Dihamili Pria Beristri

Dihamili Pria Beristri
33. Hamil


__ADS_3

Tapi di satu sisi Alice juga merasa bersyukur karena hubungannya dengan Arkan sudah membaik.


Sementara di kontrakan Alina, wanita itu tampak menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang sekarang menimpanya. Karena merasa lelah hati dan juga pikiran akhirnya Alina pun tertidur.


Keesokan harinya, Alina terbangun dari tidurnya dengan mata yang terlihat begitu bengkak akibat menangis semalaman.


Alina beranjak dari ranjang, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Setelah keluar dari kamar mandi, Alina duduk terlebih dahulu di depan meja riasnya.


Dia menatap pantulan dirinya sendiri, melihat mata yang benar-benar begitu bengkak. Alina menghembuskan nafasnya kasar lalu berkata, "Aku harus memberitahu Arkan, karena ini juga darah dagingnya!" Ucap Alina, kemudian meraih ponselnya yang berada diatas nakas.


"Arkan... Aku ingin kita bertemu siang ini di Cafe. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Alina mengirim pesan singkat kepada Arkan.


Arkan yang mendapat pesan dari Alina seketika wajahnya terlihat bahagia karena Alina sudah ingin bertemu dengan dirinya.


"Kenapa senyum-senyum begitu, mas?" Tanya Alice tiba-tiba membuat Arkan kaget.


"Ah..ini perusahan xxx ingin bekerja sama dengan perusahaan ku." Bohong Arkan.


"Benarkah? Wah aku ikut senang mendengarnya, Mas!" Ujar Alice dengan senyum mengambang. Hampir saja ia menaruh curiga pada suaminya itu, tapi ia segera menepisnya karena ia pikir Arkan sudah berubah.

__ADS_1


Huft........


Singkat cerita, kini Arkan dan Alina sudah berada diCafe.


Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah tampan milik Arkan.


Arkan terus menatap wanita di depannya dengan tatapan penuh kerinduan, ingin rasanya Arkan memeluk Alina tapi niatnya dia urungkan karena di sekelilingnya ramai oleh orang-orang. Tatapan mata Arkan tak berkedip, ia sungguh merindukan Alina saat ini.


Berbeda dengan Alina, ia menatap Arkan dengan tatapan datar. Tak ada sedikit senyuman pun yang ia perlihatkan untuk Arkan.


"Alina... Kenapa diam saja, bukankah kau ingin membicarakan sesuatu dengan ku?" Tanya Arkan terdengar begitu lembut dan halus.


"Alina...kenapa kau melamun?" Tanya Arkan lagi.


Alina mengalihkan pandangannya, menatap dalam dua mata indah yang selama ini dia rindukan.


"Aku hamil!" Ucap Alina begitu membuat Arkan terkejut.


Arkan seketika terdiam lalu pria tersebut menyunggingkan senyumnya.


Alina mengerutkan dahinya, dia begitu heran dengan reaksi Arkan yang terlihat biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Benarkah?" Ucap Arkan dengan mata yang berbinar-binar.


"Untuk apa aku bohong, Arkan. Tapi jika kau tidak mau menerima anak ini tak apa, aku bisa membesarkan anak ini sendiri. Lagi pula aku sadar, aku hanyalah---" Belum habis Serina berbicara, Arkan langsung memotongnya.


"Shutt.... Aku bahagia memiliki anak dari rahim mu. Mari kita membesarkan anak ini bersama dengan sepenuh hati! ." Ucap Arkan masih terdengar lembut.


"Semudah itu kah? Lalu bagaimana dengan istrimu, Alice?" Tanya Alina dengan nada penekanan.


"Alina... Aku sudah bilang , aku hanya mencintai mu, hanya kau yang ada di hatiku. Masalah Alice, aku sama sekali tidak mencintainya bahkan aku tidak pernah menyentuhnya." Tutur Arkan.


"Aku dan Alice menikah hanya karena perjodohan. Tolong.. percayalah padaku, Alina!" Pinta Arkan.


"Bukan begitu, maksudku bagaimana jika Alice tahu jika aku sedang hamil anakmu?"


"Jangan pikirkan hal itu. Aku yakin dia tidak akan marah." Jelas Arkan.


"Tapi tetap saja, dia istrimu."


Arkan menghela nafas panjang.


"Alice... Hanya membutuhkan perhatian dari ku karena sejak dia kecil dia tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya. Aku bisa memberikan Alice perhatian tapi tidak dengan hatiku, hatiku hanya milik kau seorang, Alina!" Jelas lagi Arkan.

__ADS_1


__ADS_2