
Tanpa basa basi, Alice langsung saja meraih lengan Arkan dan Alina. Membawa mereka berdua naik keatas pentas.
Seketika Perhatian para tamu pun mulai mengarah pada mereka.
"Maafkan saya, para tamu-tamu yang terhormat. Saya ingin meminta waktunya untuk mengenalkan seseorang pada kalian." Ucap Alice tersenyum licik ke arah Arkan dan Alina yang saling diam.
"Perkenalkan, ini adalah Alina. Teman lamaku."
"Dan ini pasti kalian sudah tahu, dia Arkan suamiku." Timpal Alice.
"Alice mau apa kau, hentikan semuanya..." Pinta Arkan yang berdiri tepat disampingnya.
Alice tak menggubris, dia tetap melanjutkan ucapannya.
"Seperti yang kalian lihat tadi, hubunganku dengan suamiku begitu romantis bukan? ah....tapi kalian jangan salah paham, sebenarnya itu hanyalah sebuah drama." Jelas Alice.
"Suamiku tidak pernah mencintaiku. Bahkan selama usia pernikahan kami berjalan satu tahun, dia sama sekali tidak pernah mencintaiku juga."
Alina mendongakkan pandanganya, ia lagi-lagi tak menyangka dengan apa yang diucapkan Alice. Terlebih saat dirinya mendengar usia pernikahan Arkan dan Alice sudah berjalan satu tahun.
"Dan selama ini asal kalian tahu, ternyata selama ini suamiku telah berselingkuh dengan karyawan kantornya sendiri. Yang tak lain adalah Alina, teman lamaku." Alice kembali melirik ke arah Alina.
Para tamu yang hadir pun mulai saling berbisik satu sama lain. Membicarakan mereka dan terlihat juga tatapan beberapa tamu seolah tatapan yang tidak menyangka.
Arkan seketika membuang wajahnya, kebenaran tentang dirinya telah terungkap dan sekarang ia tak bisa lagi menutup-nutupinya.
Sementara Siska dan Haris yang ikut menyaksikan pun begitu tak menyangka dengan kelakuan anaknya sendiri.
"Kenapa kalian hanya diam dan malah terlihat tegang?" Tegur Alice.
"Alice....apa kau sengaja?" Tanya Arkan setengah berbisik.
"Aku tak paham dengan apa yang kau katakan, Sayang!" Ucap Alice dengan nada manja.
"Alice....katakan padaku yang sebenarnya, apakah benar semua ini?" Tanya Alina dengan wajah polos dan mata memerah.
"Benar Alina, Arkan adalah suamiku dan kau adalah si wanita jala*Ng yang telah berselingkuh dengan suamiku!" Gumam Alice.
Dada Alina begitu sesak mendengarnya, mulut tak dapat lagi berkata. Alina pun hanya bisa menundukkan wajahnya menahan malu dan menyembunyikan mata yang mulai memerah. Dia juga teringat pada pertemuannya dengan Alice beberapa hari yang lalu.
"Sungguh aku tidak menyangka, jika suamiku telah berselingkuh dengan temenku sendiri!" Ujar Alice tak lupa ia memasang wajah menyedihkan.
"Alice kau salah paham!" Sangkal Alina. "Aku dan Arkan tidak memiliki hubungan apa-apa!"
__ADS_1
"Apa katamu? tidak memiliki hubungan apapun?" Alice menyeringai.
Kemudian wanita itu memanggil Dirga. Dengan sigap Dirga pun langsung datang dan menyerahkan sesuatu.
"Aku bisa membuktikan semuanya, kalau suamiku memang benar berselingkuh dengan si jala*Ng ini!" Ujar Alice.
Dia lalu melemparkan beberapa lembar foto ke arah para tamu. Dan para tamu yang penasaran pun langsung mengambil foto tersebut.
Setelah melihat foto-foto tersebut, para tamu kembali berbisik satu sama lain. Menggunjing dan mencerca Arkan dan Alina.
Haris dan Siska yang juga melihat foto itu pun mereka turut begitu emosi dengan sikap anaknya. Terlihat Haris sudah mengepalkan tangannya dengan erat-erat sambil menatap tajam ke arah Arkan.
"Bagaimana Alina? apakah kau menikmati peranmu sebagai perusak rumah tangga orang?" Tanya Alice.
"Bukan begitu Alice, aku sama sekali tidak tahu jika Arkan sudah menikah dan ternyata kau istrinya! semua ini salah paham." Ucap Alina bersikeras menjelaskan yang sebenarnya.
Alice begitu geram mendengar ucapan Alina yang terus menyangkal. Wanita itu lalu melayangkan satu tamparan keras ke wajah Alina.
Plaaak......
Alina sontak merintih kesakitan, pipinya yang putih mulus seketika berubah menjadi merah jambu.
"Alice, cukup!" Sergah Arkan.
Sekuat tenaga Alina berusaha agar pertahanan air matanya tidak runtuh. Ia kembali menundukkan wajahnya, menyembunyikan sakit yang tidak bisa disembunyikan lewat wajah.
"Alina tidak salah apa-apa, Alice. Akulah yang bersalah disini, dari awal aku memang tidak jujur padanya kalau sebenarnya aku sudah menikah." Ucap Arkan.
Pria itu lalu menghela nafas panjang dan menghembuskan ya secara kasar.
"Jadi kau membela jala"*Ng ini?"
"Bukan begitu Alice, tapi memang benar dia tidak bersalah disini!"
"Cuih.....bukankah dari awal kau sudah ku peringati, Arkan?"
Arkan tak menggubris, dia malah meraih lengan Alina.
"Alina, aku akan menjelaskan semuanya padamu!" Ucap Arkan.
Alina masih diam mematung sambil memegangi pipinya yang terasa sakit akibat tamparan keras dari Alice.
Dan pada akhirnya tak terasa pertahanan air matanya kini runtuh membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
"Aku tidak butuh penjelasan mu." Lirih Alina menatap sinis Arkan.
Wanita itu kemudian berlari melewati para tamu-tamu undangan yang bersorak dan mencercanya.
Rasa malu dan sakit hati sungguh menusuk ke relung hati yang paling dalam. Hanya air mata yang terus berderai menemani setiap langkah wanita itu.
"Alina....Alina....mau kemana kau..." Teriak Arkan. Tapi Alina tak mengindahkannya.
Baru saja Arkan ingin melangkah, tiba-tiba lengannya di raih oleh sang ayah.
"Brengs*k!! kurang ajar!" Haris langsung melayangkan pukulan keras ke wajah Arkan.
Plaak.......
Alice, Siska dan para tamu pun begitu terkejut ketika melihat Haris melayangkan pukulan ke Arkan.
Seketika darah segar mulai mengucur dari sudut bibir Arkan.
Arkan hanya diam, menatap ayahnya dengan tatapan datar.
Pria itu lalu memilih melangkah pergi begitu saja, menyusul kepergian Alina tanpa menghiraukan panggilan dari orangtua dan istrinya.
"Arkan....mau kemana kau.....Arkan....." Panggil Haris berulang kali, tapi sama sekali tak dihiraukan.
Sampai kemudian nafas pria setengah baya itu tersengal-sengal, tangannya terus memegang dada dan akhirnya ia pun jatuh pingsan.
Semua orang yang ada disitu pun panik melihat Haris yang jatuh pingsan. Dengan sigap, Alice langsung menyuruh Dirga untuk membawa ayah mertuanya ke rumah sakit.
Melihat suaminya yang jatuh pingsan, Siska begitu merasa syok. Dia begitu murka dengan kelakuan anak semata wayangnya itu.
Sementara Alina, tangisnya begitu pecah. Dia terus berlari sekuat tenaga menjauh dari kediaman Arkan. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah taxi.
"Pak....pak..berhenti!" Pinta Alina.
Taxi pun berhenti, dan wanita itu langsung saja masuk. Duduk lalu menyandarkan kepalanya di jendela mobil.
Sepergiannya taxi yang ditumpangi Alina, Arkan baru saja muncul dengan nafas ngos-ngosan.
"Kemana dia pergi? kenapa cepat sekali menghilang?" Tanya Arkan pada diri sendiri.
Tiba-tiba ponsel yang didalam saku Arkan berdering, menandakan ada telpon masuk.
Pria itu lalu meraba saku celana nya dan melihat siapa yang menelpon, ternyata itu adalah Alice. Arkan lalu memilih untuk tidak mengangkat telpon itu, ia justru malah mematikan ponselnya.
__ADS_1
Arkan mengacak rambutnya dan terlihat begitu frustasi dengan situasi saat ini.