
Alina, wanita itu perlahan mulai sadar. Ia memperhatikan sekelilingnya yang tampak seperti di rumah sakit.
"Alina! Kau sudah sadar?" Tanya Nanda, yang duduk disebelah ranjang Alina.
"Nanda, kenapa aku disini?"
"Kau tadi jatuh pingsan, Alina."
"Hah, pingsan?"
"Alina, selamat atas kehamilan mu. Aku turut bahagia." Ucap Nanda tersenyum lebar.
Deeg.....
Alina langsung menatap Nanda dengan tatapan heran.
"Apa maksudmu itu, Nanda?" Tanya lagi Alina yang tak paham.
"Aish.....kau dinyatakan hamil, Alina. Kata Dokter tadi usia kandunganmu sudah memasuk empat Minggu."
Alina tercengang, Matanya membulat sambil menggeleng tak percaya dengan apa yang Nanda katakan.
"Itu tidak mungkin, Nan!" Lirih Alina. Tak terasa air mata menetes membasahi pipinya.
"Hah, tidak mungkin apanya? jelas-jelas kata Dokter tadi kau sedang mengandung."
Nanda malah berbalik heran melihat sikap Alina yang tidak gembira atas kabar kehamilannya.
"Alina, kenapa kau malah menangis, bukankah seharusnya kau bahagia?" Tanya Nanda heran. Tetapi Alina masih diam sambil menitihkan air mata.
Seketika keheranan Nanda terjawab dengan sendirinya, Nanda baru sadar bahwa sahabatnya itu belum menikah sampai saat ini. Jadi, anak siapakah yang dikandung sahabatnya itu?
"Nanda, tolong antarkan aku pulang!" Pinta Alina yang masih berurai air mata.
"Ta-tapi? ba-baik lah, ayo!"
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah tiba di kontrakan Alina.
"Terimakasih Nan, sudah mau mengantarku." Ucap Alina dengan wajah sendu.
"Baik sama-sama, apa perlu aku menemanimu?" Tanya Nanda yang iba melihat kondisi Alina.
"Tidak usah Nan, kau pulang saja." Tolak Alina.
"Tapi Alina, aku takut kau kenapa-kenapa, lihatlah, wajahmu sangat pucat." Ucap Nanda.
"Sudah tidak apa-apa, aku sudah baik-baik saja!" Alina memalsukan senyumannya.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu! kalau ada apa-apa, segera hubungi aku. Tidak usah sungkan!" Ujar Nanda.
Alina mengangguk.
Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin Nanda tanyakan pada sahabat nya itu, tapi melihat kondisi Alina yang seperti itu, Nanda mengurungkan niatnya.
Sampai mobil Nanda tak terlihat lagi dari pekarangan kontrakan, barulah Alina masuk ke dalam.
Alina memaksakan langkah nya menuju kamar, meski kakinya terasa sangat lemas. Ia duduk di tepi ranjang dan tak terasa air mata kembali tumpah.
"Haruskah aku memberitahu Arkan?"
"Tidak.. itu tidak mungkin." Alina menggeleng-gelengkan kepalanya.
______
Malam telah tiba, saat ini seperti biasanya keluarga Arkan sedang menikmati makan malam bersama. Akan tetapi Alice belum juga kelihatan sejak tadi.
"Arkan, dimana Alice?" Tanya Siska.
"Ah....Alice...tunggu sebentar, biar Arkan susul dulu!"
Arkan beranjak dari kursinya, lalu segera menuju ke kamar.
__ADS_1
Setibanya dikamar, Arkan mendapati Alice yang sedang duduk termenung di depan meja rias.
Arkan menghela nafas panjang terlebih dahulu, lalu berkata "Sayang, apa kau tidak makan malam?" Tanya Arkan.
"Aku sedang tidak mood makan!" Ujar Alice.
Seketika Alice memutar bola matanya ketika ia sadar Arkan barusan memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kenapa kau malah menatapku seperti itu? ayo keluar, kita makan malam bersama. Ayah dan ibu sudah menunggu sejak tadi!" Ucap Arkan dengan lembut.
Alice masih diam mematung, dalam hati bertanya-tanya malaikat manakah yang merasuk ke tubuh suaminya itu. Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah menjadi baik?
"Ayo!" Arkan mengulurkan satu tangannya.
Alice menghembuskan nafasnya pelan, ia lalu bangkit dari duduknya dan langsung menggenggam tangan Arkan.
Arkan menarikan kursi untuk Alice duduk, sontak hal itu membuat Alice dan kedua orangtua Arkan diam. Aneh saja, selama menikah baru kali pertama inilah Arkan bersikap seperti ini.
"Duduklah....." Pinta Arkan. Alice lalu duduk.
Arkan kemudian mengambilkan Alice nasi dan beberapa lauk pauk juga. "Nah ......makanlah, biar kau kenyang!" Ucap Arkan.
Alice menatap tak percaya, sama sekali heran dengan perubahan drastis suaminya. Suami yang selama ini selalu dingin terhadapnya.
"Kalau begini kan, ibu dan ayah senang melihatnya!" Ujar Siska tersenyum lebar.
Arkan hanya tersenyum mendengat ibunya berkata seperti itu.
Setelah selesai makan malam, Arkan dan Alice kembali lagi ke kamarnya.
Dikamar, Alice langsung saja melontarkan beberapa pertanyaan kepada Arkan.
"Aku tidak mengerti, kenapa sikapmu tiba-tiba berubah secepat itu?" Tanya Alice yang berada dibelakang Arkan.
Arkan membalikkan badannya, dan menampilkan senyuman tipis pada Alice.
__ADS_1
"Seharusnya kau senang jika aku berubah seperti itu," Jawab Arkan.
Alice mengernyitkan dahi, benar-benar bukan Arkan yang selama ini ia kenal.