Dihamili Pria Beristri

Dihamili Pria Beristri
26. Maaf


__ADS_3

Malam telah tiba, Arkan memutuskan untuk pulang saja dari apartemen Raka.


Namun sebelum pulang ke rumah, Arkan berniat untuk pergi terlebih dahulu ke rumah Alina. Pria itu berharap jika malam ini ia dapat bertemu dengan Alina.


Beberapa saat kemudian, Arkan telah tiba di kediaman Alina.


Tok.....tok.....


Arkan mengetuk pintu berulang kali, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari dalam.


"Alina.....buka pintunya, Alina....." Pinta Arkan dengan penuh harap.


Ia tak berhentinya terus mengetuk pintu kontrakan Alina.


Sampai membuat Alina yang awal mulanya tertidur di sofa, terbangun kala mendengar suara ketukan pintu. Alina mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha memfokuskan pandangannya yang sedetik kabur dan sedetik lagi jelas.


"Siapa itu?" Tanya Alina. Ia lalu bangun dari tidurnya dan langsung melangkah ke arah pintu.


Arkan yang masih menunggu di depan pintu seketika bersemangat ketika ia mendengar derap langkah kaki dari dalam.


"Alina.....buka pintunya Alina......" Ucap Arkan.


Alina yang hendak memutar knop pintu pun seketika mengurungkan niatnya ketika mendengar itu adalah suara dari Arkan. "Arkan....." Alina termangu sejenak. "Untuk apa lagi dia menemui ku?" Ucap Alina membuang nafas kasar.


"Alina, buka pintunya Alina.....aku tahu kau ada didalam!" Kata Arkan terus mengetuk.


"Aku mohon Alina...buka pintunya!" Pinta Arkan.


Alina masih diam mematung, tak menggubris Arkan.

__ADS_1


"Aku tahu kau mendengar ku Alina, tapi tolong buka pintunya. Kalau tidak, aku tidak akan pergi dari sini!" Ucap Arkan dengan egois.


Alina begitu geram mendengar ucapan Arkan, ia langsung saja membuka pintu.


Arkan tercengang ketika melihat Alina membuka pintu. Mereka saling bertukar pandangan satu sama lain dengan wajah sendu.


Cukup lama mereka beradu pandang sampai Alina membuka suaranya.


"Mau apalagi kau kesini?" Tanya Alina dengan wajah datar.


"Alina....maafkan aku!" Ucap Arkan, dirinya meraih tangan Alina tapi Alina langsung melepaskannya dengan kasar.


"Alina kenapa kau begini?" Tanya Arkan.


"Masih bertanya kenapa aku begini?" Tanya Alina balik dengan mata memerah.


"Kenapa bohongi aku selama ini?"


"Bukan maksudku begitu, Alina. Tapi...." Belum habis Arkan menjelaskan, Alina langsung menyelanya.


"Kau bertingkah tak pasti dan hanya menganggap ku teman, padahal kau sudah punya istri, dasar bajingan!" Umpat Alina seraya menitihkan air mata.


"Pantas saja selama ini kau tidak mau memperjelas hubungan kita, dan sekalipun memperjelas kau hanya menganggap ku teman saja, ternyata kau-----" Alina tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Dadanya terasa begitu sesak dan lidahnya Kelu.


"Aku menyesal Alina, seharusnya dari awal aku memberitahumu. Tapi tolong Alina, maafkan aku dan jangan jauhi aku!"


"Apa kau sudah tidak waras?"


"Alina aku mohon maafkan aku." Lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Arkan.

__ADS_1


"Aku muak dengan mu, sekarang cepat kau pergi dari hadapan ku!!" Pinta Alina tegas.


"Dengarkanlah penjelasan ku dulu, Alina."


"Apa lagi yang perlu dijelaskan, semua sudah jelas, Arkan!" Seru Alina.


"Belum Alina, semua belum jelas. Kau harus tahu, sebenarnya aku sama sekali tidak mencintai istriku!" Tutur Arkan.


Alina sejenak termangu mendengar penuturan dari Arkan. "Tapi setidaknya kau harus jujur padaku sejak awal, bahwa kau sudah menikah!" Ucap Alina.


Arkan malah berbalik diam.


"Semua itu ada alasannya, Alina." Arkan menatap nanar wanita yang ada dihadapannya.


"Sudahlah, aku tidak ingin lagi mendengar omong kosong mu itu!" Ujar Alina. "Sekarang ku mohon pergilah!" Pinta Alina.


"Alina.....tolong jangan seperti ini..."


"Pergilah....pergi, sekarang aku sudah benar-benar muak melihatmu!" Ucap Alina dengan air mata yang terus mengucur membasahi pipi.


"Jangan begini Alina, aku mohon!"


Alina diam tak merespon, wanita itu langsung saja masuk kedalam rumah dan mengunci pintunya meski Arkan terus memohon.


"Alina.....Alina....." Panggil Arkan dengan ketukan.


Arkan kemudian mulai pasrah, dia menghela nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar.


Akhirnya dengan langkah gontai dan wajah tertunduk, Arkan pun pergi meninggalkan kediaman Alina dengan segenap perasaan hancur.

__ADS_1


__ADS_2