
Makan siang kali ini dilakukan di kediaman rumah orangtua Alice. Tampak sekali terlihat kecanggungan antara dua keluarga tersebut.
Arkan dan Alice yang duduk bersampingan pun hanya saling diam membisu dengan wajah tertunduk.
"Maafkan atas kelakuan putra kami, Jek, Tin!" Ucap Haris penuh penyesalan.
Jek menghela nafas berat.
"Tidak apa-apa, Haris. Hanya saja aku sedikit tidak menyangka!" Ucap Jek tersenyum tipis.
Haris dan Siska yang mendengar itu pun semakin tak enak hati.
"Sekali lagi tolong di maafkan, aku yakin putra kami tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama!" Ujar Haris.
"Cih.....kau tidak perlu minta maaf, Haris. Seharusnya putramu lah yang layak untuk minta maaf dan mengakui kesalahannya!"
Sontak langsung saja Haris dan Siska melirik ke arah Arkan yang sedari tadi hanya diam.
Haris dan Siska seolah memberi kode pada Arkan agar putranya itu segera meminta maaf.
Arkan menghela nafas panjang ketika melihat sorot mata orangtuanya. Dengan berat hati, Arkan pun mulai membuka suara.
"Maafkan saya, pak Jek, Bu Tina dan juga Alice." Ucap Arkan singkat.
"Hanya itu sajakah?" Tanya Jek. "Apakah kau berjanji tidak akan mengulangi itu semua?"
Alice mendadak membuang muka mendengar ayahnya bertanya seperti itu pada Arkan.
Arkan terdiam sejenak, dia tahu semua ini terjadi bukanlah kesalahan dia sepenuhnya.
Haris berdehem. "Arkan.....kenapa kau diam saja?"
"Minta maaflah pada Alice, Arkan!" Pinta Jek.
Mau tidak mau dengan berat hati pun Arkan mulai meminta maaf pada Alice.
Arkan menoleh ke arah Alice dan terlihat Alice hanya diam seperti orang yang merasa tidak enak.
"Alice....."
Alice menegakkan pandangannya.
"Maafkan aku, Alice." Ucap Arkan dengan raut wajah datar.
Alice masih diam sambil menatap lekat Arkan.
"Maafkan aku, karena aku telah menyakiti hatimu dan membuat hatimu terluka." Ujar Arkan, pria itu lalu menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku sudah memaafkan mu. Lalu apa selanjutnya?" Tanya Alice.
"Ayo kita perbaiki bersama." Jawab Arkan.
"Aku tidak yakin!" Sahut Alice cuek.
"Ma-maksud mu apa, Alice?" Tanya Arkan.
Alice sejenak terdiam, sambil dalam hati bertanya-tanya apakah ucapan Arkan kali ini benar-benar tulus?
"Bagaimana Alice? keputusan ada ditangan mu sekarang." Sambung Jek.
Alice mengangguk.
"Baiklah, ayo kita perbaiki bersama." Kata Alice tegas.
"Tapi....."
"Tapi apa?" Potong Arkan.
"Bisakah kau berjanji satu hal?" Tanya Alice.
"Katakanlah, agar aku bisa berjanji."
"Berjanjilah jika kau akan menjauhi wanita itu mulai sekarang."
Lidah Arkan terasa Kelu hingga membuat tubuhnya mematung.
Ada perasaan berat hati tak kala Alice meminta janji seperti itu tepat dihadapan keluarga.
Lalu, dengan nafas berat pun Arkan mau tidak mau pun mengiyakan permintaan dari Alice.
"Baiklah, aku berjanji." Ucap Arkan singkat.
"Apa? apakah dia sungguh-sungguh? tapi rasanya baru kali ini juga aku melihat dia seserius ini?" Alice bertanya-tanya didalam hati.
Makan siang bersama telah usai, Alice dan Arkan serta kedua orang tua Arkan pamit untuk pulang.
Setengah jam kemudian sampailah di kediaman orangtua Arkan. Satu persatu turun dari mobil dalam keadaan yang masih diam satu sama lain.
Dikamar, Alice langsung merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, bukan hanya tubuhnya tapi hati Alice juga lelah.
"Aku harap jika ada masalah di selesaikan baik-baik, bukannya malah pulang ke rumah orang tua," ucap Arkan tiba-tiba, tapi Alice tidak menghiraukannya.
"Alice! Apa kau dengar aku?!" Tanya Arkan dengan nada sedikit meninggi. Pria itu membalikkan tubuh Alice yang membelakanginya.
"Biarkan aku istirahat! Aku malas jika harus berdebat dengan mu. Pergilah! Aku tidak ingin berbicara denganmu." Usir Alice.
__ADS_1
Arkan menghembuskan nafas kasarnya, kemudian pria itu berlalu meninggalkan Alice seorang diri.
-
-
-
Kebetulan ini hari Minggu, jadi pengunjung di cafe sangat ramai.
Alina, wanita itu sesekali mengusap keringat di keningnya.
"Alina!" Sapa Nanda.
"Eh, Nanda!"
"Ini sudah jam makan siang, kau tidak istirahat untuk makan siang?" Tanya Nanda.
Alina melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Oh iya, Nan. Aku lupa." Sahut Alina.
"Ayo makan bersamaku." Ajak Nanda.
"Boleh. Tunggu sebentar aku mengantar pesanan dulu!" Ucap Alina.
Beberapa saat kemudian, mereka pun makan siang bersama.
Alina dan Nanda terlihat menikmati makan siangnya itu sambil sesekali berbincang-bincang ringan.
Tiba-tiba saja Alina memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Alina, kau kenapa?" Tanya Nanda dengan khawatir, wajah Alina terlihat begitu pucat.
"Huweekk...huwek.." Alina berlari menuju wastafel setelah itu memuntahkan makanan yang ia makan dari mulutnya dan Nanda menyusul Alina.
"Uhuk..uhuk.."
"Alina, apa kau baik-baik saja? Apa ada yang salah dengan makanannya?" Tanya Nanda membantu memijat tengkuk Alina.
"Perut ku mual, Nan. Sepertinya aku sedang tidak enak badan." Jawab Alina.
"Kau pasti kelelahan bekerja, sebaiknya aku mengantarkan mu pulang!" Kata Nanda.
"Tapi--"
"Sudahlah jangan menolak!" Tegas Nanda dan Alina menurut.
__ADS_1
Saat hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba saja Alina jatuh pingsan hingga membuat Nanda panik dan berteriak minta tolong.