
Tok....tok....tok.....
"Iya, silahkan masuk!" Ucap Arkan.
Arkan tersenyum, ia bangun dari duduknya saat melihat Alina yang masuk.
"Maaf menganggu waktumu, aku hanya ingin memberikan ini padamu!" Ujar Alina sambil menyodorkan kotak bekal diatas meja.
"Terimakasih Alina, kau baik sekali."
Alina tertunduk malu sambil tersenyum.
"Kau mau makan bersamaku?" Tawar Arkan.
"Tidak, aku hanya ingin mengantar ini saja. Lagi pula nanti ada yang melihat kita."
"Tidak usah khawatir tentang itu, ayo kita makan bersama." Arkan melangkah ke arah pintu lalu ia menguncinya.
Akhirnya mereka berdua pun makan bersama sambil suap-suapan.
Arkan begitu sangat merasa nyaman dan damai saat dirinya di samping Alina, sebaliknya saat ia di samping Alice istrinya sendiri, ia sama sekali tidak pernah merasakan kenyamanan.
Sementara Alice saat ini sedang duduk di ruangannya. Dia termenung sambil mengetuk-ngetuk jari tangan kirinya kemeja, itu adalah salah satu sifat Alice ketika berusaha bersabar menahan sesuatu.
"Dimatanya aku sama sekali tak berharga!" Ucap Alice tersenyum palsu.
"Baiklah Arkan, selama ini aku sudah menahan kesabaran ku. Tapi kau malah semena-mena terhadapku. Sebentar lagi aku akan memberimu dan jala*ngmu pelajaran." Kata Alice dengan tatapan tajam.
Didalam benaknya kini muncul sebuah rencana. Sore ini Alice berniat untuk menemui Alina saat jam pulangnya.
"Kita lihat saja!"
Sore menjelang malam, tepatnya pukul empat sore. Sudah sekitar lima belas menit lamanya Alice menunggu kepulangan Alina. Dan akhirnya batang hidung Alina pun terlihat juga. Di dalam mobilnya Alice menatap serius Alina yang keluar bersama suaminya.
"Aku akan mengantarmu pulang," Ucap Arkan.
"Tidak usah Arkan, aku naik taksi saja. Lagi pula aku mau mampir ke sesuatu tempat." Tolak Alina.
"Tapi Alina......"
"Sudahlah Arkan, aku tidak ingin terlalu merepotkan mu. Kau pulang saja!" Ujar Alina sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan." Kata Arkan.
Melihat Arkan yang sudah berlalu pergi dan Alina yang sudah naik taksi, Alice langsung saja mengikuti kemana arah tujuan taksi tersebut.
Beberapa saat kemudian Taksi yang ditumpangi oleh Alina ternyata berhenti di salah satu supermarket.
Yah, Alina memang akan pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan dapurnya yang sudah habis.
Begitu melihat Alina yang masuk ke dalam supermarket, Alice pun juga ikut masuk.
Dan saat melihat Alina yang sedang sibuk memilih kebutuhannya, Alice langsung dengan sengaja menabrakkan dirinya.
__ADS_1
"Aw.....maafkan aku!" Ucap Alice.
"Tidak apa-apa!" Ujar Alina sambil membungkukkan badannya mengambil benda yang jatuh.
Saat Alina menegakkan pandangannya, ia begitu terkejut karena melihat wanita yang didepannya itu ternyata adalah Alice, teman sekelasnya waktu sekolah dulu.
"Alice.....kau....."
"Hah, A-alina?" Alice seolah menunjukan sikap yang sama terkejutnya.
Alina terdiam sejenak sambil memandangi Alice dengan mata yang berkaca-kaca, ia teringat akan masa lalunya waktu sekolah dulu dimana Alice terus saja membully dirinya.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di cafe yang tak jauh dari supermarket. Dihadapan meja bundar yang memamerkan dua cangkir kopi.
Duduk berhadapan dan saling menundukkan pandangan. Rasa canggung jelas terlihat dari wajah Alina, tapi tidak dengan Alice. Didalam hati Alice sangat begitu senang karena Alina sebentar lagi akan jatuh ke dalam permainannya.
"Bagaimana dengan kabarmu?" Tanya Alina.
"Baik-baik saja!" Jawab Alice. "Kau sendiri bagaimana?"
"Em....aku juga baik-baik saja."
"Maafkan aku, Alina!" Ucap Alice.
Alina menegakkan pandangnya seraya bertanya pada Alice. "Maaf untuk apa?"
"Maaf karena dulu aku telah jahat padamu." Jawab Alice.
"Untuk apa kau meminta maaf sekarang, Alice." Tanya Alina masih menunjukan ekspresi datar.
"Aku tau aku sudah terlambat untuk meminta maaf, Alina. Tapi sungguh! Dari lubuk hati ku yang terdalam aku benar-benar telah menyesali perbuatan jahat ku padamu." Alice memasang ekspresi bersungguh-sungguh.
Alice meraih tangan Alina, mengusapnya dengan lembut. "Alina, aku mohon maafkan aku." Alice memasang wajah melas.
"Cuih! Menjijikan sekali aku harus memegang tangan ****** ini." Gerutu Alice dalam hati.
"Aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kau meminta maaf, Alice. Dan aku sudah melupakan kejadian yang lalu." Tutur Alina.
"Benarkah?" Tanya Alice dengan mata yang berbinar-binar.
"Tentu saja, Alice."
"Kau memang wanita berhati lembut seperti kapas, Alina." Puji Alice
"Huekk.. kalau bukan karena rencana ku, tidak sudi aku memuji wanita murahan seperti dirimu." Batin Alice.
Alina tersenyum simpul mendengar pujian dari Alice.
Alice memiringkan senyumnya.
"Sebentar lagi kau akan masuk kedalam perangkap ku, tikus kecil! Ha...haha..." Alice tertawa di dalam hatinya.
Alina mulai meminum kopi yang sejak tadi berdiam diri ditengah-tengah percakapan mereka. Ia rasakan pahit dan manis yang begitu pas. Kini sepasang mata mereka saling bertukar sorotan.
__ADS_1
"Alina, apa kau sudah menikah?" Tanya Alice.
Alina tersenyum simpul, "Aku belum menikah."
"Yang benar? Kau sangat cantik mustahil tidak ada laki-laki yang mendekati mu." Tanya Alice lebih lanjut.
Alina lagi-lagi hanya menunjukan senyumannya.
"Ah, sungguh aku tidak percaya, pasti banyak kan yang mendekatimu? secara kau sangat cantik, Alina." Puji Alice, ia sengaja berkata seperti itu agar Alina mau memberitahunya.
"Kau benar, sebenarnya aku sedang dekat dengan seorang pria." Ujar Alina. Wajahnya tak berhenti tersenyum.
Alice mengerutkan keningnya.
"Benarkah? Pasti pria itu sangat beruntung bisa mendapatkan mu." Ujar Alice.
"Kau benar, kami saling menyayangi satu sama lain tapi entahlah pria itu tidak pernah mengutarakan perasaan nya sampai sekarang."
Alice mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ingin sekali rasanya dia menjambak rambut wanita di hadapannya ini, tapi dia harus sabar, tidak ingin terbawa emosi hingga bisa menghancurkan rencananya.
"Alice, kenapa kau melamun?" Tanya Alina.
"Ahh.. tidak apa-apa."
"Sialan! Yang kau maksud pria itu adalah suamiku." Umpat Alice dalam hati.
" Alice tenang.. kau tidak boleh gegabah."
"Maaf Alice, aku jadi menceritakan masalah pribadi ku." Sesal Alina.
"Tidak usah sungkan, lain kali jika ada masalah cerita saja ke aku, aku siap mendengarkan mu." Ujar Alice.
"Maaf jika aku merepotkan mu, Alice." Ucap Alina sambil menunjukan senyum ramah nya.
"Lalu bagaimana dengan mu, apa kau sudah menikah?" Tanya Alina.
"Aku tentu saja sudah menikah, tapi.." Alice menggantung kata-katanya.
Alina menaikan satu alisnya. "Tapi apa?" Tanya Alina penasaran.
Alice mengeluarkan jurus air mata buayanya.
"Hei Alice, apa yang terjadi ? Kenapa kau menangis?"
Alice makin menangis menjadi-jadi hingga menarik pusat perhatian beberapa orang.
Alina yang panik hanya bisa menenangkan teman lama nya itu.
Alina mengusap-usap lembut bahu alice.
"Maafkan aku, Alice aku tidak bermaksud membuat mu seperti ini."
"Tidak apa-apa, Alina ini bukan salahmu." Alice menyeka air matanya.
__ADS_1
"Hanya saja terlalu sakit untuk di ceritakan."