dan anak kita." Ujar Arkan memaksa.


Hati Alina berdesir tak kala Arkan mengucapkan kata anak.


"Baiklah, kalau kau memaksa." Ujar Alina pasrah.


Arkan tersenyum lebar tak kala Alina menurut padanya. Akhirnya keduanya pun pergi dari cafe tersebut.


Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai pun telah tiba tepat dihalaman kontrakan Alina.

__ADS_1


"Terimakasih karena sudah mengantarkan ku!" Ucap Alina. "Kalau begitu aku turun dulu!"


Saat Alina hendak turun dari mobil, Arkan langsung saja menahannya.


"Tunggu!" Pinta Arkan. Ia lalu turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu mobil.


"Turunlah...." Ujar Arkan tersenyum. Alina pun lalu turun.


"Tidak mampir dulu?" Tawar Alina.


"Lain kali saja, lagi pula nanti malam aku akan menjemput mu lagi." Tutur Arkan.


"Baiklah , sekali lagi terimakasih."


"Kalau begitu aku pulang dulu!"


"Nak... Papah pulang dulu, jangan nakal dan jaga mamah mu baik-baik, ya." Ucap Arkan tersenyum sambil mengelus-elus perut Alina.


Alina tersenyum mendapat perhatian dari Arkan. Setelah berucap seperti itu, Arkan langsung saja masuk ke dalam mobil dan berlalu begitu saja. Sampai mobil Arkan tak terlihat, barulah Alina masuk ke dalam kontrakannya.


-


-


Jam lima sore Arkan baru saja menginjakkan kakinya dirumah. Alice, wanita itu sudah menunggunya di ambang pintu. Arkan sesekali tampak tersenyum dan Alice membalas senyuman suaminya. Alice berpikir bahwa senyuman itu untuk dirinya namun nyatanya tidak. Hati Arkan terlalu bergembira karena mendapat kabar wanita yang sangat ia cintai sedang mengandung darah dagingnya.


"Sepertinya kau sangat bahagia, mas?" Tanya Alice.

__ADS_1


Arkan tak menjawab, pria itu hanya berlalu begitu saja mendahului Alice.


Alice termangu, dan senyum di bibirnya seketika memudar.


Entah Alice sendiri pun tak tahu, kenapa suaminya itu tiba-tiba kembali menjadi dingin?


Alice kemudian menyusul suaminya kedalam kamar.


-


Arkan melepas jas yang ia kenakan, lalu pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selang beberapa saat, Arkan keluar dari kamar mandi dan ia sedikit kaget ketika melihat Alice yang sudah berdiri melipat tangan sambil menatap ke arahnya.


"Alice kamu mengagetkanku!" Seru Arkan.


Alice hanya diam, lidahnya seolah kelu ketika ia ingin menanyakan kenapa Arkan tiba-tiba kembali menjadi dingin.


"Kamu kenapa menatapku seperti itu, Alice?" Tanya Arkan.


Dengan cepat Alice langsung menggelengkan kepala. "Tidak, tidak apa-apa. Em kalau begitu aku mau masak dulu, untuk makan malam kita!" Kata Alice seraya berlalu.


Arkan menghembuskan nafas pelan, dia seperti paham dengan apa yang Alice pikirkan saat ini.


"Kamu pasti akan sangat kecewa dengan dengan pernyataan ku nanti, Alice. Maafkan aku, tapi mungkin inilah jalan terbaiknya bagi kita. Tidak mungkin juga jika aku terus-terusan membohongi perasaanku!" Ucap Arkan.


Sementara Alice saat ini sudah berada didapur. Namun ia terus saja termenung memikirkan sifat Arkan yang barusan.

__ADS_1


"Kenapa perasaanku tiba-tiba mendadak jadi tidak enak? apa yang akan terjadi?" Tanya Alice pada diri sendiri.


__ADS_2