Dihamili Pria Beristri

Dihamili Pria Beristri
12.Kesal


__ADS_3

Arkan menghampiri Alina dan pria itu mengusap lembut pipi Alina.


"Kita bahas nanti, sekarang sebaiknya kau bersihkan dulu dirimu. Setelah itu ku antar pulang." Ucap Arkan seolah mengalihkan pembicaraan.


"Ta-tapi?"


Arkan mengangguk pelan sambil menunjukkan senyum manisnya yang seolah membuat Alina tak bisa membantah.


"Baiklah...." Ucap Alina.


Entah mengapa setiap Alina melihat Arkan tersenyum, Alina akan terhipnotis olehnya.


Huft.......


Sore menjelang malam, mobil yang dikendarai baru saja tiba di depan rumah kontrakan Alina.


Alina mempersilahkan Arkan untuk masuk ke dalam kontraknya dan Arkan pun menyetujui ajakan Alina.


"Duduklah, tunggu sebentar, aku akan membuatkan mu minuman dulu." Kata Alina.


Saat Alina sedang membuat minuman didapur, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan pelukan yang memeluk dirinya dari belakang.


Sontak Alina langsung menoleh ke arah samping.


"Arkan.....kau mengagetkanku saja!" Ucap Alina.


"Entah kenapa rasanya aku tidak bisa jauh darimu....." Ujar Arkan sambil mencium leher jenjang milik Alina.


Alina tersenyum ketika ia mendengar ucapan Arkan yang seperti itu. Tapi senyuman itu hanya sesaat, tiba-tiba saja senyum di wajah Alina memudar dan wajahnya menjadi datar seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa kau hanya diam, Alina?"


Alina tak menjawab, ia malah dengan kasarnya melepaskan pelukan dari Arkan.


"Alina, ada apa denganmu?" Tanya lagi Arkan yang tak paham.


"Aku rasa sikapmu berlebihan, Arkan. Aku takut aku hanya salah paham lagi nanti." Ujar Alina dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


Arkan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan pelan.


"Em....kau benar, Alina. Maafkan aku." Ucap Arkan.


"Oh ya, tidak usah buat minuman. Sudah hampir malam, Aku pamit pulang dulu, Alina." Kata Arkan sambil tersenyum yang sebenarnya dalam hati merasa tak enak.


Pria itu lalu melenggang pergi begitu saja dari hadapan Alina.


Sementara Alina masih dalam posisi yang sama berdiri mematung sambil menatap nanar langkah Arkan.


___


"Apa dia malah semakin dekat lagi dengan wanita jal*ng itu?"


"Iya nyonya, tak hanya itu, tuan Arkan juga mengantarkan wanita itu pulang ke kontraknya tadi." Jelas Dirga.


"Arkan, dia benar-benar tidak mendengarkan ancaman dariku." Ucap Alice dengan kesal.


"Em....maaf jika lancang nyonya, sebaiknya kenapa tidak nyonya temui saja wanita itu?"


"Tentu saja aku akan menemuinya, tapi tidak sekarang. Karena sekarang aku sedang menyusun rencana agar jal*Ng itu malu nanti." Alice tersenyum menyeringai.


Huft.....


"Kenapa kau baru pulang jam segini?" Tanya Alice yang sedang duduk di depan meja rias.


"Ehm....ada kerjaan banyak di kantor." Jawab Arkan sambil melepas jas yang ia kenakan.


"Benarkah?"


Arkan tak menjawab.


Melihat tak ada jawaban dari Arkan, Alice bangun dari duduknya dan langsung mendekat ke arah Arkan.


"Cepatlah mandi, habis itu kita makan malam." Ucap Alice dengan senyuman yang begitu memikat tapi menusuk.


Arkan lagi lagi hanya terdiam sambil merasa keheranan. Tak biasanya Alice bersikap seperti ini pada dirinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, dimeja makan sudah ada ayah, ibu dan istrinya yang duduk menunggu.


"Sayang....kemarilah!" Panggil Alice pada Arkan yang baru menuruni anak tangga.


Arkan berhenti sejenak, dirinya menatap sinis ke arah Alice tak Alice memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah menjadi manis?'" Tanya Arkan dalam hati.


Tak ingin ambil pusing, Arkan langsung saja berjalan ke arah meja makan.


"Kenapa kau lama sekali, kami semua menunggumu." Ucap Alice.


"Berhenti bersikap manis didepan orangtuaku!" Bisik Arkan yang duduk di samping Alice.


"Kenapa kau berbicara seperti itu sayang, aku ini istrimu." Balas Alice.


Akhirnya Meraka semua pun makan malam bersama seperti biasanya. Setelah selesai makan, Alice membuka suara.


Wanita itu membahas prihal ulang tahunnya yang ingin sekali ia rayakan sebentar lagi. Tentu saja, Siska dan Haris yang tidak merasa keberatan dengan permintaan sang menantu kesayangannya, mereka pun langsung saja menyetujui hal itu dan akan berencana mengadakan pesta besar-besaran untuk ulangtahun menantunya.


Melihat respon mertuanya yang sangat baik, Alice pun langsung berterimakasih banyak pada mereka.


"Kau sudah menikah, apakah pantas masih merayakan hal-hal seperti itu? seperti anak-anak saja!" Sambung Arkan.


"Biarkan saja Arkan, lagipula hal itu umum. Tidak hanya untuk anak-anak saja!" Ujar Siska.


"Ibu mu benar, Arkan. Lagipula biasanya saat aku ulangtahun pun pasti orangtuaku akan merayakannya." Ucap Alice.


"Oh ya sayang, Jangan lupa untuk mengundang teman-teman atau rekan kerja mu dikantor." Titah Alice lalu mengedipkan satu matanya.


"Tidak, itu sama sekali acara tidak penting. Aku tidak mau!" Tolak Arkan.


"Turuti saja apa kata istrimu, Arkan!" Seru Siska.


Arkan berdecak kesal, melihat sang ibu yang selalu terus membela istrinya.


Pria itu tanpa berkata-kata lagi ia bangun dari duduknya dan langsung melenggang pergi begitu saja.

__ADS_1


Alice yang masih duduk pun hanya bisa tersenyum miring melihat Arkan yang tak bisa membantah ibunya.


__ADS_2