
Sebenarnya apa yang terjadi, Alice?" Tanya Kembali Alina saat melihat Alice yang sudah tenang.
Alice menghela nafas panjang, ia kemudian menceritakan pada Alina apa yang sedang ia alami sekarang.
"Suamiku, suamiku telah mengkhianati ku, Alina." Ucap Alice, tak lupa ia memasang kembali wajah melasnya.
"Hah, apa? suamimu berkhianat?" Alina sedikit kaget mendengarnya.
Alice mengangguk pelan. "Benar Alina, dia telah berselingkuh dengan seorang jala*Ng yang tidak tahu diri."
"Suamimu sungguh keterlaluan, Alice. Wanita secantik dirimu bisa-bisanya di khianati."
"Cuih.. bukan kah ****** nya itu adalah kau." Lagi-lagi Alice hanya bisa menggerutu di dalam hati.
"Apakah sebelumnya kau sudah menemui wanita pelakor itu?" Tanya Alina.
"Belum Alina, tapi sekarang aku berencana untuk menemui selingkuhan suamiku nanti, saat waktu yang tepat." Ucap Alice sambil menampilkan senyum liciknya.
"Itu rencana yang bagus, Alice. Jangan biarkan para pelakor itu merebut suamimu."
"Benarkah itu ide yang bagus?" Tanya Alice, sambil menatap lekat wajah Alina.
Alina yang ditatap oleh alice menjadi salah tingkah.
"I-itu benar, Alice." Ucap Alina.
Alice tersenyum miring.
"Alina, jika kau tidak keberatan datang lah ke acara ultah ku Minggu depan." Pinta Alice.
"Alice, apa kau tidak berlebihan?" Tanya Alina.
"Tidak Alina, kau teman lamaku. Jadi aku berharap kau datang saat ulangtahun ku nanti." Ujar Alice. "Ayolah Alina, datanglah untukku!"
Alina tersenyum, dia lalu mengangguk mengiyakan permintaan dari Alice. "Baiklah, aku akan datang nanti."
"Benarkah? baiklah kalau begitu, terimakasih. Aku sangat senang jika kau datang!" Ucap Alice dengan senyum smirk nya.
Tak terasa hari sudah mulai gelap, setelah berbincang-bincang panjang lebar akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang.
"Alina biar ku antar." Tawar Alice.
"Alice kau tidak perlu repot-repot."
"Sudahlah Alina, Anggap saja ini menebus kesalahanku di masa lalu."
__ADS_1
Alina tersenyum lalu wanita itu mengiyakan tawaran alice.
Alina kini sudah berada di dalam mobil milik Alice, Alice melajukan mobil nya menuju rumah Alina dengan di bantu petunjuk dari Alina.
"Alina apakah ini rumah mu?" Tanya Alice ketika sudah sampai di depan kontrakan Alina.
"Benar, aku mengontrak disini." Ucap Alina jujur. " Apa kau mau mampir dulu?" Tanya Alina.
"Ahh lain kali saja, aku harus segera pulang karena ada urusan."
"Baiklah kalau begitu, terimakasih banyak karena kau sudah mau mengantarku!" Kata Alina.
"Baik sama-sama Alina, kalau begitu aku pulang dulu ya!"
"Baiklah hati-hati dijalan!"
Alice kemudian berlalu begitu saja sampai mobil Alice tak terlihat barulah Alina melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Lama tak bertemu dia semakin cantik. Tapi kenapa suaminya tega berkhianat!" Ucap Alina pada diri sendiri.
Tepat pukul 7 malam Alice baru menginjakkan kakinya di rumah.
Saat melewati ruang tamu, dia meliat arkan yang sedang mondar mandir seperti menunggu seseorang.
Alice hanya tersenyum-senyum lebar tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya.
Wanita itu berlalu begitu saja, karena saking bahagianya.
"Alice! Aku sedang bicara padamu." Arkan menarik tangan Alice.
Alice melirik tangannya yang di genggam oleh Arkan.
"Memangnya ada apa? Apa kau sedang menunggu ku?"
"Cih! Jangan harap aku menunggu mu itu hanya membuang-buang waktu, apapun yang kau lakukan aku bahkan tidak peduli." Ujar Arkan.
"Oh, ya." Alice menghempaskan tangan Arkan dengan kasar lalu wanita itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Alice... Alice..." Teriak Arkan, tapi tetap saja Alice tidak mengherankan panggilan dari Arkan. Hatinya terlalu bahagia karena rencananya menjebak selingkuhan suaminya berhasil.
"Seperti ada sesuatu yang mencurigakan padanya." Batin Arkan.
Sementara itu Arkan berniat untuk pergi ke kontrakan Alina, entah mengapa pria itu merasa rindu dengan wanita itu.
Arkan sudah memasuki mobilnya dan perlahan meninggalkan pekarangan rumah, Alice menatap tajam dari atas balkon kamarnya.
__ADS_1
"Pasti kau akan menemui selingkuhan mu itu," ujar Alice. "Liat saja Alina.. Arkan aku akan mempermalukan kalian." Ucap Alice dengan mata yang sudah berkobar-kobar.
Di pertengahan jalan, ponsel Arkan berdering tanda panggilan masuk, pria itu mengambil ponselnya dari saku celana dan melihat siapa yang menghubunginya.
Pria itu dengan kesal mengangkat telpon tersebut.
"Katakan! Ada apa?" Tanya Arkan.
"Segeralah kemari!" Ujar pria di balik telepon
"Untuk apa aku kesana?" Tanya Arkan lagi.
"Sudahlah, nanti kau juga akan tahu sendiri." Ujar Raka lalu pria itu menutup teleponnya.
"****!" Umpat Arkan.
Arkan mau tidak mau harus memutar balik mobilnya menuju ke arah Bar yang berada ditengah kota.
Setibanya di Bar, Arkan langsung melangkah masuk dan menghampiri Raka yang sedang duduk.
"Ada apa kau menyuruhku kesini?!" Tanya Raka.
"Arkan akhirnya kau kesini juga," Ucap Raka tersenyum..
"Arkan, apa kabar?" Tanya seorang wanita yang suaranya tak asing bagi Arkan.
Arkan lalu menoleh ke arah samping dan ia melihat ada Laura yang sedang berdiri.
" Hah, Laura?" Arkan begitu kaget.
"Nah, tadi kebetulan aku tidak sengaja bertemu dengannya disini. Jadi sekarang silahkan nikmati pertemuan kalian." Bisik Raka lalu melenggang pergi.
Yah, Laura sendiri adalah sahabat Arkan waktu dulu mereka sekolah. Mereka sudah bersahabat cukup lama sehingga Arkan mulai muncul benih-benih cintanya terhadap Laura. Pada saat hari kelulusan sekolah, Arkan dengan percaya dirinya ia mengungkapkan perasaannya pada Laura. Akan tetapi Laura menolaknya dengan alasan ia ingin fokus mengejar karir diluar negeri.
Semenjak saat itulah mereka hilang kontak dan tidak pernah bertemu kembali. Dan malam ini, mereka pun dipertemukan kembali di sebuah Bar.
"Kenapa hanya diam saja, bagaimana dengan kabarmu? kau belum menjawabnya dari tadi." Ucap Laura.
"Em....baik-baik saja!" Arkan mengangguk.
"Sudah lama ya kita tidak bertemu. Dan Kau terlihat semakin berbeda sekarang." Kata Laura.
"Sudah dari kapan kau kembali?" Tanya Arkan tak menghiraukan perkataan Laura yang sebelumnya.
"Aku....aku baru saja semingguan ini." Jawab Laura.
__ADS_1