
Akhirnya mereka pun sarapan pagi bersama. Tapi Arkan masih terlihat dengan pembawaannya yang dingin dan diam.
"Sayang, bukankah hari ini kau libur kekantor?" Tanya Alice seketika.
"Ya, Ada apa memangnya?" Tanya Arkan balik.
"Baguslah, aku ingin kau siang ini menemani ku untuk pergi membeli gaun." Ucap Alice dengan manja di hadapan kedua orangtua Arkan. Dia sengaja berbicara seperti itu.
"Apa, tidak, aku tidak bisa!" Tolak Arkan.
"Kenapa? padahal aku ingin kau memilih baju juga untuk acara ku nanti." Ujar Alice.
"Arkan, Arkan apa salahnya kau menemani istrimu. Toh lagian kau juga libur ke kantor!" Sambung Siska.
"Kenapa ibu selalu ikut campur?" Arkan menghela nafas panjang.
"Sudahlah Arkan, lagian ibu lihat juga kau sangat jarang ada waktu untuk pergi bersama istrimu." Kata Siska.
Rasanya Arkan ingin menyela, tapi seluruh kata yang ingin ia keluarkan tertahan dimulut.
"Arkan .....Arkan ....aku tahu, jika dihadapan orangtuamu pasti kau tidak akan membantah." Batin Alice.
Sepanjang perjalanan menuju Mall, Arkan tak banyak bicara. Dia hanya fokus pada kemudiannya saja.
"Kenapa wajahmu kecut begitu?" Tanya Alice memperhatikan.
Arkan hanya diam tak merespon pertanyaan istrinya.
"Cih....giliran pergi bersama istri sendiri saja rasanya seperti orang yang tidak ikhlas!" Ujar Alice.
__ADS_1
"Aku sedang tidak mood untuk beradu mulut denganmu, jadi diam lah!" Ucap Arkan.
Alice tertawa kecil. "Kau sangat lucu, suamiku!"
Arkan menghela nafas berat. "Hidupku semakin tak karuan saat kau masuk kedalamnya." Kata Arkan.
Alice begitu geram mendengar penuturan dari suaminya. Ingin sekali rasanya ia memenggal kepala Arkan, tapi apalah daya, Alice masih mempunyai hati nurani.
Tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai juga di salah satu mall terbesar dan ternama di kotanya.
Selama mereka menikah, baru ini lah pertama kalinya Alice dan Arkan pergi ke mall bersama.
Tidak seperti pada pasangan umumnya yang saling bergandengan, Arkan justru malah jalan lebih dulu tanpa memperdulikan Alice yang tertinggal dibelakang.
"Astaga gaun ini sangat bagus sekali, walaupun aku seorang desainer terkenal, tapi baru kali ini aku melihat gaun seperti ini!" Puji Alice saat melihat gaun putih bernuansa gold disalah satu toko branded.
"Ah cepatlah, jangan banyak cingcong!" Ujar Arkan.
"Bagaimana, apakah anda minat dengan gaun ini?" Tanya pelayan.
"Tentu saja, gaun ini terlihat elegan dan istimewa!" Jawab Alice begitu sumringah.
"Benar, karena gaun ini adalah gaun keluaran terbaru. Dan hanya ada tiga saja di negara kita." Kata Pelayan itu.
"Baiklah aku pilih itu saja!" Ucap Alice. Dan tak lupa juga ia membeli sepasang heels dengan warna senada.
Pembayaran yang harganya cukup menguras kantong namun bagi Alice tidak masalah.
Kebetulan ditempat yang sama tanpa disadari Laura juga ada di mall tersebut.
__ADS_1
Laura sedang berbelanja seorang diri dan ia tiba-tiba tak sengaja menangkap sosok yang tak asing baginya.
"Bukankah itu Arkan?" Tanya Laura pada diri sendiri.
Wanita itu tersenyum lalu ia langkah kakinya mendekati Arkan.
"Arkan......." Tegur Laura.
"Hah, Laura?" Ada perasaan sedikit kaget saat ia melihat Laura.
"Kau disini juga ternyata? dengan siapa?" Tanya Laura.
"Aku sudah selesai melakukan pembayarannya!" Ucap Alice datang tiba-tiba dari arah samping.
Laura terheran ketika melihat seorang wanita datang pada Arkan. Sebaliknya Alice, ia begitu heran dengan wanita yang ada didepan suaminya, apalagi melihat Arkan yang hanya diam mematung.
"Siapa wanita ini?" Tanya Alice setengah berbisik.
"Ah, iya ......ini adalah temanku waktu sekolah dulu!" Jawab Arkan dengan gugup.
"Benarkah?"
Alice menampilkan senyumnya ia lalu mengulurkan tangan dengan maksud ingin berkenalan.
"Perkenalkan, aku Alice istri dari Arkan!" Ucap Alice.
Laura seketika terdiam mendengar kata istri. Dia lalu menatap Arkan dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Arkan, jadi kau sudah menikah?" Tanya Laura.
__ADS_1
Arkan membuang nafas kasarnya. "Alice, sudahkan? ayo kita pulang sekarang!" Ucap Arkan tak menghiraukan pertanyaan dari Laura.
"Kenapa dingin seperti itu dengan teman lamamu? Em, bagaimana kalau kita makan bersama!" Tawar Alice pada Laura dan Arkan.