
Cih....itu semua tidak penting, Arkan!"
"Baiklah, kuakui aku memang berselingkuh dari mu. Lantas apa mau mu sekarang?" Tanya Arkan.
"Apakah alasannya karena kita tidak saling mencintai?" Tanya balik Alice.
"Sepertinya begitu,......" Jawab Arkan dengan santai.
Alice menghela nafas berat, lalu melangkah lebih dekat lagi ke arah Arkan.
Dia tiba-tiba langsung melayangkan satu tamparan keras ke wajah suaminya sendiri.
Plaaak.......
"Brengsek!" Umpat Alice.
Arkan sejenak memejamkan matanya. lalu ia menghela nafas panjang.
"Sampai sejauh mana hubungan kalian?" Tanya Alice lebih lanjut dengan amarah yang sudah membara.
"Aku sudah tidur dengannya." Jawab Arkan.
Alice dengan geram menarik kerah baju Arkan.
"Meskipun kita menikah karena perjodohan, tapi tidak sepantasnya kau mengkhianati rumah tangga kita." Kata Alice.
"Aku tahu, tapi aku sangat mencintainya. Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Arkan tersenyum tipis.
"Tinggalkan wanita itu atau......"
"Atau apa?"
"Atau kau akan tahu sendiri akibatnya." Ucap Alice sambil melepaskan kerah baju Arkan dengan kasar.
"Aku tidak peduli dengan ancaman mu itu!" Ujar Arkan lalu berlalu begitu saja meninggalkan Alice.
"Arkan .......Arkan....mau kemana kau!" Teriak Alice tapi tak dihiraukan oleh Arkan yang melangkah keluar kamar.
Alice lalu mengepalkan kedua tangannya, menatap langkah Arkan dengan penuh kekesalan.
__ADS_1
"Kau selalu meremehkan ku, awas saja kau Arkan. Lihat saja nanti, aku akan membuat hidupmu menyesal!" Lirih Alice.
****
Keesokan harinya.
"Aku ingin kau mencaritahu informasi tentang wanita yang sekarang sedang dekat dengan Arkan. Secepatnya!" Titah Alice pada Dirga.
"Baik, nyonya. Saya akan segera mencarinya." Kata Dirga lalu berlalu begitu saja.
Sementara saat siang hari di kantor, Arkan tak sengaja melihat Alina sedang mengobrol bersama dengan Raka. Melihat itu, dia pun langsung saja menghampiri Alina dan Raka.
Alina dan Raka terdiam saat Arkan menghampirinya dengan wajah datar.
"Arkan....." Lirih Alina.
"Aku ingin bicara denganmu." Ucap Arkan sambil menatap Raka seolah memberi kode agar Raka pergi.
Raka yang sudah peka pun akhirnya memilih untuk pergi saja.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Alina.
"Alina, nanti pulang aku ingin mengajakmu untuk makan bersama." Jawab Arkan.
Sore harinya, mereka pergi dalam satu mobil yang sama. Sepanjang jalan menuju tempat makan, Arkan tak banyak bicara dan hanya fokus pada kemudinya saja.
Hal itu pun membuat Alina bertanya-tanya dalam hati, mengapa sikap Arkan tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai pun sudah sampai disalah satu restoran mewah dibibir pantai.
Arkan membukakan pintu mobil untuk Alina. Lalu mereka berdua melangkah masuk ke dalam restoran tersebut.
"Kenapa kau dari tadi hanya diam saja?" Tanya Alina.
"Ah tidak.....tidak apa-apa!" Jawab Arkan sambil menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya ada hal yang ingin ku katakan, tapi entah kenapa aku tidak bisa mengatakannya." Batin Arkan sambil menatap nanar Alina.
"Oh, aku kira ada apa."
__ADS_1
"Makalah, biar kau kenyang!" Ucap Arkan.
Beberapa saat kemudian tak terasa hari sudah malam. Arkan pun segera mengantarkan Alina pulang.
Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit, mobil yang dikendarai pun telah tiba di halaman rumah kontrakan Alina.
"Terimakasih, karena kau sudah mengajakku untuk makan sekaligus mengantarku pulang." Ucap Alina.
"Baik, sama-sama." Ujar Arkan.
"Apa kau tidak mampir dulu?" Tanya Alina.
"Tidak usah, lain kali saja." Jawab Arkan tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan." Kata Alina.
Saat Arkan hendak masuk kembali ke dalam mobilnya, tiba-tiba saja Alina langsung meraih lengannya.
"Tunggu, Arkan!" Pinta Alina.
Arkan berbalik badan lalu menatap Alina dengan penuh tanda tanya.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan!" Ucap Alina.
"Apa itu?" Tanya Arkan.
Sejenak Alina diam sambil menundukkan pandangannya. Dia menarik nafas lalu membuangnya perlahan.
"Kita sedang berpacaran kan?" Tanya Alina tak berani menatap Arkan.
"Em...tapi kau selama ini tidak pernah mengajakku berpacaran, atau menyatakan perasaanmu. Aku takut, aku salah paham." Sambung Alina dengan gugupnya.
Arkan termangu ketika mendengar ucapan Alina. Bibirnya seketika tergagap, ia tak bisa berkata satu huruf pun dan hanya menatap Alina dengan mematung.
"Aku menyukaimu, aku menyukaimu dari awal. Sejak pertama aku masuk kerja dan berjumpa denganmu, tidak kurasa aku menyukaimu sejak kau menolongku saat kecelakaan waktu itu." Kata Alina.
Arkan mulai mengingat kembali saat beberapa bulan yang lalu, ia memang pernah menolong Alina yang sedang mengalami kecelakaan. Alina sendiri waktu itu hendak melamar pekerjaan.
"Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaan ini. Kau dan aku memiliki banyak kesamaan dan kau selalu ada di sisiku saat aku mengalami masa sulit. Kau juga selalu membuatku nyaman, jadi aku pikir kita cocok." Jelas Alina dengan penuh keberanian.
__ADS_1
"Hanya itu yang ingin kau katakan?" Tanya Arkan.
"Aku hanya ingin meminta kepastian mu saja tentang hubungan yang kurang jelas ini." Jawab Alina.