
Tak berhentinya Siska terus saja memuji menantunya yang terlihat semakin cantik.
Tidak dengan Arkan, sejak tadi ia hanya diam saja sembari menikmati makanannya tanpa memperdulikan ibunya yang terus memuji kecantikan istrinya itu.
"Alice, kalian sudah menikah selama enam bulan. Apa kalian tidak ada keinginan untuk mempunyai anak?" Tanya Siska tiba-tiba, membuat Alice berhenti menguyah.
Alice lalu menatap Arkan yang duduk di sampingnya, tapi Arkan lagi-lagi hanya diam sambil menikmati makanannya.
"Kami belum kepikiran untuk mempunyai anak, Bu." Jawab Alice sambil tersenyum tipis. "Bukankah begitu, Arkan?"
"Tentu saja, kami pun juga bisa hidup bahagia berdua tanpa seorang anak." Ucap Arkan.
"Tapi pasangan menikah harus mempunyai anak!" Sambung Haris.
"Betul sekali, jika tidak ada anak....." Belum selesai Siska berbicara, Arkan langsung memotongnya.
"Bisakah ibu berhenti?tidak adakah topik selain itu?" Tanya Arkan dengan wajah datar.
"Tanpa anak, ikatan pernikahan akan melemah." Ucap Siska.
Dengan kasar Arkan melepaskan sendok dan garpu yang sedang ia pegang. Pria itu meneguk segelas air putih, lalu membersihkan mulutnya dengan tisu.
Arkan bangun dari duduknya dan langsung melangkah pergi begitu saja.
__ADS_1
"Arkan....mau kemana kau? sarapan mu belum habis!" Kata Siska, tapi Arkan sama sekali tak menghiraukannya.
Sementara Alice hanya diam mematung melihat Arkan yang melangkah pergi.
"Arkan memang selalu begitu orangnya.....cukup maklumi saja sayang!" Kata Siska pada Alice.
"Tidak masalah ibu, kalau begitu Alice mau menyusulnya dulu." Ujar Alice bangun dari duduknya.
Saat dikamar, Alice mendapati Arkan yang sedang bersiap-siap untuk pergi. Dan dia pun langsung saja menegur Arkan.
"Kenapa kau sangat egois?" Tanya Alice sambil mendudukkan pantatnya di tepi ranjang.
"Bukan urusanmu!" Jawab Arkan singkat sambil memasang jam tangan.
"Cih....aku ini istrimu, tidak bisakah sedikit saja kau menghargai ku?" Tanya lagi Alice.
Alice sejenak terdiam. Bingung harus menjawab apa. Belum saja ia menjawab, Arkan kembali bersuara.
"Ketahuilah Alice, aku hanya ingin punya anak dari wanita yang kucintai saja. Dan tentunya itu bukan kau wanitanya!" Kata Arkan dengan tegas, kemudian ia berlalu begitu saja.
Alice mengerucutkan bibirnya, tak terima dengan perkataan Arkan yang baru saja ia dengar.
"Arkan benar-benar Sial*n, awas saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut kepadaku nanti." Seru Alice dengan perasaan kesal.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Arkan baru saja memarkirkan mobilnya di halaman kantor. Dia lalu melangkah masuk menuju ke arah lift karena ruangannya berada di lantai paling atas.
Baru saja ingin memencet tombol lift, tiba-tiba Arkan mendengar suara yang tak asing memanggil namanya. Pria itu lalu menoleh ke arah samping dan mendapati ada Alina yang berdiri tersenyum padanya.
Melihat Arkan menatapnya, Alina pun segera melangkah lebih dekat lagi.
"Kenapa kau main pulang saja tadi malam? kenapa tidak membangunkan ku dulu?" Tanya Alina.
Wajah Arkan menjadi tak enak kala mendengar pertanyaan dari Alina. Dia menoleh ke arah sekitar, memastikan tidak ada seorang pun yang mendengar.
"Karena aku tidak ingin menganggu tidurmu.Jadi maafkan aku, Alina." Jawab Arkan dengan pelan.
"Oh....benarkah?"
"Em.....Alina aku sedang buru-buru, mari kita bicara nanti saja!" Ucap Arkan.
Pria itu lalu masuk ke dalam lift meninggalkan Alina yang masih berdiri mematung menatapnya.
"Aneh....kenapa dia seperti orang yang menghindar?" Tanya Alina sambil mengangkat kedua bahunya.
Tanpa mereka sadari, percakapan mereka yang barusan, ternyata baru saja di dengar oleh Delia.
Delia adalah seorang sekretaris di kantor Arkan. Dirinya sendiri sudah lama memendam perasaan cinta kepada Arkan, hanya saja Delia tak berani mengungkapkannya.
__ADS_1
Hati Delia begitu panas tak kala mendengar apa yang ia dengar barusan. Sejak awal Delia memang tidak menyukai adanya Alina yang bekerja di kantor ini.
"Ternyata dugaan ku benar, Arkan dan Alina memang mempunyai hubungan yang lebih selama ini." Lirih Delia.