
Arkan lalu memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, Arkan masih mendapati suasana rumah yang begitu hening dan sepi. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.
Perlahan dia melangkahkan kaki menuju ke arah tangga, berniat untuk menuju ke kamar. Tapi baru saja akan melangkah menaiki anak tangga, dia dikagetkan dengan suara Alice.
"Baru pulang, kemana saja kau?" Tegur Alice, yang ternyata sejak tadi sudah duduk di sofa ruang tengah menunggu kepulangan Arkan.
Arkan terdiam mematung, dia menatap Alice dengan tatapan datar.
Alice beranjak dari sofa, dengan kedua tangan dilipat di dada ia mendekat ke arah Arkan.
"Arkan.." Panggil Alice ketika melihat Arkan.
Alice merasa prihatin melihat penampilan suaminya yang terlihat acak-acakan.
Wanita itu lalu mencoba meraih tangan Arkan, tapi dengan cepat Arkan menghindari Alice.
"Apa kau sudah puas sekarang?" Tanya Arkan dengan pembawaan yang dingin.
"Bukan begitu maksudku, Arkan.
"Lalu apa, Alice? Kenapa kau membuat semua kekacauan ini!!" Teriak Arkan, pria itu menatap nyalang wanita di hadapannya.
"Apa katamu barusan? Arkan, bukankah kau sudah ku peringati sebelumnya? lantas kenapa kau masih saja..." Arkan langsung memotong ucapan Alice.
"Masih saja apa, Alice? masih saja apa?!" Teriak Arkan dengan lantang hingga membuat para pelayan dirumah itu berdatangan untuk mengintip.
__ADS_1
Alice sedikit kaget mendengar bentakan sekaligus teriakan dari Arkan, kedua mata wanita itu langsung berkaca-kaca.
"Kenapa kau lebih membela jala*Ng itu, Arkan?" Tanya Alice tiba-tiba.
"Jaga ucapanmu itu, Alice! Kau bahkan lebih buruk dari sebutan jala*Ng." Ujar Arkan.
Mendengar itu Alice tertawa terbahak-bahak hingga membuat Arkan keheranan.
"Kau mengatai ku lebih buruk dari ******? Lalu di sebut apakah dengan wanita yang sudah merusak rumah tangga orang, Arkan?" Alice mulai memanas.
"Apa istimewanya dia, sehingga kau segitunya terhadapku, Arkan? dia hanya seorang wanita murahan yang merusak rumah tangga kita, tapi kenapa kau lebih membela nya daripada istri mu sendiri?" Sentak Alice.
"Istri? Apa kau sudah melakukan tugas mu sebagaimana seorang istri, hah!!!" Lagi-lagi Arkan membentak Alice.
Alice terdiam sejenak.
"Apa kurang ku Arkan, aku cantik, aku wanita karir sedang wanita itu?"
Arkan menghela nafas berat.
"Kau dan dia jelas berbeda jauh Alice. Dia wanita baik, sedangkan kau?"
"Sedangkan apa, Arkan? katakanlah!"
"Jangan berusaha menutupinya, Alice. Aku sudah tahu kelakuan busuk mu di belakangku!" Ungkap Arkan.
__ADS_1
"Kau yang memulai semua ini, Alice. Apa kau pikir aku bodoh, aku tahu jika kau juga bermain di belakangku!" Seru Arkan.
Alice membelalakkan matanya tak kala mendengar ucapan Arkan.
"Lantas mengapa malah kau yang merasa paling tersakiti? bukankah kita sama-sama menikmati permainan kita?" Tanya Arkan dengan senyum menyeringai.
"Kau jangan memfitnah jika tidak ada bukti, Arkan." Ujar Alice.
"Bukti? Kau mau bukti??"
Arkan meninggalkan Alice menuju ke ruang kerjanya dan tak lama kemudian pria itu sudah kembali dengan membawa map coklat di tangannya lalu melemparkannya tepat di wajah Alice.
"Tidak ada asap jika tidak ada api." Sambung Arkan.
Alice mengambil map yang jatuh lalu wanita itu membukanya dan nampak lah beberapa lembar foto kemesraan Alice dan beberapa pria asing.
"Arkan,.. ini tidak seperti yang kau lihat, Arkan." Ucap Alice terbata-bata.
"Kau bermain dengan para pria sebelum kita menikah Alice dan aku tahu itu. Tapi aku tidak ambil pusing ketika mengetahui itu sebab aku tidak mencintaimu." Ucap Arkan.
"Aku pikir setelah kita menikah kau akan berubah tapi ternyata kau masih juga bermain di belakang ku." Tutur Arkan panjang lebar.
"Pernikahan itu indah dan suci tapi mengapa kau mengotorinya, Alice. Aku memang tidak mencintaimu tapi bukan berarti aku harus menodai pernikahan kita." Ujar Arkan lagi.
Alice lagi-lagi diam mematung. Ada perasaan jengkel terhadap Arkan tak kala Arkan berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Lihatlah, kau diam tak bisa menjawab kan? karena semuanya memang benar!"
Alice yang sudah geram dan habis kesabarannya langsung saja melayangkan satu tamparan keras ke wajah Arkan.