
Hari demi hari berlalu hubungan antara Arkan dan Alina semakin asing.
Bahkan saat keduanya berpapasan, keduanya saling membuang muka seperti orang yang tidak pernah mengenal satu sama lain. Ada perasaan sakit saat Arkan tidak memperdulikan Alina.
Ingin sekali rasanya Arkan berlari dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang lalu menghirup wangi melati dari tubuh wanita itu. Namun apalah daya Arkan harus menahan itu semua sebab dia tidak ingin menyakiti Alina lebih jauh lagi
Di dalam ruangannya, Arkan tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, pikirannya terus saja teralih pada Alina.
Arkan mencoba menepis bayang-bayang wajah Alina. Tapi tetap saja tidak bisa, Arkan menyandarkan tubuhnya di kursi, pikirannya melalang jauh saat pertama kali dia dan Alina melakukan hubungan terlarang.
Ditengah lamunannya tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar. Arkan yang sedikit kaget dari lamunannya langsung saja memerintahkan orang tersebut untuk masuk.
"Delia....ada apa?" Tanya Arkan.
"Ini jadwal meeting kita hari ini..." Delia menyodorkan sebuah map ke atas meja Arkan.
"Batalkan semua." Ucap Arkan.
"Tapi Arkan, ini penting." Ujar Delia yang tak mengerti mengapa Arkan tiba-tiba membatalkannya.
"Jangan membantah, turuti apa kataku." Bentak Arkan.
Arkan bangun dari duduknya, ia lalu keluar dari ruangannya menyusuri setiap sudut berharap bertemu dengan wanita yang selama ini mengganggu pikirannya dan benar pria itu dapat menangkap sosok wanita yang ia rindukan itu tengah mengepel lantai.
Arkan lalu melanjutkan langkahnya menghampiri Alina.
"Alina, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Tanpa persetujuan dari Alina, Arkan menarik tangan Alina membawa wanita itu ke dalam ruangannya.
"Arkan, Lepaskan!" Alina menghempaskan tangan Arkan dengan kasar. "Kalau ada yang lihat bagaimana? Kau ingin tanggung jawab, hah?" Tanya Alina kesal dengan mata yang berkeliling. Benar saja, mata semua karyawan yang ada disekelilingnya menatap heran ke arah mereka berdua.
"Aku tidak peduli, lagipula aku bos nya disini, jadi aku berhak atas apa yang ku lakukan!" Arkan menarik paksa tangan Alina sementara Alina bersusah payah melepaskan cengkraman tangan Arkan.
Karyawan begitu heran mengapa Alina di tarik paksa oleh bos mereka tapi mereka tidak berani dan tidak mau ikut campur.
__ADS_1
"Cih....apakah karena wanita itu Arkan membatalkan semua meeting nya?" Ujar Delia yang begitu dongkol.
Setelah sampai ruangannya, Arkan lalu mengunci rapat pintunya.
Pria itu lalu mendorong kasar tubuh Alina hingga mendarat sempurna di atas sofa.
Ia menaiki tubuh Alina lalu menciumi setiap inci tubuh wanita itu.
Wangi yang sangat Arkan rindukan terasa begitu candu. Dengan kasar Arkan merobek baju Alina hingga membuat kancing bajunya terlepas.
"Arkan apa yang kau lakukan, aku mohon jangan lakukan ini, Arkan!" Pinta Alina yang sudah berurai air mata.
Alina menangis sejadi-jadinya, disaat Arkan memasukan kejantanannya ke dalam lembah miliknya. Meskipun Arkan dan Alina sudah pernah melakukan sebelumnya tapi tetap saja bagi Arkan ini terasa masih sempit.
"Sakit, Arkan. Tolong jangan kasar seperti ini." Rintih Alina.
Arkan tidak mengindahkan permintaan Alina, pria itu dengan ganas nya mencium setiap inci tubuh Alina dan mulai menghujamkan kejantanannya ke dalam lubang kenikmatan milik Alina.
Alina tidak bisa melawan karena Arkan terlalu kuat untuk wanita seperti dia. Akhirnya dengan sekuat tenaga , Alina mendorong tubuh Arkan dari atas tubuhnya hingga membuat Arkan jatuh terpental ke lantai. Arkan langsung berdiri dan menghampiri Alina.
"Kenapa kau menghindari ku?" Tanya Arkan dengan nafas turun naik.
"Apa kah kau senang dengan keadaan kita yang asing seperti ini? saling diam seperti orang yang tidak pernah mengenal?"
Alina menghela nafas panjang.
"Kukira aku bisa tetap tenang dan biasa saja dalam keadaan kita seperti ini, tapi nyatanya aku juga tidak bisa." Ucap Alina dengan wajah tertunduk.
Arkan membuang nafas kasarnya, ia lalu menundukkan pantatnya tepat di samping Alina.
"Maafkan aku Alina, aku sudah kasar denganmu tadi." Ucap Arkan dengan nafas tersengal-sengal.
"Tidak apa-apa, aku mengerti."
__ADS_1
"Apa kau merindukan ku, Alina?" Tanya Arkan.
Mendengar itu Alina langsung menegakkan pandangannya dan menatap Arkan dengan mata yang sudah berkaca-kaca sejak tadi.
"Em.......aku sungguh merindukanmu." Alina mengangguk pelan.
"Sekali lagi aku minta maaf, Alina." Arkan langsung memeluk Alina dengan begitu eratnya.
Tak terasa air mata Alina menetes membasahi kedua pipinya. Arkan menghapus air mata Alina, Arkan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Alina hingga jarak antara keduanya hanya menyisakan beberapa centimeter, Arkan mulai memagut bibir Alina dengan penuh nafsu.
"Aku akan melakukannya dengan lembut sayang." Bisik Arkan membuat bulu Alina merinding.
Wanita itu mulai pasrah menikmati setiap sentuhan yang dibuat Arkan. Selembut mungkin Arkan menyentuh tubuh Alina. Seakan pria itu menyalurkan setiap rindu yang bergejolak dalam dirinya.
Setiap inci tubuhnya hanya menyisakan tanda merah dari Arkan.
Keduanya hanyut dalam permainan hingga tak terasa hampir dua jam keduanya saling menumpahkan rindu satu sama lain lewat permainan siang ini.
Huft.....
Hari sudah mulai sore dan Alina masih berada di dalam ruangan milik Arkan.
"Aku ingin pulang!" Pinta Alina.
"Tunggulah sebentar! Tidak mungkin kau keluar dalam keadaan begitu."
Apa yang di katakan Arkan benar juga, keadaan Alina sudah acak-acakan bahkan baju seragamnya sudah robek akibat ulah Arkan.
"Arkan," panggil Alina.
"Ada apa?" Tanya Arkan.
"Apa setelah ini kau akan mencintaiku?" Tanya Alina.
__ADS_1
Arkan yang sedang membaca berkas mengalihkan pandangannya ke Alina.
Pria itu bangun dari duduknya sambil tersenyum menghampiri Alina yang sedang duduk di Sofa.