
Hari ini cuaca tampak begitu cerah. Alina yang bangun dari tidur nyenyak nya pun kini sudah merasakan tubuhnya membaik.
Dia beranjak dari ranjang dan langsung menuju ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Alina sudah berpenampilan rapi karena sebentar lagi ia akan berangkat bekerja.
Untuk sarapan pagi agar perutnya tidak kosong, Alina hanya membawa bekal roti dan air putih saja.
Sementara di kediaman Arkan, pagi ini suami istri itu kembali beradu mulut di dalam kamar dengan masalah yang sama.
"Aku sudah memperingati mu, jauhi wanita jala*Ng itu!" Ucap Alice dengan mata tajamnya.
"Kenapa kau begini, bukankah sudah ku katakan kita menikah hanya karena perjodohan dan kau tak berhak mengatur-atur hidupku!" Balas Arkan.
Alice mendadak membuang pandangannya, ucapan Arkan ada benarnya juga mereka menikah karena perjodohan jadi wajar saja jika Arkan bersikap seperti itu. Tapi entah kenapa saat Arkan berselingkuh, hati Alice terasa bagaikan digores serpihan kaca.
Arkan kemudian melangkah pergi meninggalkan Alice yang hanya diam mematung.
Setibanya di kantor, saat Arkan sedang berjalan di lobby ia tak sengaja melihat Alina yang sedang mengepel lantai. Langsung saja ia menghampirinya.
"Alina....." Sapa Arkan.
"A-Arkan......" Alina menghentikan aktivitasnya.
"Kau sudah masuk kerja saja, apa kau sudah membaik?" Tanya Arkan.
Alina mengangguk. "Iya, aku sudah membaik sekarang."
Arkan menghela nafas panjang, ia begitu lega mendengar jawaban dari Alina.
"Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya!" Kata Arkan.
"Oh ya Alina, nanti saat pulang apa kau punya waktu sebentar?" Tanya lagi Arkan.
"Kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu makan bersama nanti!" Ucap Arkan.
"Maafkan aku, Arkan. Bukannya tidak bisa, tapi sore nanti aku ada janji bertemu dengan temanku." Tolak Alina secara halus.
"Temanmu, siapa?"
"Ah....iya dia teman lamaku, namanya....." Belum habis Alina berbicara tiba-tiba Delia datang menghampiri.
"Arkan......" Panggil Delia.
Sontak Arkan dan Alina langsung menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" Tanya Arkan singkat.
"Klien kemarin yang kau batalkan, hari ini dia meminta bertemu kembali denganmu pukul sepuluh nanti." Ucap Delia.
__ADS_1
"Baiklah, beritahu dia, aku akan menemuinya." Kata Arkan.
"Alina .....aku ke keruangan ku dulu." Ucap Arkan lalu melangkah pergi dengan diikuti Delia dibelakangnya. Terlihat tatapan Delia begitu sinis menatap Alina.
Sementara Alice kini sedang berada di butiknya dengan ditemani oleh Dirga.
Wanita itu duduk sambil menatap lurus ke arah depan. Sebuah rasa sakit sudah tak bisa diungkapkan, tapi ia memilih untuk diam sekarang. Membalas dengan elegan baik untuk Alina ataupun Arkan.
Sore harinya, Alice dan Alina kembali bertemu di salah satu kedai kopi di pinggiran kota. Sebelumnya memang Alice lah yang menghubungi Alina lebih dulu untuk mengajak bertemu.
"Kenapa mendadak ingin bertemu?" Tanya Alina.
"Tidak apa-apa, Alina. Aku hanya ingin mengajakmu makan saja." Jawab Alice.
"Benarkah?"
"Ayo makanlah!"
Setelah selesai makan, Alina dan Alice tak langsung pulang melainkan mereka mengobrol bersama.
"Bagaimana hubunganmu dengan pria itu apakah dia sudah mengutarakan perasaannya?" Tanya Alice seketika.
Alina menggeleng. "Aku lupa bilang padamu."
"Apa?"
"Pria yang dekat denganku.....dia hanya menganggap aku sebagai teman saja selama ini." Ucap Alina tersenyum tipis.
"Kenapa begitu, bukankah banyak hal yang telah kau lalui bersamanya?" Tanya Alice lebih lanjut.
"Banyak hal yang telah kalian lalui bersama? cih.....dasar wanita murahan!" Batin Alice.
"Tapi Alice yang membuatku bingung adalah dia menganggap ku sebagai teman tapi kenapa perhatiannya lebih dari teman?"
"Ah.....mungkin saja kau adalah mainan baginya dan dia tidak ingin terikat denganmu untuk sebuah hubungan yang lebih serius." Ucap Alice tanpa sadar dia berkata seperti itu.
Alina terdiam sejenak ketika mendengar ucapan Alice.
"Tidak mungkin, dia adalah pria yang baik. Mana mungkin dia Setega itu menjadikan ku mainannya." Bantah Alina.
"Kau masih saja lugu, Alina." Ujar Alice.
"Apa maksudmu?" Tanya Alina tak paham.
"Apakah hubunganmu dengan dia sudah sampai ke hubungan ****?" Tanya Alice, pura-pura belum tahu. "Jujurlah Alina, tidak apa-apa."
Alina menundukkan pandangannya, sambil tersipu malu ia mengatakan yang sebenarnya.
"Ya, aku memang sudah pernah berhubungan **** dengannya!" Ucap Alina pelan.
Mendengar itu Hati Alice semakin panas, tapi wanita itu berusaha menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Dasar wanita tidak tahu malu, lihat saja nanti aku akan memberi mu pelajaran!" Batin Alice.
"Kau berhubungan **** dengannya tapi setelah itu kau hanya dianggap teman?" Alice tertawa kecil.
"Mengapa kau malah tertawa?" Tanya Alina.
"Jelas saja Alina, berarti dia hanya mempermainkan mu saja. Dan juga berarti dia hanya ingin menikmati tubuhmu saja!" Jelas Alice.
Alina diam mematung, apa yang diucapkan Alice ternyata ada benarnya juga. Arkan sudah menikmati tubuhnya tapi setelah itu Alina hanya dianggap sebagai teman saja tidak lebih.
"Lupakan saja!" Ujar Alina.
"Kalau kau sendiri bagaimana? apakah hubunganmu dengan suamimu sudah membaik?" Tanya Alina.
"Masih sama seperti sebelumnya, dia masih dekat dengan wanita jala*Ng itu. Padahal aku sudah berulang kali memperingatinya tapi ia sama sekali tak menggubris apa yang aku katakan." Jelas Alice.
"Hah, lalu bagaimana?"
"Aku tinggal menunggu sebentar lagi, dimana aku akan memberikan pelajaran bagi jala*Ng itu ataupun suamiku." Ucap Alice dengan senyum menyeringai.
"Aku lega mendengarnya, wanita seperti itu memang harus diberi pelajaran!" Kata Alina.
"Iya tunggu saja, tunggu nasib burukmu, Alina!"
Matahari semakin tenggelam, membuat suasana sedikit demi sedikit berubah menjadi gelap. Tak terasa mereka mengobrol sudah menghabiskan waktu setengah jam. Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk pulang.
"Alina, tunggu...." Pinta Alice saat Alina hendak bangun dari duduknya.
" Ada apa, Alice?"
"Ini untukmu!" Alice menyodorkan sebuah paper bag.
"A-apa ini?" Tanya Alina.
"Itu gaun dan heels." Jawab Alice.
"Hah?! kenapa kau memberikan ini?" Alina sedikit terkejut.
"Aku mau kau memakai itu saat datang ke acara pesta ulang tahunku besok lusa." Kata Alice.
"Ta-tapi ini, ini gaun mahal, mana mungkin......" Alina terbata-bata.
"Sudahlah tidak apa-apa, Alina. Intinya kau harus memakai pemberianku nanti."
"Kalau begitu baiklah, terimakasih Alice." Ucap Alina tersenyum lebar.
"Baik, sama-sama."
Huft......
Kini Alice sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Terlihat sejak tadi raut wajahnya begitu bahagia sehingga membuat Dirga yang menyetir keheranan.
__ADS_1
"Ada apa nyonya, tidak biasanya nyonya seperti ini?" Tanya Dirga.
"Entahlah, tapi aku sangat senang sore ini. Jala*Ng itu sebentar lagi akan malu!" Ucap Alice.